Aksesoris Produksi Seorang Guru Tembus ke India dan Amerika

Bermodalkan uang tak sampai Rp 100 ribu, Rini membeli 1 set tang kerajinan dan beberapa kawat murah berbeda ukuran dari toko bangunan. Termasuk, beberapa manik-manik dari toko kerajinan.

BANJARMASIN, KP – Rini Hidayati Jewelry merupakan usaha kecil mandiri di bidang aksesoris dan perhiasan. Sebuah bisnis yang dimulai dari rasa suka dan hobby pada kerajinan tangan.

Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) yang satu ini memproduksi perhiasan dan aksesoris buatan tangan berbahan batu dan kawat tembaga.

Usaha ini berawal, ketika dulu, Rini sapaannya, owner dari Rini Hidayati Jewelry tertarik dan ingin memiliki sebuah aksesoris yang dilihatnya. Namun, profesinya yang hanya sebagai pekerja lepas guru honorer, memupus keinginannya untuk memiliki.

“Harga aksesoris tersebut ternyata cukup mahal. Sangat jauh dari kata terjangkau bagi saya untuk membelinya saat itu. Sejak itulah, saya ingin sekali bisa membuat sendiri,” ujarnya pada Kalimantan Post, Selasa (21/9).

Rini mengenal industri aksesoris kawat ini sekitar 5 tahun yang lalu, dan langsung tertarik untuk mencoba membuatnya. Bermodalkan uang tak sampai Rp 100 ribu, Rini membeli 1 set tang kerajinan dan beberapa kawat murah berbeda ukuran dari toko bangunan. Termasuk, beberapa manik-manik dari toko kerajinan.

“Bagi saya, bisa membuat bros untuk digunakan sendiri saja sudah senang. Jadi, tidak terpikir untuk menjualnya waktu itu,” ucap Rini, mengenang awal dirinya merintis usaha.

Sejak itu, katanya lagi, dirinya mulai bersemangat untuk mempelajari teknik dasar membentuk kawat secara otodidak dari youtube.

“Setiap selesai membuat satu karya, saya coba upload di akun instagram dan facebook pribadi saya. Ternyata, beberapa teman dekat tertarik membeli. Saya jual dengan harga terjangkau, sekedar bisa membeli bahan baku dan belajar kembali,” ungkap Rini.

Ketika mempunyai modal cukup dan merasa kualitas aksesoris buatannya sudah meningkat, Rini memberanikan diri untuk membeli bahan kawat dan batu dengan kualitas premium.

Berita Lainnya
1 dari 969

Sebagian besar batu-batuan permata diordernya secara online dari pulau Jawa. Beberapa bahan batuan lagi didapat dari pasar batu lokal di CBS di Martapura.

“Saya menggunakan kawat tembaga, sementara batuan alam dan permata dari berbagai daerah di Indonesia. Perlu berlatih intensif selama 6 bulan untuk menguasai teknik dasar, dan 1 tahun berikutnya untuk mengembangkannya menjadi produk dengan ciri khas saya sendiri. Lama belajar, sangat dipengaruhi oleh motivasi diri masing-masing,” bebernya.

Batu-batuan yang digunakan Rini, biasanya batu alam dan permata, seperti batu Druzy, Pacitan, Calcedon, Red Borneo, Kecubung, Opal, Sodalite, Labradorite, dan lain-lain.

Produk olahanya pun bermacam-macam, seperti kalung, gelang, cincin, bros dan masker konektor. “Harga bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 2 juta, tergantung bahan baku, kesulitan dan lama pembuatannya. Contohnya bisa dilihat di Instagram Rini Hidayati Jewelry,” tuturnya.

Menurutnya, nilai jual aksesoris kawat dan batuan permata ini lebih tinggi dari pada produk rajut atau produk kerajinan tangan lainnya. Hal ini disebabkan, lantaran masih belum banyak yang menggeluti bisnis ini.

Selain itu, tidak ada persaingan tak sehat, yang saling merendahkan nilai produk demi mendapatkan konsumen.

“Proses pengerjaan juga cepat, jam kerja tidak mengganggu pekerjaan utama saya sebagai guru. Sementara, pemasaran tidak hanya terbatas pada pasar lokal saja, tapi juga pasar internasional menjadi pertimbangan,” imbuhnya.

Selain pasar dalam negeri, warga Jalan A Yani, Km 7 Gang Keladan Indah No. 49, Kertak Hanyar ini, juga sering mendapat pesanan dari luar negeri, seperti India dan Amerika.

“Bahkan, beberapa teman crafter saya lebih memilih pasar internasional sebagai target utama pemasaran produk mereka dengan penghasilan yang sangat memuaskan,” tambahnya.

Bagi Rini, bisnis aksesoris dengan media kawat tembaga dan batuan permata ini sangat menjanjikan prospek kedepannya.

“Dari hanya bermodal 100 ribu, sekarang bisnis ini cukup berkembang. Alhamdulillah, saat ini omzet rata-rata antara Rp 4 juta sampai Rp 8 juta per bulan,” tuntasnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya