Iklan
Iklan
HEADLINE

Anak Penjahit Sepatu di Tragedi 23 Mei
Tinggal di Kolong Jembatan, Bisa Sarjana S-2

1
×

Anak Penjahit Sepatu di Tragedi 23 Mei<br>Tinggal di Kolong Jembatan, Bisa Sarjana S-2

Sebarkan artikel ini
Ramali

BANJARMASIN, KP – Cobaan lebih berat, krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1998 membuat harus kehilangan rumah dan tinggal di bawah kolong jembatan selama 4 tahun

SAMBIL menahan air mata dan suara lirih, Ramali menceritakan peristiwa yang terjadi pada 23 Mei 1997, tepatnya 26 tahun lalu.

Dirinya yang saat itu berusia 3 tahun harus terpisah dengan ayahnya, Badaruddin, seharinya penjahit sepatu di Pasar Kasbah di kawasan yang sekarang jadi Plaza Mitra.

Saat tragedi kerusuhan di mulai dari terbakarnya Toko Lima Cahaya di Jalan Pangeran Samudera.

Tidak banyak yang bisa diingatnya pada saat kejadian itu.

Namun dirinya mendapatkan informasi kejadian mencekam itu dari ibunya, Hindun.

Dirinya terpisah dari ayahnya, saat melihat kebakaran di Plaza Mitra dan aksi penjarahan warga.

Bahkan kakinya mengalami luka, yang disebutnya mengalami retak.

Hilangnya tulang punggung keluarga, membuat pengobatan lukanya terabaikan hingga membuatnya susah berjalan dan terbaring di tempat tidur selama kurang lebih 4 tahun.

Cobaan yang lebih berat menghampiri Ramali, krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1998 membuat harus kehilangan rumah dan tinggal di bawah kolong jembatan selama 4 tahun bersama kakeknya, Mawardi.

Kisah hidupnya kemudian diangkat salah satu koran di banua sehingga mendapatkan pertolongan dan bantuan dari mantan Bupati Banjar, Rudy Ariffin.

Dirinya mendapatkan perawatan medis dengan 2 kali operasi di rumah sakit.

Dokter yang merawatnya sempat menyarankan untuk amputasi, namun Rudy Ariffin, dirinya dan keluarga menolak dengan kemungkinan susah berjalan.

Setelah sembuh dirinya melanjutkan pendidikan di Ponpes Darussalam Kota Martapura hingga ke Gresik Jawa Timur selanjutnya menempuh gelar sarjana di UIN Antasari bahkan dirinya melanjutkan mengambil gelar S-2 di Universitas Lambung Mangkurat.

Bahkan, ia kini jadi pengusaha kuliner kebab “Bintang 9” buatannya sendiri.

Sementara menurut Noor Raida, salah satu pengiat di Komunitas RUNE, keberhasilan Rahmali adalah berdamai dengan masa lalu.

Saat terpuruk dan tanpa bantuan pemerintah, dirinya tetap sabar dan tetap menunggu bantuan tiba.

Dirinya tetap menolak ajakan konflik dari pihak pihak yang terabaikan dalam konflik Jumat Kelabu.

“Tetap selalu menjaga kedamaian, sabar serta menerima takdir dari konflik membuahkan keberhasilan yang dinikmati saat ini,” tutur Noor Raida.

“Investasi politik dan demokrasi di Banjarmasin menjadi sangat mahal akibat tragedi ini.

Saya berharap Jumat Kelabu yang lalu akan menjadi Jumat Berkah dimasa akan datang” tambah Sukhrowardi inisiator acara dari RUNe.

Pada kegiatan Istighotsah Banua menghadirkan ulama KH. Johansyah dari PCNU Banjarmasin dan Habib Faturrahman dari Majelis Shalawat Cinta Al Mahabbah serta diikuti aktivitas pemuda mahasiswa, ormas perempuan, dan para anggota parpol itu dinilai inspiratif serta meninggalkan kesan mendalam. (mar/nau/K-2)