Perempuan dan Clash of Civilizations

Oleh : Nor Aniyah, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Generasi

Perempuan kembali menjadi sorotan karena menjadi pelaku dalam serangan teror di dua kejadian terakhir? Pelaku di Makassar (28/3/2021) adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah enam bulan lalu, dan tiga perempuan ditangkap karena diduga terkait dengan peristiwa tersebut. Sementara di Jakarta (31/3/2021), pelaku juga perempuan berusia 25 tahun (bbc.com).

Keterlibatan perempuan dalam tindak terorisme sebenarnya bukanlah hal baru, mengingat peristiwa yang sama pernah terjadi pada peristiwa bom Surabaya tahun 2018, yang bahkan melibatkan anak-anak. Namun, dua peristiwa terakhir seakan menguatkan klaim makin banyak perempuan yang terlibat tindak terorisme.

Aksi terorisme yang kembali muncul dengan pelaku perempuan muda, yang meninggalkan wasiat agar keluarganya meninggalkan riba, menolak demokrasi dan pemilu dan seterusnya. Hal ini seolah-olah, memberi stigma pada Muslim yang taat dan membawa keresahan pada umat Islam karena menjadi pembenar tindakan penggeledahan dan penangkapan muslim di berbagai tempat. Menjadi alasan mengkampanyekan feminism dan mendesakkan program moderasi beragama.

Mendesak pemerintah memberantas tuntas jaringan teroris sehingga tidak menjadi ‘fitnah’ bagi muslim dan ajaran Islam. Semestinya umat tetap kritis terhadap setiap hal yang mengalihkan dari pemahaman yang benar tentang syariat.

Dengan dalih terorisme dan radikalisme yang ada, negara Barat merasa absah dan berhak untuk melakukan tindakan apapun terhadap dunia Islam, supaya mau mengikuti kemauan mereka. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari politik dunia Barat yang berkeinginan menjaga dominasi untuk terus melakukan penjajahan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung seperti dalam hal politik, ekonomi dan pemikiran.

Malah sekarang tambah lagi stigma negatif terhadap umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran agamanya, sehinggga diarahkan agar setiap Muslim, Muslimah dan keluarganya menjadi jauh dari pemahaman Islam yang lurus. Fobia terhadap Islam, dan dipaksakan untuk menjadi Muslim yang moderat yang menerima pemahaman sekuler dan liberal dari Barat.

Sebenarnya, paham moderat lahir dari ideologi Kapitalisme. Yang menghendaki hilangnya agama dari pengaturan kehidupan. Agama sebatas mengatur wilayah privat saja. Sementara wilayah publik, diserahkan kepada para kapitalis.

Padahal war on terrorism maupun war on radicalism hanyalah kedok untuk maksud yaitu war on Islam. Karena pada faktanya hanya orang atau kelompok Islam saja yang disebut teroris atau radikalis. Sementara selain Islam tidak. Sementara di sisi lain, melalui slogan war on terrorism-nya, Barat telah menjadikan hal tersebut sebagai jalan untuk mengkriminalisasi ajaran Islam tak terkecuali konsep jihad.

Berita Lainnya
1 dari 240

Pada tahun 2007 Rand Corporation menerbitkan menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul Building Moderate Muslim Networks. Riset yang dikomandani oleh orientalis Angel Rabasa dan Cheryl Benard itu berisi berbagai rekomendasi bagi Amerika Serikat untuk melawan kelompok Islam radikal. Salah satunya adalah pemberian dukungan dan bantuan finansial kepada kalangan intelektual dan akademisi Muslim yang sekuler dan liberal.

Perlu pula kita sadari bahwa apa yang sekarang terjadi sesungguhnya adalah bagian dari ghazwul fikri (perang pemikiran) yang memang gencar dilakukan oleh negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat. Inilah fakta perang peradaban antara Islam dan Barat seperti yang diramalkan Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and Remaking of World Order. Framing negatif terhadap Islam melalui isu radikalisme dan terorisme tentu tidak bisa dilepaskan dari semua itu.

Sementara Kapitalisme yang kini memimpin dunia telah nyata terbukti gagal mewujudkan tatanan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera. Ketidakadilan justru terjadi di mana-mana. Kemiskinan masih mendera dan kedamaian menjadi hal yang sulit didapatkan.

Kaum perempuan Muslimah harus sadar posisi pentingnya dan tetap fokus pada penanaman kepribadian Islam, mendidik keluarganya taat syariah dan terus berikhtiar memperjuangkan Islam kaffah agar tidak ada celah menstigma Muslim dan ajaran Islam.

Allah SWT berfirman: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. at-Taubah [9]: 32-33).

Pertama kiranya penting untuk ditegaskan kembali bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai hidup manusia. Karenanya, Islam sangat melarang siapa pun membunuh manusia tanpa haq atau tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Maka siapa saja yang membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan syariah, ia akan mendapatkan hukuman qishash.

Islam memang mengharuskan setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan untuk menerapkan Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Namun, untuk dapat menerapkannya, seorang muslim haram melakukan kekerasan, karena Islam mengharamkan tindak kekerasan seperti pembunuhan, penganiayaan diri dan perusakan fasilitas umum.

Oleh karena itu, tindak terorism sebagaimana dalam terminologi Barat, tidak ada tuntunannya dalam Islam. Telah jelas dalam QS Al Maidah ayat 32, Allah SWT menyatakan bahwa membunuh seorang manusia tanpa hak, sama seperti membunuh manusia seluruhnya.

Bagi umat Islam secara keseluruhan harus disadari bahwa kondisi saat ini umat Islam yang begitu lemah tanpa pelindung. Karena sangat lemah inilah maka berbagai macam skenario jahat Barat begitu mudah dijalankan. Umat sekarang ini perlu pelindung dan persatuan umat sehingga menjadi kuat. Di sinilah pentingnya umat Islam saling bahu-membahu berjuang untuk hadirnya kembali sistem Islam yang menjadi pelindung dan pembawa rahmat untuk seluruh alam.

Oleh karena itu, kita umat Islam harus menyambut clash of civilizations tersebut melalui dakwah argumentatif yang berbasis nalar bukan teror. Sehingga nantinya akan jelas betapa mulianya sistem Islam dan betapa rusaknya sekularisme liberalisme yang dipropagandakan Barat. Ketenteraman akan terwujud jika syariah Islam diterapkan pada seluruh aspek kehidupan. Saat itulah kerahmatan Islam yang dijanjikan akan bisa dirasakan oleh seluruh manusia, Muslim maupun non Muslim.[]

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya