Fahrul Memilih Pindah Jukungnya ke Darat

Banjarmasin, KP – Pamor Pasar Terapung Muara Kuin yang mulai perlahan redup memaksa Fahrul untuk sedikit memodifikasi profesinya sebagai penjual buah di Pasar Terapung dengan membuat jukung dorong.

Alhasil, kini jukung buatan Fahrul itu bisa dengan leluasa berselancar di jalanan.

Jukung, yang dibuat lelaki 55 tahun itu panjangnya hampir dua meter. Dibuat lengkap dengan atapnya. Tampilannya cukup mencolok, lantaran jukung itu hanya bisa berjalan apabila didorong.

Ya, bila jukung identik dengan dayung dan air, Fahrul menggantinya dengan ban atau roda yang ada persis di bawah lambung jukung untuk bisa meluncur di daratan.

Tidak hahya itu, di jukung modifikasi fahrul itu juga ada satu tiang besi di bawah lambung jukung atau tepatnya di depan badan jukung yang jadi tumpuan, agar jukung bisa berdiri sempurna ketika berhenti didorong.

“Kalau mau jalan, cukup tarik tali ini. Tiang besi pun masuk ke dalam badan jukung. Tinggal dorong lagi,” ucapnya.

Saat dibincangi Jumat (24/9) pagi, tak jauh dari makam Raja Banjar, Sultan Suriansyah, di kawasan Jalan Kuin Utara, Fahrul tampak asyik menjajakan buah-buahan.

Ada nanas, pisang, rambutan, jeruk, hingga kecapi. Ada pula kerajinan tangan, berupa miniatur pedagang Pasar Terapung. Semua barang dagangannya itu tampak memenuhi jukungnya.

Jauh sebelum membuat jukung dorong, Fahrul menceritakan, tak kurang 20 tahun dirinya berdagang di Pasar Terapung Muara Kuin.

Tiap hari, ia mengayuh jukung dari rumahnya di kawasan Jalan Pangeran, menuju Muara Kuin. Membawa dan menjajakan ragam buah-buahan, lalu menawarkannya kepada para wisatawan.

Namun kini, seiring berjalannya waktu, pamor Pasar Terapung Muara Kuin kian meredup. Banyaknya pedagang tak sebanding dengan banyaknya pengunjung.

Saat itulah, ia juga memutuskan untuk berjualan di darat. Tujuannya tentu agar dagangan yang dijajakannya cepat laku.

Agar tidak menghilangkan ciri khas Pasar Terapung, gerobak dorong itu pun diubah bentuknya menjadi jukung.

Berita Lainnya
1 dari 3.707

“Jukung ini rampung dibuat sejak awal tahun tadi. Tepatnya, ketika banjir melanda sebagian wilayah di Kota Banjarmasin,” jelasnya.

“Dibuat sewaktu senggang saja dan ketika ada rezeki lebih. Sekarang, kalau saya ingin berjualan di air, saya tinggal pakai jukung beneran. Kalau di darat, saya pakai jukung yang ini,” tambahnya.

Lantas, apakah Fahrul masih berjualan di Pasar Terapung Muara Kuin? Ia menjawab masih. Hanya saja, tak sesering dahulu. Dalam sepekan, hanya satu atau duakali. Tepat di akhir pekan.

“Lebih banyak berkeliling dengan jukung dorong ini. Hampir tiap hari, dari pagi sampai jam 4 sore,” ungkapnya.

Seperti diketahui. Meredupnya pamor Pasar Terapung Muara Kuin, membuat Pemko Banjarmasin mengambil sikap.

Di tahun 2020, tepatnya pada 11 Januari lalu, pemko meresmikan Pasar Terapung yang berada di siring seberang Kompleks Makam Sultan Suriansyah.

Pedagang yang berada di Muara Kuin direlokasi ke kawasan tersebut.

Di situ, pemko tak memakai nama Pasar Terapung Muara Kuin, melainkan menjadi Pasar Terapung Muara Alalak. Alasan pemko, lantaran posisinya berada persis di daerah Kuin dan daerah Alalak.

Saat peresmian itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan bahwa upaya yang dilakukan pihaknya bertujuan menghidupkan kembali salah satu warisan budaya sungai, Pasar Terapung.

“Pasar terapung adalah brandingnya Kota Banjarmasin. Ketika berbicara tentang pasar terapung, maka ingat dan datang ke Kota Banjarmasin,” ucapnya.

Lantas, bagaimana kondisinya kini? Rupanya, keberadaan Pasar Terapung yang baru itu juga tak bisa bertahan lama. Bahkan tak sampai setahun berjalan.

Hal itu diungkapkan oleh salah seorang warga setempat, Fahim. Menurutnya, kendala yang dialami pedagang sama seperti yang terjadi di Pasar Terapung Muara Kuin. Sepi pembeli.

“Hasilnya, para pedagang lebih memilih berjualan di Pasar Terapung di kawasan Siring Piere Tendean, atau kembali ke Pasar Terapung Muara Kuin,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Fahrul. Ia pun mengaku sempat berjualan di situ. Tapi tidak lama. Lantaran menurutnya lebih nyaman berjualan sambil mendorong jukung. Atau kembali mengayuh ke Muara Kuin dan Siring Piere Tendean.

“Apalagi saat masih pandemi seperti ini. Tapi meski sepi pembeli, saya bersyukur setidaknya masih ada pemasukan yang bisa dibawa pulang ke rumah,” tutupnya. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya