Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Politik dan Aktualisasi Diri

×

Politik dan Aktualisasi Diri

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “DR KH Idham Chalid Ulama Politisi Banjar di Kancah Nasional”

Pemilu presiden dan legislatif sudah berlalu. Ada yang menang dan kalah, hal biasa dalam kontestasi berdemokrasi. Dari awal tentu para kontestan sudah siap menang siap kalah. Asal semua dilakukan dengan prinsip kejujuran, keadilan dan keterbukaan, tentu semua pihak akan legawa.

Kalimantan Post

Di antara hal menarik pemilu kali ini adalah banyaknya tampil orang muda sebagai calon legislatif. Memang ada yang awet muda atau fotonya kelihatan muda karena teknik rekayasa yang semakin canggih, tetapi faktanya semakin banyak orang muda ikut berkontestasi, yang usianya antara 20-40 tahun.

Menggeluti dunia politik sejak muda positif dan terpuji. Lihat saja para tokoh pejuang dan pendiri bangsa kita, rata-rata mereka hanya berusia antara 20-40 tahun. Bedanya, di masa lalu, kuku penjajah sangat kuat mencengkeram bangsa, sehingga tantangan mereka ketika terjun ke dunia politik sangat berisiko, ditangkap, masuk penjara, diasingkan dan sebagainya. Tantangan sekarang, persaingan sangat ketat, untuk menang kontestasi dibutuhkan banyak modal, kesiapan mental, jaringan, dukungan massa, juga finansial.

Tetapi semua itu bukan syarat mutlak dan harga mati, ada kalanya orang tetap terpilih melalui jalan yang tidak disangka. Misalnya karena calon yang menang meninggal, masuk penjara, menjadi pengganti antarwaktu, dan banyak lagi. Ada juga calon yang tidak begitu banyak punya uang, tetapi ia pandai memainkan peran dan mendapatkan dukungan dari pihak yang punya uang, yang menurut Noorchalis Majid, diistilahkan dengan “manimpasakan parang urang”. Dalam dunia politik, segala sesuatu bisa terjadi.

Tertutup dan Terbuka

Terjun ke dunia politik bisa karena kesengajaan dan direncanakan dari awal, hal ini biasanya ditemui di kalangan elit politik yang sudah terbiasa hidup dari dunia politik. Ketika kakek dan ayah jadi politisi, besar kemungkinan anak-menantu-cucu juga dipersiapkan terjun di medan yang sama.

Tetapi banyak juga kiprah di dunia politik, tampak tidak disengaja karena tertutupnya jalur lainnya. Sebagai contoh, DR KH Idham Chalid mulanya seorang guru, pelatih Pramuka dan juru dakwah. Di masa revolusi kemerdekaan (1945-1949) ia menjadi Penasihat Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan pimpinan Hassan Basry, dan sebagai risikonya ia sempat masuk-keluar penjara, diinterogasi dan disiksa. Usai revolusi ia diangkat sebagai imam tentara untuk wilayah Hulu Sungai dengan pangkat Mayor. Namun ayahnya, Muhammad Chalid, melarang Idham Chalid jadi tentara, dan menyuruh aktif di sipil saja.

Baca Juga :  Agar Gaji Tak Lenyap, Mulai dari Prioritas Hingga "Side Hustle"

Idham Chalid yang taat orangtua pun menurut. Sesuai latar pendidikannya di Pondok Pesantren Rakha Amuntai dan Gontor Jawa Timur, orangtua dan Idham Chalid sendiri merasa lebih cocok jadi pegawai Kantor Urusan Agama. Siapa tahu suatu saat akan menjadi Kepala KUA atau Kepala Kantor Departemen Agama. Karena peluang itu belum ada, ia aktif di organisasi Islam semi politik yaitu Serikat Muslimin Indonesia (Sermi). Selanjutnya ia aktif di Partai Masyumi, dan kemudian Partai NU. Dari sinilah kemudian ia menjadi politisi, dan seperti kita ketahui Idham Chalid menduduki banyak jabatan tinggi di pusat kekuasaan, dari menteri, menko, wakil perdana menteri, ketua partai, ketua DPR-MPR, Ketua DPA, dan banyak lagi. Bahkan Presiden Soeharto sempat memintanya menjadi wakil presiden, namun ia tolak dan kemudian Pak Harto memilih Adam Malik. Jadi, terjun ke dunia politik, membuka peluang untuk duduk pada posisi yang jauh melampaui cinta-citanya.

Contoh dari politisi yang lebih muda dapat disebut Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina SPi MSi. Dalam beberapa kali obrolan, suami dari Dr dr Hj Siti Wasilah ini bercerita bahwa setelah menjadi Sarjana Perikanan ULM Banjarbaru, ia sempat ikut tes pegawai untuk menjadi peneliti yang akan menangani hal-hal yang terkait dengan pertanian dan peternakan. Ia bersama tiga orang kawan dinyatakan lulus, dan tinggal menunggu SK untuk penugasan. Ternyata setelah ditunggu tiga bulan, enam bulan, SK tidak kunjung turun. Setelah ditanya, tidak ada kejelasan, dan ternyata petugas yang mengelola urusan itu sudah pindah, dan lowongan dimaksud sudah diisi orang lain. Sekiranya lulus dan beroleh SK, Ibnu Sina yakin dirinya menjadi pegawai Dinas Pertanian atau Peternakan, dan kalau karier berjalan bagus, maksimal mungkin akan menjadi kepala dinas.

Sesuai keahliannya di bidang perikanan, Ibnu Sina cs ingin ikut usaha pertambakan udang yang dulu banyak dibuka di Jawa dan Sumatra. Sambil itu ia bersama kakawanan mengelola usaha tambak ikan mas, nila, patin, lele, udang dll. Namun dalam perkembangannya kurang berhasil, sebab harga pakan relatif mahal, harga jual relatif murah, sehingga biaya operasional lebih besar dibanding margin keuntungan. Akhirnya usaha perikanan ditinggalkan. Menurut Ibnu Sina sekiranya berhasil mungkin ia akan menjadi pengusaha tambak dan sejenisnya.

Baca Juga :  Penjaga Sunyi Informasi Bangsa

Gagal di dua bidang tersebut, Ibnu Sina yang sudah menjadi aktivis mahasiswa dan aktivis dakwah sejak kuliah, ikut terjun ke dunia politik yang marak di awal era reformasi. Bersama Alwi Sahlan dll ia mendirikan Partai Keadilan (kini PKS) yang dikenal sebagai partai dakwah. Setelah lama memimpin PKS, Ibnu Sina beralih ke Partai Demokrat. Dari kedua partai inilah karier politiknya terus berkembang, sehingga ia pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Kalsel selama tiga periode dan kemudian menjadi Walikota Banjarmasin dua periode. Posisinya sebagai politisi di ranah legislatif dan eksekutif ini jauh melampaui pekerjaan pegawai, jabatan kepala dinas, atau pengusaha yang dulu sempat dicitakannya.

Tidak Sim Salabim

Cerita singkat di atas mengandung makna, bahwa yang namanya di balik sesuatu pasti ada hikmahnya, blessing in disguise, ada benarnya. Kita tidak boleh berhenti jika menemukan jalan tertutup, sebab di balik itu pasti ada jalan lain yang terbuka dan justru lebih prospektif. Sama juga ketika Allah memberi kita suatu kekurangan, di sisi lain pasti ada kelebihannya.

Tentu masih banyak contoh serupa, namun dari sini menunjukkan bahwa terjun ke dunia politik membuka peluang bagi seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya. Ilmu, keahlian, pengalaman, akan lebih efektif sekiranya kita sumbangkan untuk dunia yang lebih luas. Menjadi politisi, baik di ranah legislatif maupun eksekutif, memungkinkan orang menyumbangkan berbagai gagasan dan mengabdi pada banyak aspek. Kalau kita tak punya jabatan, banyak gagasan hanya sebatas pemikiran yang diwacanakan, diceramahkan atau ditulis saja. Tetapi kalau jabatan ada di tangan, maka banyak hal dapat diaktualisasikan secara nyata.

Namun semua itu tidak datang sendirinya. Idham Chalid dan Ibnu Sina, sebelum atau ketika terjun ke dunia politik sudah membekali diri. Rajin belajar, membaca, aktif berorganisasi, aktivis mahasiswa, aktivis dakwah, menjadi trainer, pembicara, dan segala macam. Dengan begitu ketika sudah tampil di ruang publik sudah ada isinya, tidak asal bunyi, asal tampil, asal menjabat. Kalau bekal-bekal sudah disiapkan, jadi apapun seseorang akan bermakna. Usaha tidak akan mengkhianati hasil atau sebaliknya. Semua ada prosesnya, orang banyak sering tidak tahu detil dan sukadukanya. Tidak ada yang sim salabim dan berhasil spontan tanpa usaha. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan