Belajar dari Banjir

Oleh : Drs H Ahdiat Gazali Rahman
Pemerhati Sosial Politik dan Hukum

Banjir yang pernah terjadi pada tahun kemarin dan tahun ini di banua tercinta ini seharusnnya dijadikan pelajaran untuk semua pihak, apakah rakyat biasa, ulama dan ilmuan atau cendekia yang memberikan petuah sesuai dengan pengatahuan ilmunya, hingga pejabat daerah penentu arah perkembangan kemajuan daerah, masing-masing wajib memberikan peran sesuai kemampuan dan fungsinya.

Kekompakan ketiga golongan masyarakat itu akan membantu mengatasi masalah kebanjiran, Jika daerah belum mampu memberikan peran kepada tiga komponen untuk ikut berperan dalam mengatasi banjir, maka banjir tak akan pernah berhenti, banjir akan bertambah dan bertambah.

Banjir itu penyebab utama hanya satu, yakni manusia gagal melaksanakan sunnatullah, dimana sifat air yang sejak dahulu sudah diketahui dari agama dan para ilmuan yang mengatakan air selalu mencari tempat yang rendah. Ketika tempat yang rendah dibuat menjadi tinggi oleh masyarakat dengan restu pejabat negara (daerah) tanpa diperingatkan oleh ilmuan dan ulama, maka tunggulah banjir pasti akan datang.

Dari itu semua, ummat manusia jangan sekali-kali mencoba mengambil jalan pintas untuk merubah jalan air, sifat air , karena itu tak mungkin dapat dilaksanakan. Ingat manusia tak mampu merubah sunnatullah.


Masyarakat umum yang tinggal didaerah yang sumber daya alamnya masih banyak, baik hutan dan tambang, masih sadarkah mereka untuk menjaga agar ekosistem sumber daya alam di lingkungannya tidak terganggu, lebih-lebib di musim hujan.

Berita Lainnya
1 dari 425

Apakah perjalan air dari tempat yang tinggi kepada tempat yang rendah berjalan norman, sehingga tidak mendatangkan bahaya atau berlaku sebaliknya, masyarakat berlaku sewenang-wenang terhadap alam, atas dasar dukungan para elit, dengan berbagai alibi, dari demi menampung tenaga kerja, memberikan pendataan pada masyarakat sekitar, usaha mengejar pendapatan, tambahan belanja anak bini, mereka melakukan pelanggaran terhadap hukum negara, adat dan agama, yang tak mampu diingatkan para tetuha, ulama dan cendekia.

Masyarakat yang tinggal di perkotaan sudah sadarkah mereka, sadar tentang perilaku mereka agar tidak membuang sampah sembarangan, sehingga sampah tersebut dapat menghalangi jalannya air ke tempat yang rendah, pengelola negara sudahkah membuat sebuah aturan yang mengatur tentang pembuangan sampah, membuat tempat pembuangan sampah dan jalur air yang sesuai dengan jumlah debit air, atau mereka membuatkan sarana hanya demi untuk mengejar keuntungan materi semata, tanpa menghitung kegunaaan tempat yang dibuat. Peran ulama dan cendekia sudah mereka memperingatkan, memberikan petuah, nasihat tentang resiko sebuah perbuatan yang akan diterima jika perbuatan itu melanggar aturan, hukum adat, agama, negara atau mereka menyampai sebuah pemikiran hanya demi sebuah kesenangan para pengundang mereka, mereka lupa bahwa kebedaan mereka adalah tempat bertanya dan pembimbing bagi masyarakat dan seluruh umara, yang mengurus negara ini, agar daerah ini selalu berjalan pada rel yang telah ditentukan oleh hukum agama, hukum negara dan hukum adat.

Alasan Klasik
Banjir selalu diidentifikasi dengan banyaknya curah hujan. Curah hujan yang turun memang tak pernah dapat diketahui oleh manusia sebelum hujan, tak ada sebuah lembaga pun yang mampu menghitung banyak curah hujan yang akan turun, hujun sudah menjadi ranahnya Allah SWT (hak Allah), dimana terjadi hujan, kapan waktu hujan dan berapa banyak air hujun yang turun tak ada manusia yang mampu mengetahui, manusia atau lembaga hanya mampu meramal. Itupun belum mencapai kebenaran optimal 100 persen benar. Tugas sebagai manusia hanya berjuang, bagaimana agar hujan yang turun itu tidak mendatangkan banjir di daerah ini, usaha apa yang seharusnya dilakukan agar hujan itu tidak menjadikan daerah banjir. Hal itu tentu tergantung dari peran masing-masing.

Realita.
Sunnatullah sifat air yang tak pernah dihiraukan oleh manusia, setiap saat alam yang berhubungan air terkadang dirusak oleh manusia, baik secara langsung atau dengan perantara orang lain, banyak pohon yang ditebang oleh manusia, sehingga pohon yang seharusnya menjadi penangkal banjir, karena mampu menyerap air dari hujan, banyak sungai dan dataran rendah yang seharusnya menjadi tempat air untuk tetap bertahan, dijadikan tempat yang tinggi untuk pemukiman dan sarana lain, sehingga air tak dapat tempat untuk bertahan dan bergerak, tidak masuk kelingkungan tempat tinggal manusia, berapa banyaknya konsep peraturan dan sejenisnya yang dibuat oleh pejabat negara, sehingga dapat memberikan penyadaran kepada masyarakat umum, untuk ikut mengatasi masalah banjir, sehingga banjir tak terjadi didaerah penduduk, berapa banyak pembuatan resepan air yang telah dibangun oleh penguasa daerah dalam rangka mengatasi agar air tidak masuk tempat tinggal manusia, berapa banyak bendungan yang disiapkan, gorong-gorong yang dibuat yang menampung air, agar air tetap dapat mengalir sesuai kodratnya, tidak melintasi pemukiman warga, sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Para cendekia dan ulama sudah memberikan pencerahan tentang aturan, keharusan dan kewajiban manusia untuk tetap menjaga lingkungan baik dengan mengemukan berbagai aturan yang telah dibuat, memberikan pemahaman tentang tuntunan agama kenapa dan mengapa banjir itu terjadi.

Pandangan Agama Islam.
Menurut Islam yang telah 15 abad disampaikan kenapa dan mengapa bencana itu terjadi, lewat firman Nya, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan….” (QS. Asy Syura : 30) dan dalam firman lain-Nya, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran.” (QS. Hud : 101).

Allah memerintahkan pada semua manusia agar tidak melakukan kerusakan di bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al Araf : 56)

Harapan
Semua masyarakat apakah masyarat umum, para pejabat, ulama dan cendekia, saatnya berbenah diri untuk ikut berpikir, bertindak, untuk tidak lagi merencanakan, berbuat sesuatu yang dapat mengarahkan kepada terjadi banjir, semua perencanaan, perbuatan yang mengarah pada datangnya banjir sebaiknya dihindarkan atau bahkan dihilangkan dari semua konsep perencanaan, pembanguan dan pengembangan daerah dengan alasan apapun, semua konsep pembangunan, pengembangan diDaerah seharusnya diarahkan harus mem pertimbangkan akibatnya dalam waktu yang lama, jika akan mendatangkan bencana di kemudian hari, maka semua konsep danrencana itu harus dibatalkan berapa pun keuntungan ekonomi yang mungkin akan di dapatkan. Proyek seperti itu harusnya dihentikan.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya