Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pembakaran Al-Qur’an Terus Berulang, Bukti Negeri Islam Lemah?

×

Pembakaran Al-Qur’an Terus Berulang, Bukti Negeri Islam Lemah?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Gita Pebrina Ramadhana, S.Pd, M.Pd
Pemerhati Generasi

Aksi pembakaran Al-Qur’an kembali terjadi di Swedia, kali ini berlangsung di tengah perayaan Idul Adha. Namun, tidak semua warga Swedia setuju terhadap aksi tersebut. Beberapa warga yang berada di lokasi unjuk rasa menilai tindakan pria asal Irak yang pindah ke Swedia, Salwan Momika, sebagai bentuk provokasi. (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0k9dv99p9ko)

Kalimantan Post

Salwan Momika, seorang ateis sekuler asal Irak. Ia membakar salinan Al-Qur’an tepat saat Hari Raya Idul Adha di depan Masjid Stockholm, pada Rabu (28-6-2023). Sebelum membakar Al-Qur’an, Momika menginjak-injaknya, memasukkan potongan halaman ke dalamnya, dan membakar halaman sebelum menutupnya, serta menendangnya sambil melambai-lambaikan bendera Swedia.

Ternyata dari aksi pembakaran tersebut, pengadilan Swedia mengizinkan Al-Qur’an dibakar di luar masjid di Stockholm pada Idul Adha, hari raya besar umat Islam. Pembakaran Al-Qur’an di negara-negara seperti Swedia dan Norwegia ini memicu protes umat Islam di dalam dan luar negeri. (https://nasional.sindonews.com/read/1140685/15/indonesia-kecam-keras-pembakaran-al-quran-di-swedia-1688040376)

Lemahnya Negeri Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pembakaran Al-Qur’an di area masjid di Stockholm, Swedia. MUI juga menyayangkan sikap pemerintah Swedia yang membiarkan aksi itu dengan alasan kebebasan berekspresi. (https://news.detik.com/berita/d-6799144/mui-kecam-aksi-pembakaran-al-quran-di-swedia-minta-pelaku-ditindak-tegas).

Sudarnoto mengatakan aksi ini sangat merugikan hak-hak warga, terutama kaum muslimin. Dia menilai membiarkan aksi ini sama saja menghancurkan demokrasi dan kedaulatan. Beliau menambahkan bahwa membangun iklim demokrasi itu seharusnya memberikan jaminan kepada semua orang beragama. Serta mendorong masyarakat bersikap toleran serta mengutamakan kerukunan dan kerja sama antaragama.

Tidak hanya di Indonesia, Menteri Luar Negeri Turki yaitu Hakan Fidan mengutuk pembakaran Al-Qur’an dan menyebutnya sebagai tindakan keji dan tercela. Maroko juga mengutuk tindakan Momika dengan memanggil perwakilan Swedia di Rabat dan meminta duta besarnya keluar dari Maroko. Begitu pula negeri muslim lain seperti Yordania, Mesir, Arab Saudi, Turki dan Malaysia ikut mengecam dan mengutuk aksi pembakaran Al-Qur’an.

Baca Juga :  Puasa dan Pencerahan

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan pembakaran Al-Quran itu terus beulang? Benarkah tindakan setiap negeri Islam yang mengutuk dan mengecam itu sudah cukup untuk bisa melindungi umat Islam?

Respon umat Islam dan para pemimpin negeri Islam ini telah terbukti dan menunjukkan betapa lemahnya negeri-negeri muslim di hadapan Barat. Ketika adanya penistaan, penghinaan, dan pelecehan terhadap Islam maupun umat muslim, para pemimpin negeri muslim paling marah, tersinggung, mengecam, dan mengutuk secara diplomatis. Namun tidak ada tindakan tegas.

Pembelaan terhadap Al-Qur’an yang hanya sebatas pernyataan lisan tanpa tindakan tegas bahwa negeri-negeri Islam seperti badan tanpa kepala. Jumlahnya begitu banyak, tetapi tidak ada daya upaya karena saat ini umat islam tidak memiliki kepemimpinan tunggal yang mampu mengayomi, melindungi, dan menjaga kehormatan serta kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Inilah sistem liberal dengan mengatasnamakan HAM sebagai tindakan bebas berperilaku. Mereka koar-koar tentang kebebasan, tetapi kerap melakukan diskriminasi dan intoleran terhadap Islam dan pemeluknya. Katanya kebebasan beragama, nyatanya islamofobia di Barat malah merajalela. Katanya kebebasan berbicara, nyatanya hanya topeng untuk melegalkan pelecehan terhadap agama. Katanya kebebasan berpendapat, nyatanya kecaman dan kutukan umat tidak berarti apa-apa.

Saat ini umat Islam seperti buih di lautan, banyak umatnya namun tidak mampu untuk bertindak. Negeri Islam cenderung menjadi negara pengekor kepentingan Barat. Gelar “khairu ummah” atau umat terbaik seakan hilang seiring merenggangnya ikatan akidah Islam yang menjadi spirit persatuan umat Islam.

Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an.

Demokrasi hanyalah kamuflase dengan dalih pembenaran atas penistaan yang dilakukan. Demokrasi seperti tong kosong nyaring bunyinya. Penerapannya tidak seindah teorinya. Teorinya cuma omong kosong, praktiknya nol. Miris ketika sikap Barat sangat berlawanan arah ketika umat Islam menghina agama non-Islam. Narasi radikalisme dan terorisme akan sangat menggema secara internasional karena menganggap hanya Islam agama radikal, yang lainnya tidak.

Baca Juga :  Agar Keracunan Makanan Bergizi Gratis Tidak Berulang

Sungguh, penistaan terhadap Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan kecaman atau kutukan. Para penista itu akan terus bermunculan dengan ragam perilaku dan pelaku yang berbeda. Akan ada Ramulus dan Momika lainnya selama Islam tidak memiliki kepemimpinan tunggal, yaitu Khilafah yang mampu mengerahkan pasukan kaum muslim untuk menindak tegas mereka. Betapa mendesak dan pentingnya kebutuhan akan hadirnya negara yang mampu menyatukan umat di bawah satu komando kepemimpinan khalifah.

Dalam Islam, agama adalah sesuatu yang wajib dijaga dan dimuliakan. Salah satu tujuan diterapkannya syariat Islam adalah memelihara dan melindungi agama. Ketegasan Islam terhadap penista bisa dilihat dari sikap Khalifah Abdul Hamid saat merespon pelecehan kepada Rasulullah SAW. Hal itu mmebuat duta Perancis sangat ketakutan dan tidak berani dengan Khalifah Abdul Hamid.

Itulah sikap pemimpin kaum muslim dengan sikap yang tegas dan berwibawa. Umat akan terus terhina karena tidak ada yang menjaga agama ini dengan lantang dan berani. Ketiadaan Khilafah saat ini telah menjadi bencana terbesar dan kepiluan panjang bagi umat abad ini. Umat tersekat-sekat oleh negara bangsa, terpisah karena kepentingan nasional masing-masing negeri, dan terhalang oleh sekularisme yang menggejala dalam pikiran dan perasaan umat. Akibatnya, tidak pernah tergambar betapa indahnya persatuan umat dalam naungan Khilafah.

Maka dari itu, hanya dengan tegaknya syariat Islam secara kafah, agama ini terlindungi. Seruan penegakan syariat Islam harus terus disuarakan agar umat memahami bahwa satu-satunya pilihan hidup terbaik saat ini dan seterusnya adalah dengan diterapkannya syariat Islam di segala aspek kehidupan.

Gita Pebrina Ramadhana, S.Pd., M.Pd
Pemerhati Masalah Pendidikan dan Remaja

Iklan
Iklan