Saat Warga Pelosokpun Bisa Menikmati Hewan Kurban

Oleh Ikhwan Wahyudi
Pemerhati Sosial

Pada Idul Adha 1422 Hijriah warga yang bermukim di Surau Bungo Tanjuang, Nagari Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat tersenyum bahagia karena bisa menikmati hewan kurban pada tahun Masehi 2021 ini.

Sebelumnya, bertahun-tahun sebanyak 300 jiwa yang bermukim di daerah itu tidak pernah merasakan daging kurban karena keterbatasan dan sulitnya akses menuju daerah itu.

Berjarak sekitar 120 kilometer dari Kota Padang, Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat, selepas jalan aspal, menuju Surau Bungo Tanjuang hanya ada jalan tanah bisa dilalui satu kendaraan dengan sisi kanan dan kiri hutan dan jurang.

Kini warga setempat akhirnya bisa merayakan kegembiraan Idul Adha setelah Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (Lazis) Mitra Umat Madani menyalurkan sapi yang dihimpun dari para pekurban dari seluruh Indonesia.

Sepekan jelang Idul Adha sebuah pesan singkat masuk ke telepon Direktur Lazis Mitra Ummat Madani Elfiyon Tanjung.

“Pak surau kami belum ada kurban, jangan lupakan kami,” demikian isu pesan itu.

Elfiyon dan tim pun segera menindaklanjuti dengan melakukan survei ke lokasi dan ternyata ditemukan ada 300 jiwa di surau tersebut yang sudah bertahun-tahun tidak menikmati hewan kurban.

Pihaknya setiap Idul Adha punya program kurban ke pelosok melihat fenomena hewan kurban menumpuk di perkotaan sementara ada banyak daerah di pelosok yang malah tidak tersentuh.

Pada tahun ini, ia fokus mengirim hewan kurban ke empat daerah, yaitu Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Solok Selatan dan Kepulauan Mentawai.

Salah satu daerah yang ia temukan adalah di Surau Palak Pisang, Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman yang sudah 20 tahun tidak pernah menyembelih hewan kurban.

Tidak hanya itu di Surau Paladangan, V Koto, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman juga mengalami hal serupa.

Berdasarkan temuan di lapangan tidak adanya penyembelihan hewan kurban di beberapa surau yang ia temukan karena mayoritas profesi warga setempat adalah petani.

“Biasanya mereka hanya mendapatkan limpahan hewan kurban dari masjid lain,” katanya.

Selain itu tidak ada yang menggerakkan dan kondisi ekonomi warga yang sulit sehingga hanya berharap kiriman kurban dari perantau.

Pada tahun ini tidak kurang dari 40 ekor sapi dan 19 kambing yang dikirim ke pelosok. Bahkan, termasuk hingga ke negeri Palestina.

Elfiyon mengakui sejak rutin mengirimkan hewan kurban pada daerah yang sebelumnya tidak pernah ada lambat laun mulai ada perkembangan menggembirakan.

“Secara berangsur-angsur warga setempat mulai berinisiatif untuk berkurban atau pun mencarikan donatur untuk berkurban,” kata dia.

Ini dijumpai di di Surau Batuang Kudu Gantiang di V Koto Timur Kabupaten Padang Pariaman yang pada dua tahun lalu tanpa hewan kurban.

Tahun berikutnya sudah tumbuh lima orang peserta. Demikian pula Surau Palak Pisang Sintoga, dari nol kurban dan lama tidak ada kurban, tahun lalu sudah muncul empat orang peserta.

Menariknya, ada seorang nenek bersusah payah mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil ladangnya agar bisa berkurban.

Berita Lainnya

Menjadi Pejuang Anti Hoax

Peran Digital Native pada Digital Leadership

1 dari 330

“Bahkan ada kisah seorang pengepul barang bekas berusaha berkurban karena tak ingin setiap tahun hanya menjadi penerima daging kurban,” kata Elfiyon

Untuk mengidentifikasi daerah yang belum tersentuh pihaknya melakukan survei sebulan sebelum Idul Adha.

“Biasanya ada yang sama sekali tidak ada peserta kurban, atau ada tapi hanya satu atau dua ekor kambing sehingga digenapkan menjadi seekor sapi,” katanya.

Pada sisi lain ia menemukan ada komplek perumahan di perkotaan yang hewan kurbannya berlebih sementara masyarakat sekitar kondisinya mampu.

“Ini tidak lepas dari pemahaman jika berkurban harus melihat darah dan hewannya langsung sehingga kurban menumpuk di perkotaan,” kata dia.

Ia terus berharap pengurus masjid mengedukasi jamaah bahwa saat berkurban tidak selalu harus melihat darah hewan kurban dan masih banyak daerah-daerah di pelosok yang belum tersentuh kurban.

Hakikat kurban, kata dia, adalah berbagi dan jika masyarakat kesulitan mengirim ke daerah yang belum terjangkau ada banyak lembaga yang bisa membantu.

Tabungan Kurban

Menyiasati kondisi ini Lazis Mitra Ummat Madani menggagas program tabungan kurban yang dapat diangsur selama setahun sebelum Idul Adha.

Dengan demikian masyarakat bisa mencicil dan sejak jauh hari bisa ditinjau lokasi yang paling membutuhkan untuk didistribusikan.

Salah seorang warga Nanggalo Padang Amir turut serta menjadi peserta tabungan kurban.

Pria berusia 80 tahun yang merupakan pensiunan guru itu sejak 2016 rutin menjadi peserta tabungan kurban dengan menyisihkan uangnya setiap bulan.

“Kapan lagi saya bisa berkurban, siapa tahu umur saya pendek,” kata dia sebagaimana diceritakan Elfiyon

Lain lagi kisah Indah Andrijasari, warga Malang yang uangnya sejak 2016 ditabung dan rutin menjadi peserta kurban lewat Lazis Mitra Ummat Madani.

Melalui Program Tabung kurban ke pelosok daerah Indah menyisihkan penghasilan bulanannya dan dititipkan sebagai tabungan kurban sekaligus donasi orang tua asuh.

Saat ditanyai mengapa menabung kurban setiap bulan dan tidak mendaftar saja jelang Idul Adha, Indah menjawab ingin mendapatkan pahala kurban sepanjang tahun.

Namun di penghujung Juni 2021, kabar duka itu datang, Indah telah meninggal dunia namun tabungan kurbannya telah lunas bahkan terdapat sisa untuk 2022.

Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin yang juga Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI masa bakti 2020-2025 mengajak seluruh umat Islam memaknai perayaan Idul Adha sebagai momentum berbagi kebaikan ke sesama.

Keteladanan Nabi Ibrahim saat “mengorbankan” anaknya Ismail, menjelaskan kepada umat Islam tentang makna pengorbanan tersebut.

Karena itu, Idul Adha yang berada dalam situasi pandemi Covid-19 hendaknya dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan kurban.

Namun, justru dapat memperbanyak amal ibadah dengan berbagi kebaikan dan membantu sesama melalui apa yang dimiliki, sehingga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pengorbanan terhadap sesama, karena pandemi Covid-19 telah berdampak pada ekonomi dan sosial masyarakat.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya