Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Menanggulangi Problematika Remaja pada Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Hj. Noor Miyati, S. Ag, M.Pd.I
Guru PAI SMP Negeri 13 Banjarmasin

Kemunculan virus corona atau yang lebih dikenal dengan istilah Covid-19 di seluruh penjuru dunia pada tahun 2019 dan mulai terdeteksi di Indonesia pada tahun 2020 telah memberikan dampak perubahan yang tidak sedikit bagi kehidupan umat manusia. Perubahan ini terjadi hampir di setiap aspek kehidupan manusia. Dimulai dari tingkat populasi umat manusia yang berkurang drastis sejak kemunculan virus ini hingga proses pembelajaran yang dipaksa beralih ke sistem daring guna mencegah penyebaran virus Covid-19 ini dan hal ini tentunya berlaku di seluruh dunia.

Peralihan sistem pembelajaran yang mulanya dilakukan dengan tatap muka di sekolah ke sistem pembelajaran daring ternyata memberikan dampak signifikan bagi kehidupan remaja. Sebuah survei yang dilakukan oleh Child Mind Institute mengungkapkan bahwa para orang tua menyaksikan bagaimana pandemi ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental anak mereka. Dikemukakan bahwa kecemasan (40 persen) dan depresi (37 persen) merupakan hal yang paling banyak dialami oleh para remaja selama proses pembelajaran daring dilakukan (2020 Children’s Mental Health Report: Telehealth in an Increasingly Virtual World | Child Mind Institute, n.d.). Selain itu, pembelajaran daring yang sangat bergantung pada penggunaan smartphone dan internet membuat para remaja kesusahan dalam mengatur waktu mereka sehingga membuat mereka adiktif dan abai terhadap hal-hal diluar smartphone mereka (Truzoli et al., 2020).

Segala permasalahan yang ditimbulkan pandemi Covid-19 ini terhadap para remaja tidak bisa terlepas dari karakteristik remaja itu sendiri. Masa remaja dikenal dengan masa peralihan antara masa anak-anak menuju ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja tidak hanya mengalami perubahan drastis pada fisik mereka, tetapi juga perubahan pada psikis mereka. Remaja mulai melepaskan diri dari ikatan dengan orang tua mereka dan mulai beradaptasi dengan lingkungan sosial dan masyarakat yang ada di sekitar mereka. Hal ini ditambah dengan kecenderungan remaja yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial tanpa mempertimbangkan efek yang akan mereka terima nantinya. Oleh karena itu, perubahan drastis yang dibawa oleh virus Covid-19 ini bisa sangat mempengaruhi remaja, khususnya terhadap kesehatan mental mereka dan bagaimana mereka mengisolasi diri dari lingkungan masyarakat yang ada di sekitar mereka disebabkan sifat adiktif terhadap ponsel mereka yang semakin menjadi-jadi selama pandemi Covid-19 ini. Hal ini dikaren
akan kecenderungan usia dan kerentanan mental mereka.

Permasalahan ini tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Segala gangguan yang diterima oleh remaja, baik itu secara fisik maupun mental akan sangat memengaruhi tumbuh kembang mereka. Remaja adalah harapan bangsa dan agama karena kelak merekalah yang akan melanjutkan estafet perjuangan dan pembangunan agama, bangsa dan negara. Oleh karena itu, dalam konteks ini persiapan dan pematangan diri remaja haruslah dilakukan. Persiapan diri, baik secara fisik maupun mental akan diterima oleh para remaja melalui pendidikan yang sesuai. Pendidikan yang bisa memberikan bekal bagi mereka untuk menghadapi segala permasalahan yang muncul selama pandemi ini berlangsung.

Model pendidikan yang paling cocok dan sesuai dengan kebutuhan remaja selama pandemi ini adalah pendidikan agama Islam. Hal ini dikarenakan kehadiran agama sangat erat hubungannya dengan usaha untuk menciptakan hidup bahagia, karena hidup bahagia ini akan membantu mereka untuk menghadapi segala permasalahan selama pandemi virus Covid-19 ini. Bagi jiwa yang mengalami kegelisahan, agama akan memberi jalan dan menjadi penyejuk rohani. Banyak yang sudah membuktikan bahwa dengan beragama dan menjalankan ajaran agama memberikan ketenangan jiwa. Pendidikan agama Islam bukan hanya sebuah bentuk pendidikan yang diajarkan guna mendapatkan nilai atau penghafalan dalil-dalil dan tata ibadah saja, tetapi pendidikan agama Islam lebih memusatkan perhatiannya pada pembentukan akhlak dan budi pekerti yang baik, yang pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap pribadi remaja yang mengarah pada pemahaman dan pengaktualisasian keimanan yang menciptakan kecerdasan baik itu secara intelektual, emosional maupun spir
itual.

Agama dan manusia merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kebermaknaan kehidupan manusia sangat bergantung pada faktor agama. Agama mengandung banyak hal yang dibutuhkan oleh manusia, mulai dari aspek keyakinan, tata aturan peribadatan, dan tata nilai moral, yang mana semua hal tersebut berimplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Agama telah menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia jika mereka ingin menjadikan hidup dan kehidupan ini bermakna.

