Banjarmasin, KP – Belum dimulainya penutupan akses di Jembatan Sulawesi 2, warga sudah mengeluhkan kondisi konstruksi Jembatan Sulawesi 1, khususnya terhadap ruang muai antara oprit dan badan jembatan.
Pasalnya, ruang muai di Jembatan Sulawesi 1 itu dinilai sudah cukup membahayakan bagi pengguna jalan. Seperti yang diungkapkan Dwiki.
Ia mengaku harus berhati-hati ketika setiap kali motor Vespa tua yang ia kendarai itu melewati jembatan tersebut.
“Misalnya saat menaiki jembatan dari Pasar Lama, sambungan antara landasan tanjakan dengan badan jembatan terlalu lebar, jadi sepeda motor yang lewat situ pasti terhentak, apalagi saya yang memakai motor tua,” ucapnya saat dibincangi Kalimantan Post, Selasa (19/07) siang.
Tidak hanya di tanjakan, menurut pemuda asli Sungai Jingah itu, kondisi sambungan jembatan di sebelah Masjid Jami juga sama.
“Pokoknya kaya tertabrak gundukan polisi tidur di komplek, takutnya ini bahaya untuk shockbreaker dan velg motor saya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengaku terkadang lebih memilih lewat Jembatan Sulawesi 2 alias jembatan yang lama ketimbang Jembatan yang baru.
“Selain sambungnya bisa merusak bagian kaki motor, tanjakan dan turunan jembatan ini juga terlalu curam. Makanya banyak pengendara motor memilih lewat jembatan yang lama,” pungkasnya.
Hal senada juga diungkapkan Ahmad Jaelani, tukang becak yang sering mangkal di kawasan Pasar Lama itu mengaku sering menyaksikan angkutan muatan tidak kuat saat menaiki jembatan itu.
“Jangankan angkutan berat, sepeda motor pun banyak yang enggan lewat jembatan (Sulawesi 1) itu. Soalnya sudah tinggi, dan terlalu pendek landasannya,” ungkap Jaelani singkat.
Karena itu ia berharap agar jalur tanjakan dan turunan jembatan itu bisa diperpanjang supaya jalannya tidak terlalu curam dan mudah dilewati pengguna jalan
“Khususnya Jembatan Sulawesi 2 yang akan dibangun ini, jangan sampai seperti ini jembatan pertama ini, kasian pengendara banyak yang takut kalau lewat jembatan,” harapnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang (Kabid) Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, Dedy Hamdhani mengakui bahwa oprit jembatan Sulawesi 1 itu memang agak curam.
Namun, ia mengklaim bahwa kemiringan oprit jembatan tersebut masih dalam batas kewajaran yang disyaratkan sebagai landasan sebuah konstruksi jembatan.
“Kemiringan oprit jembatan memang agak curam, tapi masih dalam hal kewajaran karena tidak sampai 45 derajat,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (19/07) siang.
Kemudian, ruang muai konstruksi jembatan yang juga dikeluhkan warga juga masih dinilainya hal yang wajar.”Jarak antara oprit dan jembatan memang agak lebar, namun itu masih wajar, karena itu memang diberi ruang untuk batas muai material jembatan, dan semua jembatan rangka baja itu memang perlu diberi ruang muai,” ujarnya.
Kendati demikian, ia mengaku akan kembali meninjau apa yang dikeluhkan para pengguna jalan tersebut agar ketika akses ke Jembatan Sulawesi 2 ditutup warga bisa merasa nyaman dan aman saat melintas di atas Jembatan Sulawesi 1.
“Makanya kita lihat lagi kondisinya apakah jarak muainya sudah sesuai desain apa tidak. Kalau jaraknya masih batas aman tidak masalah itu,” tukasnya.
Kendati demikian, Dedy mengaku saat ini pihaknya masih fokus untuk membangun Jembatan Sulawesi 2. “Tapi kalau terlalu lebar, paling nanti kita lapisi dengan cairan aspal atau stomer karet untuk mengurangi hentakan kendaraan yang lewat di bagian ruang muainya,” tuntasnya. (Kin/K-3)















