Oleh : Marjiyah, S.Pd
Guru dan Pemerhati Masalah Sosial
Baru beberapa waktu yang lalu virus Corona-19 dinyatakan menurun dibeberapa wilayah, aktivitas dapat berjalan kembali meskipun tidak senormal sebelum terjadinya wabah Covid ini. Sekolah mulai buka dengan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), dengan tetap menggunakan protocol kesehatan. Hal ini disambut gembira oleh anak-anak, wali murid dan guru-guru.
Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena virus Corona varian baru Omicron dinyatakan mengganas dan terus meningkat hal ini Dirangkum detikcom, Sabtu (22/1/2022), berdasarkan data yang dibagikan BNPB, angka tambahan kasus terendah pada Januari adalah 2 Januari 2022, yakni 174 kasus. Selain itu, tambahan kasus positif tembus di angka 200 kasus per hari.
Bahkan, dalam tiga hari terakhir, kasus Corona di RI selalu menembus 2.000 kasus. Dan hari ini, konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia bertambah 3.205 kasus.
Konversi bed untuk Covid-19 terus dilakukan, dan untuk stok obat-obatan di RS juga sudah didistribusikan oleh Kemenkes. Sebagai informasi, untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron, pemerintah sudah menyiagakan 1.011 rumah sakit dan 82.168 tempat tidur. Selain itu, pemerintah juga sudah menyiapkan jutaan stok obat-obatan untuk tiga bulan ke depan, diantaranya Oseltamivir sebanyak 13 juta kapsul, Favipiravir 91 juta tablet, Remdesivir 1,7 juta vial, Azithromycin 11 juta tablet, dan multivitamin 147 juta.
Tempo.co merilis, Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengingatkan agar masyarakat menunda perjalanan ke luar negeri untuk mencegah penularan Covid-19 varian Omicron. Ia menyampaikan bahwa salah satu peran kunci masyarakat dalam mencegah meluasnya penularan Covid-19 adalah dengan menunda perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak. Kalaupun terpaksa ke luar negeri, wajib menjalani karantina terpusat saat kembali ke Indonesia.
Wiku menjelaskan, memberi ruang bagi virus untuk menular sama dengan memberi kesempatan bagi virus untuk bermutasi menjadi varian baru. Sebab itu, memberi celah penularan sama saja menempatkan kelompok rentan dalam risiko yang lebih tinggi.
Dalam kepulangan jemaah umrah perdana pada 17 Januari 2022, Wiku mengatakan, sebanyak 20 persen jemaah positif Covid-19. “Terlepas apapun varian yang masuk ke Indonesia, pada prinsipnya penularan sekecil apapun harus segera dikendalikan supaya tidak meluas dan menimbulkan lonjakan kasus,” katanya.
Penanganan wabah selama ini belum tuntas karena karantina wilayah atau lockdown belum dilakukan sepenuhnya. Seharusnya arus pergerakan manusia dihentikan sementara sebagaimana pada zaman Rasulullah SAW mengingatkan untuk tidak memasuki daerah yang sedang terjangkit penyakit dan tidak keluar dari daerah yang sedang tertimpa wabah.
“Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW menyebut wabah sebagai jenis azab bagi umat terdahulu (Bani Israil) dan kini menjadi rahmat bagi orang beriman karena kesabaran dan pengertian atas ketentuan Allah serta menahan diri di daerah masing-masing.
“Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, “Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,”. (HR Bukhari).
Rasulullah SAW menceritakan perbedaan kedudukan mereka yang wafat normal di kasur dan mereka yang wafat karena terserang wabah.
“Rasulullah bercerita, orang mati syahid (yang gugur di medan perang) dan orang yang meninggal di kasur mengajukan perkara kepada Allah perihal mereka yang mati karena tha’un. Menurut orang mati syahid, “Mereka gugur sebagaimana kami terbunuh”. Sedangkan menurut orang yang meninggal di kasur, “Saudara meninggal di kasur (karena tha’un) sebagaimana kami juga meninggal di kasur kami”. Allah menjawab, “Perhatikan (kepedihan) luka mereka yang kena tha’un. Jika luka mereka menyerupai luka mereka yang gugur (di medan perang), maka mereka bagian dari syuhada. Tetapi mereka akan bersama orang yang meninggal di kasur jika luka mereka serupa dengan mereka yang wafat di kasur”. (HR An-Nasa’i dan Ahmad).
Secara individu ada pahala tersendiri untuk orang-orang yang bersabar untuk menahan diri di rumah masing-masing. Namun segala kebutuhan mereka sepenuhnya ditanggung oleh negara. Untuk yang sudah tertular disiapkan pengobatan terbaik. Serta melakukan berbagai penelitian guna melakukan penanganan terbaik. Dan semua itu adalah bagian dari syariat Islam. Karena Islam memiliki aturan yang lengkap bukan hanya mengatur tentang masalah ibadah tetapi juga penanganan wabah. Namun aturan ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan hanya dapat diterapkan ketika aturan Allah diterapkan di seluruh aspek kehidupan. Wallahu alam bishawab.