Berita Lainnya

Pengelolaan Keuangan Negara di Era Digitalisasi

Digitalisasi Keguruan

1 dari 379

Manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan agama dan butuh untuk berketuhanan. Manusia pada umumnya mempunyai dua kebutuhan. Pertama, kebutuhan material dan kedua, kebutuhan spiritual. Pada hakikatnya agama memiliki dua keistimewaan, yaitu agama merupakan kebutuhan lahir dan batin manusia. Ia menegaskan bahwa kebutuhan manusia akan agama tidak dapat digantikan oleh apapun.

Remaja di masa pandemi ini tidak sedikit yang menjadi adiktif terhadap hp dan Internet. Bagaimana tidak, sebelum pandemi ini terjadi sebagian besar waktu mereka habiskan di sekolah dan bercengkrama dengan teman-temannya, tetapi sekarang segala aktifitas mereka harus dilakukan di dalam rumah dan ditambah dengan proses pembelajaran dan penilaian sekolah yang juga dilaksanakan melalui sistem daring. Hal ini menyebabkan para remaja ini memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan memainkan hp. Penggunaan hp secara terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang pada akhirnya membuat mereka sangat adiktif terhadap hp mereka. Sikap adiktif yang ditunjukkan oleh para remaja ini ternyata sangat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental mereka.

Dalam Islam, kesehatan fisik sangat diperhatikan. Berdasarkan sejarah penegakan Islam, sejak awal penyebaran agama Islam para pemimpin Islam sudah memberikan pelatihan fisik terhadap kaum Muslim. Pendidikan-pendidikan fisik, berupa memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda dan lari cepat sudah sangat ditekankan dalam Islam. Al Quran surah al-Anfal ayat 60 disebutkan, bahwa orang Islam harus selalu mempersiapkan kekuatan dan pasukan berkuda untuk menghadapi musuh Allah. Persiapan-persiapan ini salah satunya sangat menekankan pentingnya pendidikan fisik. Ada banyak sabda Nabi yang menekankan keterampilan fisik yang harus dimiliki oleh umat Islam, seperti memanah dan menunggang kuda. Umar bin Khattab pun memerintahkan kepada para gubernur di wilayah Islam untuk melatih anak-anak mereka berenang dan berkuda. Hal ini menegaskan bahwa dalam Islam, kesehatan fisik selalu menjadi perhatian dan hal ini didapatkan melalui pendidikan fisik sejak dini.

Pendidikan agama Islam memang memiliki fungsi sebagai persiapan generasi selanjutnya. Hal ini berarti bahwa pendidikan agama Islam dilaksanakan guna menyiapkan para remaja untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat di masa yang akan datang. Selain itu, para remaja ini akan diajarkan bagaimana mentransformasikan nilai yang dimiliki untuk memelihara kesatuan masyarakat, mengalihkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan mereka kelak dan bagaimana mendidik mereka agar mampu memiliki akhlak yang baik dalam lingkup sosialnya.

Selain itu pendidikan agama Islam berperan sebagai pembekalan, dalam artian bahwa pendidikan agama Islam diberikan kepada anak dan remaja untuk membimbing mereka untuk memiliki akhlak yang baik, membantu mereka memahami dan mendalami setiap prinsip-prinsip dan ajaran agama Islam agar nantinya mereka mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama Islam juga hadir guna memberikan pemahaman kepada anak-anak dan remaja akan pemeliharaan diri mereka baik itu pemeliharaan secara fisik maupun psikis mereka.

Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa pendidikan agama Islam tidak hanya berfokus pada pengajaran dan pemahaman agama dan melatih keterampilan mereka dalam melaksanakan ibadah. Akan tetapi, pendidikan agama Islam lebih luas daripada itu. Pendidikan agama Islam lebih menitikberatkan pada bagaimana pembentukan kepribadian anak, sesuai dengan ajaran agama. Pendidikan moral, sikap dan perilaku jauh lebih penting daripada menghafal dalil-dalil dan hukum-hukum agama yang tidak diresapi dan dihayati dalam kehidupannya. Dengan tertanamnya nilai dan ajaran agama dalam diri remaja, maka bisa dipastikan mereka tidak akan bertingkah yang tidak sesuai dengan nilai agama. Mantapnya nilai agama dalam diri remaja akan menjadikan mereka lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Penanaman keimanan kepada para remaja akan membantu mereka dalam menjauhi segala perilaku buruk yang kelak akan merugikan mereka dan orang lain. Keimanan merupakan salah satu penggerak pokok dalam tingkah laku seseorang, tanpa hadirnya rasa iman dalam hidup seseorang, maka mereka tidak memiliki batas mengenai hal yang harus mereka jaga. Jika seorang remaja sudah memiliki keimanan yang kuat dan tertanam dalam hatinya, maka segala tindakannya akan terkontrol dan ia pun tidak akan terjerumus dan melakukan hal-hal yang negatif.

Pendidikan agama Islam yang tidak hanya berfokus pada hal-hal teoritis semata, namun lebih jauh kepada bagaimana nilai-nilai dan ajaran agama Islam bisa terealisasi dalam kehidupan remaja. Dalam Islam, pendidikan memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari pendidikan keimanan, fisik, mental hingga pada pendidikan akhlak. Oleh karena itu, pemberian pendidikan agama Islam bagi remaja di tengah-tengah masa pandemi ini akan bisa mengatasi segala permasalahan yang sedang mereka alami di masa pandemi ini.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya