Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Digitalisasi Keguruan

×

Digitalisasi Keguruan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang utama. Berbagai komponen pendidikan lainnya, seperti kurikulum, sarana prasarana, dan lainnya tidak akan berarti apa-apa, jika tidak ada guru yang menerapkan dan menggunakannya.

Karena demikian pentingnya seorang guru, telah disepakati bahwa guru merupakan tenaga profesional yang membutuhkan berbagai persyaratan yang menjamin profesinya itu dapat dilaksanakan dengan baik.  Persyaratan profesi tersebut terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.

Saat ini masyarakat termasuk para guru sudah memasuki zaman atau eranya digital, yaitu suatu era yang sudah melampaui era teknologi komputer.

Di era digital ini, keberadaan seorang guru sebagai pendidik profesional dengan utama mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik harus selalu ditingkatkan kemampuan digitalnya. 

Jika menyimak perkembangan pasar teknologi saat ini, bahwa jumlah penjualan komputer saat ini sudah cenderung menurun dan terkalahkan oleh jumlah penjualan teknologi digital handphone yang dikenal sangat smart.

Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya sejumlah kelebihan teknologi digital dibandingkan komputer atau laptop. Dari segi isi atau programnya, teknologi digital smartphone lebih lengkap dibandingkan komputer; dari segi pelacakan dan sistem kerjanya dalam mencari data nampak lebih cepat, dari segi harganya lebih terjangkau; dari segi bentuk dan besarannya lebih simpel dan bisa disimpan disaku baju, dari segi ongkos operasinalnya lebih ringan dan dari segi mobilitasnya lebih fleksibel.

Dengan berbagai kondisi objektif ini, sudah dapat dipastikan, bahwa jumlah masyarakat yang menggunakan teknologi digital akan jauh lebih banyak, hingga ke peloksok pedesaan dibandingkan dengan penggunaan teknologi komputer. Tidak hanya itu, ekspansi dan daya inovasi teknologi digital smartphone jauh juga lebih cepat. Ia benar-benar mengikuti selera masyarakat, bahkan jauh melebihi selera dan imajinasi masyarakat.

Baca Juga:  Yuk Bergerak Sebelum Kian Rusak!

Teknologi digital telah menawarkan beragam komunikasi, yakni  selain dalam  komunikasi dengan voice dan sms, juga bisa melalui facebooks, whatsApp, you tube, instagram, dll.

Selain dapat mengirim data, teknologi digital juga dapat menyimpan data hampir tanpa batas, menyediakan data melalui Google; bisa mendengarkan musik, bacaan ayat-ayat al-Qur’an digital, doa, gruping tadarusan dan tahfidz al-Qur’an, kirim pesan puisi, doa, taushiyah, mengecek tabungan di bank, transaksi, dan lain sebagainya.

Guru Digital
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa sebagai salah satu syarat guru profesional di era digital, adalah seorang guru yang selain memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional sebagaimana telah disebutkan di atas, juga harus memiliki wawasan, ketertarikan, kepedulian, kepekaan, kesukaan, serta kemampuan dan keterampilannya dalam menggunakan menggunakan teknologi digital. Penggunaan teknologi digital ini dinilai sangat penting karena merupakan sebuah proses revolusi yang mau tidak mau harus dijalani. Alvin Toffler misalnya membagi masyarakat ke dalam masyarakat agraris (agricultural society), masyarakat industri (industrial sociey) dan masyarakat informasi (informatical society).

Masyarakat agraris ditandai oleh pola hidup yang berorientasi pada masa lalu, kurang menghargai waktu, bekerja tanpa perencanaan, komunikasi secara face to face, ukuran kekayaan pada tanah dan hewan ternak, dan menggunakan teknologi sederhana yang bisa didaur ulang (re-cycle) dengan alam secara cepat.

Sedangkan masyarakat industri, ditandai oleh pola hidup yang berorientasi pada masa depan, sangat menghargai waktu, bekerja dengan perencanaan, komunikasi jarak jauh, ukuran kekayaan pada penguasaan mesin industri, dan menggunakan teknologi canggih yang sulit didaur ulang.

Sementara itu, masyarakat informasi, selain ditandai oleh ciri-ciri masyarakat industri juga ditandai oleh penggunaan teknologi penerima, penyimpan, pengolah dan pengirim data yang canggih (komputer dan laptop, dan kini teknologi digital yang dapat memainkan peran melebihi kemampuan komputer dan laptop dalam berbagai aspeknya.

Baca Juga:  Pengarusan Islamofobia Ancam Generasi

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini, nampaknya harus melayani ketiga model masyarakat tersebut. Melayani model masyarakat agraris lebih mudah dibandingkan menghadapi masyarakat industri, dan menghadapi masyarakat informasi lebih sulit dibandingkan dengan menghadapi masyarakat industri.

Hadirnya ketiga model masyarakat ini, akan merubah paradigma yang mendasari berbagai komponen pendidikan. Konsep belajar mengajar pada masyarakat informasi bukan lagi dengan cara transfer of knowedge atau transfer of skill, melainkan lebih ditekankan pada menggerakan, memotivasi, menjembatani, memfasilitasi, agar peserta didik tergerak melakukan berbagai kegiatan guna memperoleh pengetahuan yang dikehendakinya yang selanjutnya diberikan penguatan, pengayaan, atau perbaikan oleh guru.

Demikian pula paradigma yang mendasari konsep kurikulum dan silabus, sumber bahan ajar, lingkungan dan evaluasi pendidikan juga mengalami perubahan, dan semua harus berbasis sesuai keadaan masyarakat.

Jika selama ini para guru terbiasa bertugas melaksanakan pekerjaan profesionalnya dengan paradigma pendidikan yang berbasis masyarakat agraris dan industri, maka saat ini, para guru harus melaksanakan pekerjaan profesionalnya dengan paradigma pendidikan yang berbasis informasi digital.

Merubah paradigma dari agraris ke industri, dan dari industri ke informasi, bukanlah pekerjaan yang mudah karena selain membutuhkan perubahan sikap mental, mindset, pola pikir, paradigma, juga membutuhkan sarana prasarana, biaya dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, para guru harus siap untuk berani keluar dari kebiasaan lama (out of the box).

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa kondisi objektif dan gagasan-gagasan inovatif dan akseleratif dalam bidang pelayanan pendidikan yang berbasis digital technology, maka mau tidak mau seorang guru profesional harus menguasai teknologi digital tersebut dan menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran sebagai media yang keberadaannya sebagian dapat menggantikan atau membantu peran guru terutama pada aspek pengajaran yang bertumpu pada transfer of knowledge and tekhnology and skill, namun tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik, yang bertugas membentuk karakter, mental, kepribadian, sikap dan tabi’at melalui penanaman nilai-nilai luhur, yang berbasis pada agama dan  nilai-nilai budaya luhur yang dilakukan dengan cinta kasih, melalui keteladanan, bimbingan, latihan, pembiasaan dan sebagainya.
 

Iklan
Iklan