Banjarmasin, KP – Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammas Arsyad Al Banjary (MAB) tidak terburu-buru melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah pandemi Covid-19.
Kendati keluar Surat Edaran Nomor 4 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka tahun akademik 2021/2022, dimana Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) melalui Ditjen Dikti Ristek mengeluarkan panduan untuk seluruh Perguruan Tinggi (PT), dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.
Dimana ada enam poin penting yang menjadi acuan dalam PTM, diantaranya yang menyatakan bahwa PT pada wilayah PPKM level 1, 2 dan 3 yang bisa melaksanakannya. Dimulai pada semester ganjil, tahun akademik 2021/2022.
Menyikapi surat edaran tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Kalsel telah melakukan berbagai persiapan, seperti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang menjadwalkan PTM pada pertengahan Oktober 2021 dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam (STIHSA) pada awal November 2021.
Akan tetapi kebijakan tersebut, bagi kampus Uniska Arsyad Al Banjary tidak terburu-buru melaksanakan PTM.
Wakil Rektor I Uniska, Dr Mohammad Zainul mengatakan, pihaknya khawatir pelaksanaan PTM tidak berlangsung lama, sehingga berdampak terhadap mahasiswa asal luar Kota Banjarmasin.
Karena, sangat dimungkinkan PTM berjalan dalam dua atau tiga pekan ke depan, namun tiba-tiba ada kebijakan baru dari pemerintah menunda kembali dan menghentikan PTM dengan alasan peningkatan kasus Covid-19.
“Dikhawatirkan mahasiswa dari luar daerah yang datang untuk mengikuti PTM, namun hanya beberapa waktu kemudian dihentikan karena alasan Covid-19,” ujarnya.
Padahal mereka sudah mengeluarkan ongkos yang besar untuk datang ke Banjarmasin, untuk membayar sewa rumah dan lainnya, namun terpaksa batal oleh kebijakan baru, sehingga menjadi persoalan bagi kampus.
“Kita tunggu kondisi lebih kondusif dengan melihat perkembangan kasus Covid-19 di Banjarmasin maupun Kalsel, agar PTM bisa berjalan normal dan tidak dihentikan di tengah jalan, seperti pengalaman beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Dikatakannya, pelaksanaan PTM untuk perguruan tinggi juga tidak semudah tingkat SMP maupun SMA, karena PT memiliki mahasiswa yang berasal dari berbagai provinsi luar Kalsel.
“Kalau di Banjarmasin sudah PPKM level tiga atau dua, bisa jadi asal daerah mahasiswa masih level empat,” ucapnya.
Berbeda ketika halnya seperti SMA, yang kebanyakan siswanya berada di kota Banjarmasin atau masih di dalam Kalsel. “Ini yang juga masih kami pertimbangkan,” jelasnya.
Adapun perkuliahan saat ini dengan sistem yang dilakukan di Uniska dengan dua cara, yakni daring dan luring. Pembelajaran luring khusus pada kegiatan praktik, bimbingan hasil penelitian, tesis dan juga ujian.
“Khusus perkuliahan sementara ini masih online, tapi tidak menutup kemungkinan akan tatap muka,” tambahnya.
Zainul juga mengungkapkan dalam waktu dekat rencananya Rektorat ingin mengundang semua dekan di lingkungan Uniska MAB untuk membicarakan kemungkinan dilaksanakannya perkuliahan offline sambil melihat stabilitas perkembangan pandemi covit 19.
“Bila perkembangan kasus Covid-19 sudah benar-benar mereda, kita juga akan laksanakan PTM,” pungkasnya. (zak/K-7)















