Maksimalkan e-KTP, Buyut Habib Basirih Ciptakan Smart Checker

Banjarmasin, KP – Tak hanya melahirkan ulama, keturunan Habib Basirih ternyata juga ada yang menjadi teknisi dan menciptakan alat-alat berteknologi. Yakni Habib Fathurrachman Bahasyim.

Salah satu buyut dari ulama tersohor di tanah Banjar ini belakangan tengah viral lantaran dirinya telah menciptakan sebuah alat yang mampu memaksimalkan fungsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang notabenenya dimiliki setiap warga negara.

Dengan cekatan, Habib Fathurrachman memperlihatkan bagaimana alat yang ia beri nama Smart Checker itu bekerja saat ditemui awak media di kediamannya yang tepat bersebelahan dengan Kubah Habib Hamid Bahasyim atau dikenal sebagai Shohibul Basirih.

Sembari mempraktekkan kinerja alat ciptaannya, Habib Fathurrachman menjelaskan bahwa ide awal dari terciptanya teknologi Smart Checker tersebut adalah rasa prihatin dengan pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Ditambah adanya syarat bukti vaksinasi atau kartu vaksin yang harus ditunjukkan jika ingin beraktivitas, salah satunya ketika ingin masuk ke suatu daerah yang menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level IV, seperti Kota Banjarmasin.

Menurutnya, sekarang, masih banyak prosedur yang mengharuskan adanya fotocopy e-KTP untuk mengurus berbagai hal.

“Padahal, e-KTP yang diberikan Pemerintah ke kita ini sudah sangat canggih. Proyek puluhan triliun rupiah ini saya rasa harus dimaksimalkan fungsinya,” ucapnya menjelaskan.

Jika dikaitkan dengan program vaksinasi Covid-19. Habib Fathurrachman menilai, alat yang diciptakannya tersebut bisa mendeteksi siapa saja yang sudah atau belum menjalani vaksin.

Berita Lainnya
1 dari 3.573

“Jadi tidak perlu lagi harus mencetak kartu vaksin. Cukup e-KTP yang kita miliki ini saja cukup,” ujarnya.

Lantas bagaimana Smart Checker ciptaannya tersebut bisa mendata pemilik e-KTP yang sudah bervaksin atau belum?

Terkait hal itu, ia memaparkan bahwa kinerja dari alat pengecekkan yang ia ciptakan tersebut terkoneksi ke database yang isinya sudah terdapat data seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta nama dari pemilik e-KTP dengan jaringan internet.

Alat tersebut akan membaca data yang ada dalam chip e-KTP dan mengirimnya ke database. Kalau terdeteksi, lampunya berubah jadi hijau. Kalau tidak, warna lampunya jadi merah.

“Kita tekankan yang di terkonek ke alat ini masih database pribadi. Sebagai contoh di database saya masukkan data dari tiga e-KTP yang sudah divaksin. Jadi kalau e-KTP lain yang tidak masuk di sana (database) di scan, maka direspon dengan tulisan tidak dikenal atau belum divaksin,” paparnya.

Ia menekankan. Alat dan data base yang dipakai dirinya untuk menjalankan Smart Checker temuannya ini hanya sebuah simulasi.

“Kalau ini diadopsi pemerintah untuk mendata warga dalam sebuah program pemerintah misalnya vaksinasi, bansos atau program lainnya bisa saja dipakai. Asalkan terkoneksi dengan database,” imbuhnya.

Untuk membuat satu unit alat ini, Habib Fathurrachman mengaku hanya menghabiskan dana sekitar Rp 4 Juta rupiah saja. “Walaupun dipakai untuk database besar seperti Dukcapil atau yang lainnya, tetap modalnya segitu. Tinggal memaksimalkan jalur koneksinya saja,” ungkapnya.

Ia mengaku akan mematenkan temuannya tersebut agar bisa dikembangkan dan diproduksi massal jika Pemerintah Daerah atau Pemerintah Pusat melirik Smart Checker miliknya untuk digunakan dalam program pemerintah.

“Insyaa Allah jika ditawarkan untuk produksi massal kita siap saja,” pungkas pria berusia 48 tahun ini. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya