Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Inovasi Pertanian Cerdas di Indonesia Berbasis Internet of Things (IoT)

×

Inovasi Pertanian Cerdas di Indonesia Berbasis Internet of Things (IoT)

Sebarkan artikel ini

Oleh : Mutmainah
Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi
Universitas Sari Mulia

Indonesia disebut sebagai negara agraris, yang artinya sektor pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional dan berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar penduduk atau tenaga kerja yang bermata pencaharian sebagai petani.

Kalimantan Post

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditambah posisi Indonesia yang dinilai sangat strategis. Dilihat dari sisi geografis, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi. Kondisi ini yang membuat Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas, terlebih Indonesia terletak di cincin pergunungan api sehingga tanah Indonesia sangat subur, dan banyak jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat.

Indonesia merupakan Negara pertanian yang memproduksi dan mengkonsumsi hasil pertanian. Pertanian banyak menyelesaikan masalah kebutuhan akan pangan dan papan bagi 300 jutaan penduduk Indonesia. Pertanian di Indonesia banyak masih menggunakan teknologi tradisional dikarenakan kondisi Indonesia yang subur dan tidak kekurangan air. Dengan keadaan seperti ini maka Indonesia bisa menjadi Negara penghasil pangan terbesar di dunia dengan penerapan teknologi-teknologi maju. Indonesia dapat menjadi Negara pengekspor hasil pertanian bagi seluruh dunia. Dengan kebutuhan yang cukup tinggi akan bahan makanan dapat dikatakan bahwa dengan teknologi pertanian yang maju hasil yang didapat dari hasil pertanian akan cukup besar.

Revolusi industri 4.0 dengan berbagai kecanggihannya telah banyak dilakukan oleh negara-negara maju sejak tahun 2011. Beda halnya dengan Indonesia yang baru-baru saja mengalam revolusi industri 4.0. Keterlambatan masuknya revolusi industri 4.0 keIndonesia ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang lambat masuk.

Walaupun terlambat, konsep revolusi industri 4.0 dapat dikatakan telah mantap untuk diterapkan diseluruh dunia, begitu pula untuk Indonesia. Sehingga tidak memberikan culture shock yang begitu dahsyat kepada Indonesia, atas banyaknya perubahan-perubahan akan penggunaan teknologi-teknologi canggih yang cepat dan terkoneksi antara satu komponen dengan lainnya. teknologi canggih yang digunakan dalam penerapan revolusi industri 4.0 ini meliputi robotisasi dan penggunaan sensor-sensor untuk mendukung otomasi suatu proses industri. Penggunaan robotisasi dan sensor diintegrasikan dengan koneksi internet yang memberikankecepatan akses informasi sehingga revolusi industri 4.0 ini dikenal dengan digitalisasi proses industri.

Baca Juga :  WFH ASN Setiap Jumat, Sinergi Reformasi Birokrasi dan Iklim Investasi Menuju Indonesia Maju

Pengintegrasian antara robotisasi dan penggunaan sensor ini biasanya dikenal dengan Internet of Things (IoT). Internet of Things (IoT) ini memanfaatkan adanya koneksi internet untuk mengubungkan berbagai komponen yang terkait dengan kecepatan transfer data yang tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang cepat.

Internet of Thing (IoT) adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan dengan campur tangan manusia yang minimal, sehingga dapat melakukan beragam fungsi secara otomatis. Penerapan Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian menjadi gagasan baru yang harus dikembangkan dan sangat tepat untuk direalisasikan pada sektor pertanian. Karena Internet of Things (IoT) mampu menjawab semua permasalahan yang dimiliki oleh petani.

Penerapan Internet of Thing (IoT) pada pertanian dapat berupa teknologi sensor untuk penggunaan air, sensor untuk mendeteksi serangan hama, dan juga sensor yang mengetahui emisi lingkungan. Dengan penerapan tersebut hasil pertanian dapat meningkat dengan pesat dan akurat. Selain itu, (IoT) dapat mempermudah pengawasan lahan produksi melalui smartphone.

Teknologi wireless yang ada pada Internet of Things (IoT) mampu mendeteksi cuaca dan iklim. Selain itu, teknologi Internet of Things (IoT) mampu melakukan penjadwalan otomatisasi penyiraman, penyemprotan pestisida dan pemupukan. Dengan berbagai kekuatan yang ada pada Internet of Things (IoT) menjadi potensi dan solusi yang sangat besar untuk mendukung dan membantu petani di Indonesia.

Kekuatan (IoT) cocok sekali di implementasikan pada bidang pertanian karena karakteristik bidang pertanian, yang berpotensi sekali disentuh oleh IoT. Contohnya seperti: Optimasi produk, Penanggulangan hama, Penggunaan sumber daya secara efektif, Optimasi operasi produksi.

Penggunaan IoT bisa mewujudkan pertanian presisi (precision farming) dan irigasi pintar melalui penggunaan sensor yang diterapkan di lahan pertanian memungkinkan petani mendapatkan informasi detail topografi, tingkat kesuburan, tingkat keasaman hingga suhu tanah, bahkan dapat mengukur cuaca serta memprediksi pola cuaca.

Baca Juga :  Penyerobotan Lahan, Belajar Dari Bakambit

Salah satu perusahaan di bidang teknologi pertanian yaitu BIOPS Agrotekno, mengembangkan sebuah solusi (IoT) yang bernama ENCOMOTION untuk memonitor kondisi lingkungan dan menentukan kebutuhan air tanaman. Data yang terkumpul tidak hanya untuk keperluan monitoring jarak jauh namun digunakan untuk menghitung kebutuhan air tanaman dan berbagai solusi lainnya. Data ini juga nantinya dapat berguna bagi berbagai stakeholder terutama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan pertanian.

Lonjakan populasi dunia pada tahun 2040 ini tentunya juga akan berdampak pada meningkatnya permintaan akan pangan, sehingga akan membutuhkan sistem pertanian yang lebih cerdas dari sebelumnya.

Dengan berkembangnya Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian maka berpotensi pada peningkatan produktivitas pertanian, meningkatkan ketertarikan golongan milenial dalam bertani, dan dampak positif lingkungan seperti penggunaan air yang akurat.

Akan tetapi IoT memiliki tantangan berupa terbatasnya daya listrik dan perangkat komunikasi di lapangan. Hal tersebut karena sebagian besar daerah pertanian di Indonesia berada di remote area yang terbatas infrastrukturnya. Pada saat penerapannya pun masih ada tantangan yang dihadapi, yaitu mengedukasi petani dalam penggunaan teknologi ini untuk mendukung kegiatan/operasional mereka sehari-hari. Untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun petani itu sendiri.

Harapannya dengan adanya penggunaan Internet of things di sekor pertanian dapat mempermudah para petani dalam melakukan kegiatan bertani, meningkatkan hasil pertanian, menghemat tenaga dan biaya yang dikeluarkan serta meningkatkan ketertarikan golongan milenial dalam bertani.

Iklan
Iklan