Status Pekerjaan Bukan Penghalang untuk Berkarya

Banjarmasin KP – Status kepegawaian di sebuah instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta tak jarang menjadi nuansa pembeda kepribadian antara seseorang dan orang lainnya.

Tak sedikit, karyawan dan staf di perkantoran merasa minder atau bahasa saat ini sering disebut insecure lantaran status kerja yang hanya sebatas kontrak atau honorer ketika menghadapi sebuah kondisi tertentu.

Ada banyak faktor yang menyebabkan rasa tidak percaya diri itu muncul dalam diri seseorang, mulai dari perbedaan besaran gaji yang diterima, hingga lingkungan kerja yang mayoritas dikelilingi oleh pegawai berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Muhammad Zahidi Bisyri Mutassimi, yang tidak lain adalah seorang tenaga ahli komunikasi dan informasi pada bagian Humas Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Kota Banjarmasin.

Pemuda kelahiran 25 Mei 1995 itu diketahui telah mencatatkan nama pada berbagai kejuaraan perlombaan, mulai dari kategori regional Kalimantan Selatan hingga even Balai Pelestari Cagar Budaya atau BPCB yang merupakan perpanjangan tangan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI).

Belum hilang nuansa kebahagiaan dari pencapaian juara II lomba pembuatan video Jalur Rempah Republik Indonesia yang diselenggarakan BPCB Kalimantan Timur dibawah naungan Kemendikbud RI pada akhir tahun 2020 lalu, kini ia dikabarkan kembali menorehkan prestasi serupa.

Baru-baru ini, pria yang akrab disapa Muhammad Zahidi dari Dinas Kominfotik Banjarmasin itu kembali berhasil menjuarai lomba pembuatan video dan resensi buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Tanah Laut.

Saat dibincangi, salah satu tenaga kontrak di lingkungan Pemerintah Kota Banjarmasin yang hampir berusia 26 tahun itu membeberkan resep rahasia dari prestasi yang berhasil diraihnya.

Yaitu, rasa percaya diri serta iringan doa dalam mengikuti perlombaan pembuatan video edukasi se Provinsi Kalimantan Selatan yang dimulai sejak Bulan April hingga awal Mei 2021 itu, Tentu ini menjadi kunci keberhasilan atas diraihnya predikat pemenang baginya.

Bahkan problem status pekerjaan dan besaran gaji tidak akan menggoyahkan rasa optimis yang sudah tertanam dalam sifat dan kepribadiannya sehari-hari, bagi pemuda yang akrab disapa Zahidi ini, kondisi serba keterbatasan yang dirasakan akan lebih bagus jika dijadikan sebagai sebuah pemicu semangat dalam dirinya untuk terus berkarya, khususnya di bidang pendidikan.

“Tak peduli apa itu status kepegawaian, mau itu kontrak, honorer atau PNS, yang penting ketulusan hati dalam bekerja dan mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengembangkan kemampuan diri. Jangan berhenti atau tidak stagnan hanya di satu titik,” ulasnya.

“Prinsip yang selalu saya pegang adalah jangan tanyakan kehidupan apa saja yang sudah didapat dari tempat kita bekerja. Tapi tanyakan pada diri kita apa yang sudah dapat kita berikan untuk tempat pekerjaan kita (Diskominfotik),” tekannya.

Pemuda dengan sapaan akrab Zahidi itu menceritakan, dalam proses pembuatan video pun tak semudah membalikkan telapak tangan, Ia bersama koleganya harus menghadapi bermacam kendala, mulai dari pemilihan konsep video, hingga penentuan lokasi pengambilan gambar.

Berita Lainnya
1 dari 2.771

“Yang paling berpengaruh kemarin itu saat proses pemilihan tempat syuting (pengambilan video),” bebernya.

Awalnya Zahidi dan koleganya sepakat untuk memakai sarana Ruang Baca Sejarah (RBS) milik Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang menjadi tempat dimana ia menimba ilmu sebelumnya.

Namun, ketika segala sesuatu sudah siap, tiba-tiba timbul keraguan dalam benaknya untuk memakai lokasi syuting yang ada di kampus FKIP ULM itu.

Rasa ragu tersebut membuat dirinya harus kembali berpikir agar bisa menyelesaikan apa saja yang diperlukan dalam pembuatan video.

Anak sulung dari empat bersaudara itu akhirnya memilih untuk berpindah ke tempat lain yang lebih mendukung sebagai lokasi untuk pengambilan video. Yaitu fasilitas ruang baca perpustakaan milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sehingga, mau tidak mau dirinya harus mengajukan izin secara prosedural kepada pimpinan SKPD pemilik fasilitas perpustakaan yang ada di Jalan A Yani, KM 6, Kota Banjarmasin ini.

“Izinnya sampai ke Ibu Kadis, alhamdulillah berjalan lancar tidak ada kendala yang berarti sampai semua proses take video selesai.” ujarnya.

Lalu, timbul pertanyaan, apakah rasa percaya diri yang dirasakannya itu merupakan efek dari predikat juara II yang pernah pernah diraihnya saat lomba sebelumnya?

Mengenai itu, ia mengakui bahwa pengalaman pernah menjuarai perlombaan yang digelar oleh instansi di bawah koordinasi Kemendikbud RI itu sedikit banyaknya pasti berpengaruh.

“Namun, setidaknya ini menjadi sebuah pembuktian dari sebuah karya, walaupun nilai hadiahnya tak sebesar sebelumnya, tapi rasa kepuasaan hati dan kepercayaan diri pasti meningkat, karena sudah diberi kesempatan masuk dalam ajang bergengsi se Kalsel ini,” tuturnya.

Kemudian, salah satu sifat yang menurutnya juga berperan besar dalam membangun sebuah pembuatan karya, terutama saat mengikuti sebuah perlombaan yakni, jangan pernah menganggap remeh peserta lain. Kemudian jangan pernah menjadikan nominal hadiah dan terakhir tidak memandang siapa atau instansi mana yang jadi penyelenggara.

“Kalau aku simpel ja, penuhi persyaratannya, setelah itu dikerjakan sebaik-baiknya. Karena dalam lomba apapun, selagi itu finishingnya positif, dan mampu dikerjakan secara maksimal, apalagi video resensi tentu bertujuan untuk mendongkrak hal positif seperti minat literasi, pasti saya ikuti,” pungkasnya.

Secara simbolis, penyerahan hadiah pemenang lomba tersebut digelar di Aula Lantai II Dispusip Tala dan diserahkan oleh Kepala Dispusip Tala, H. A.M. Rhoedy Erhansyah dan langsung diterima oleh Muhammad Zahidi selaku peserta yang berhasil menjadi juara I pada lomba tersebut.

Adapun video yang dibuat oleh Muhammad Zahidi adalah mengangkat tentang resensi buku yang berjudul Bandjarmasin Tempo Doeloe, karangan Mansyur, salah satu Sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat.

Buku tersebut juga menjadi salah satu kado terindah di perayaan Hari Jadi (Harjad) Kota Banjarmasin ke-492 pada tanggal 24 September 2018 silam. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya