Oleh : M. Rezqon Apryan
LP2DH FH ULM
Bak sebuah dongeng yang selalu berakhiran tak pasti jika kita tak membacanya dengan selesai, Masyarakat mulai bersorak senang menyambut banyaknya kegiatan manusia berlangsung seperti layaknya mereka terlahir sebelum adanya pandemi, semua orang bersalaman, berdekatan, bahkan jarang sekali orang memakai masker sejauh mata memandang. Virus Corona membuat sejarah besar baru dalam peradaban manusia, manusia tidak hanya mengenal virus yang menjadi epedemi sekali ini saja bahkan tercatat bahkan tercatat 11.000 tahun yang lalu manusia mempunyai ketakutan besar terhadap virus yang bernama Variola Virus. Atau kita mengenalnya dengan cacar dengan adanya vaksin gejala yang ditimbulkan pada manusia modern tentu tidak semenakutkan dulu 11.000 tahun lalu. Flu Spanyol, kolera, bahkan SARS bermacam-macam nama virus yang bernaung dibalik nama tenarnya pernah melanda dunia dengan sedemikian rupa. Virus merupakan mikro organisme yang bisa menginfeksi makhluk hidup lain dengan berbagai cara. Tidak hanya manusia yang mengalami banyak perkembangan, mulai dari dunia sains dan teknologi terbarukan, virus pun begitu adanya. Virus bukan saja menjadi musuh kesehatan, tetapi ternyata juga memberi pelajaran kepada manusia bahwa revolusi itu perlu.
Sejarah mencatatkan ada sembilan kali lebih virus menyerang dan menjadi pandemi, ada yang berhasil ditemukan vaksinnya, ada juga yang masih pada tahap pengembangan vaksin seperti HIV/AIDS. Tentunya ini mengajarkan kepada manusia bahwa, kita harus berevolusi. Virus mikro organisme yang dikenal kecil namun mematikan. Manusia tak lepas dari yang namanya musibah, peperangan, hal baik, maupun tragedi-tragedi yang menakutkan. Virus adalah salah satunya tak luput berhubungan dengan manusia. Virus ternyata tidak pernah memberikan satu kemanfaataan bagi manusia secara langsung berbeda dengan family yang lain dengan dunia mikro organisme yang sama, yaitu bakteri dikenal dengan bakteri jahat dan baik. Selayaknya manusia sifatnya pun sama, jahat dan baik. Namun tahukah kalian virus bisa menjadi virus baik saat sudah merubahnya dalam jumlah yang berbeda, seperti contoh untuk pembuatan vaksin. Dalam dunia kedokteran, virus banyak dimanfaatkan keberadaannya juga, setelah diteliti. Virus yang menjangkit sapi yang mengakibatkan cacar yang mana pada sejarahnya cacar membunuh 30 persen jumlah populasi dunia. Sebelum pada akhirnya pada tahun 1796, seorang ilmuwan bernama Edward Jenner mendapatkan temuan. Melakukan percobaan kepada seorang anak lalu mengeksposnya dengan virus cacar air yang saat itu menjadi pandemi, virus yang berasal dari sapi tadi kemudian menyebabkan si anak menjadi tahan dan ini adalah awal terciptanya vaksinasi. Itulah mengapa virus hadir ke bumi seraya mengatakan “Aku akan selalu membayangi kalian maka belajarlah, berevolusilah, lawan”.
Lalu pada tahun 2019 menyebar secara cepat yang diyakini peneliti yang menemukan bahwa Penderita Covid-19 pertama merupakan pedagang di pasar tepatnya di Wuhan, China. Sebuah studi bersama oleh China dan organisasi kesehatan dunia (WHO) hipotesis yang paling mungkin adalah virus itu menginfeksi manusia secara alami melalui perdagangan satwa liar. Pada Maret peneliti menyebutkan bahwa virus SARS-CoV-2 ditularkan melalui kelelawar ke manusia.
Virus corona menyebar dengan cepat menyebabkan dunia menutup banyak hubungan diplomatik denga negara lain dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19. Ketakutan banyak dirasakan dengan berita media yang menyebutkan banyak korban berjatuhan, rumah sakit yang tak mampu menampung pasien, banyak korban yang tidak bisa diselamatkan hingga isu pandemi yang tidak selesai. Membuat manusia ketakutan setengah mati untuk keluar rumah, bahkan dengan orang yang dipercaya sekalipun. Banyak orang yang mengurung diri di rumah tak berani kemana-mana, banyak juga yang menimbun makanan untuk bekal bertahan hidup, karena keyakinan bahwa pandemi akan semakin membesar dan tidak akan teratasi. Menjadi masalah baru adalah terjadinya kelangkaan bahan pangan yang diborong habis oleh manusia yang ketakutan dan melakukan lockdown hanya berdiam diri didalam rumah tanpa tahu kapan pandemi akan berakhir. Namun pada akhirnya dengan sudah banyaknya korban berjatuhan dan berbarengan juga dengan angka sembuh yang meningkat. Manusia mulai berani keluar rumah dengan tetap menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan, dengan perkembangan yang terjadi juga terdengar kabar bahwa adanya vaksin dalam rangka menghentikan pandemi dengan cepat.
Vaksin yang ditemukan oleh banyak ilmuwan mulai dari Sinovac, Astrazaneca, Sinophram dan Moderna. Mempunyai nama yang berbeda ternyata juga diyakini mempunyai efektifitas yang berbeda pula terhadap sistem kekebalan manusia untuk melawan virus. Vaksin pada awalnya menimbulkan ketakutan baru banyak yang manusia mengatakan, “Vaksin merupakan buatan para ilmuwan bergabung dengan para penguasa dunia untuk mengendalikan dunia”, bahkan ada yang menyebutkan “Menyuntikan vaksin sama dengan menyetujui badan anda tertanam microchip”. Terdengar sangat lucu memang, sebuah cairan dapat mengandung chip yang dalam perkembangannya pun masih belum bisa diandalkan kemanfaatannya dengan manusia modern sekarang, Kendati demikian, banyak yang saja orang yang percaya. Pandemi memang banyak mempengaruhi kehidupan termasuk pola pikir manusia. Vaksin pertama kali dikenalkan, banyak pemimpin negeri memulai langkah untuk meyakinkan warganya, bahwa memang vaksin adalah salah satu jalan yang paling mutakhir untuk menyelasaikan pandemi. Di
siarkan secara langsung oleh media pada saat penyuntikan dosis vaksin pertama kali kepada pemimpin negeri. Ternyata langkah ini juga tak banyak mendapat reaksi positif, banyak masyarakat yang menyebutkan bahwa yang disuntikan bukanlah hal yang sama yang masyarakat dapatkan. Menyebutnya dengan vitamin, dosis kosong maupun video hasil rekaya. Banyak saja manusia membuat alasan untuk sebuah kata yaitu penolakan. Pemerintah dalam rangka sebagai tameng terkuat melindungi rakyatnya dan seluruh pemimpin manusia bersepakat mengiyakan bahwa pandemi Covid-19 harus segera berakhir.
Angka masyarakat yang sudah tervaksinasi mengalami peningkatan, juga diiringi dengan kabar baik yaitu angka penyebaran Covid-19 mulai berkurang. Namun setelah terdengar kabar sekolah sudah dibuka, mall, pasar dan kegiatan ibadah. Sudah kembali melaksanakan kegiatan tatap muka langsung. Maka baru satu minggu lebih berjalan kembali muncul virus bernama baru yaitu Omicron. Virus covid-19 banyak bermutasi dengan berbagai macam nama mulai dari Alpha, Deltha, Beta sampai Omicron. Bak nama-nama yang superior kedengarannya virusnya pun begitu bermutasi dan kita harus berevolusi. Seperti yang virus katakan “Aku akan selalu membayangi kalian maka belajarlah, berevolusilah, lawan”.
Semoga dengan berjalannya waktu, pandemi ini selesai karena sudah banyak mengorbarkan berbagai aspek kehidupan manusia mulai dari ekonomi masyarakat kecil yang makin tak punya arah dan tujuan. Sampai masa depan anak bangsa yang belajar tidak maksimal. Hidup dirumah merasa lebih menenangkan jika memang hal-hal baik dapat dihabiskan. Namun tidak semua orang bisa beradaptasi dengan baik dengan keadaan. Semoga kita sebagai manusia kuat yang sudah banyak diterpa sejarah peradaban, tidak hanya sekali kita merasakan kali ini kita yang harus MENANG.














