Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Cuti Ayah Dapatkan Memperbaiki Kualitas Generasi?

×

Cuti Ayah Dapatkan Memperbaiki Kualitas Generasi?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muhandisa Al-Mustanir
Pemerhati Generasi

Dikutip dari idntimes.com Jakarta, IDN Times – Pemerintah kini sedang merancang aturan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pria agar bisa ikut menikmati ‘cuti ayah’ untuk mendampingi istrinya melahirkan dan mengasuh bayi. Hal itu nantinya termuat di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai manajemen ASN. Saat ini RPP tersebut sedang digodok bersama Komisi II DPR.

Baca Koran

Menpan RB Abdullah Azwar Anas menambahkan bahwa hak cuti itu merupakan aspirasi dari banyak pihak. Saat ini, kata Azwar, pemerintah masih meminta masukan dari sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Komisi II DPR. Menurutnya, selama ini yang diatur hanya cuti bagi ASN perempuan yang melahirkan. Tetapi, cuti bagi ASN pria yang istrinya melahirkan belum pernah diatur secara khusus. Hak ‘cuti ayah’, kata Azwar, sudah jamak diberlakukan di sejumlah perusahaan multinasional dan telah diterapkan di beberapa negara. Lama cuti yang diberikan bervariasi mulai dari 15 hari, 30 hari, 40 hari hingga 60 hari. Tetapi, untuk lama cuti ASN di Indonesia masih terus dibahas di parlemen. 

Lebih lanjut, Azwar menjelaskan alasan di balik pemerintah mengusulkan hak cuti ayah bagi ASN pria. Pemerintah, kata Azwar, berpandangan peran ayah yang mendampingi istri melahirkan dan fase awal pasca-persalinan, merupakan momen penting. Maka diharapkan dengan adanya pemberian hak cuti itu, diharapkan kualitas proses kelahiran anak bisa berjalan dengan baik. Apalagi fase itu penting untuk menyiapkan sumber daya manusia terbaik penerus bangsa. 

Namun sayangnya, pemberian hak cuti ini dirasa belum adil dan merata sebab hanya menyasar pada ASN saja, sedangkan pekerja swasta juga tidak kalah banyaknya. Dikutip dari TEMPO.CO, Jakarta – Rencana pemerintah untuk memberikan hak cuti ayah bagi aparatur sipil negara (ASN) dinilai setengah-setengah dan tidak adil secara menyeluruh. Pasalnya, pemerintah seolah menjadikan ASN sebagai anak emas, tanpa memikirkan nasib pekerja di sektor swasta. Menurut Presiden Asosiasi Serikat Pekerja atau Aspek Indonesia Mirah Sumirat pemerintah perlu mengambil kebijakan yang berkeadilan dan menyeluruh. Pemerintah mesti mengeluarkan kebijakan yang dapat dirasakan oleh pekerja di semua sektor, baik swasta maupun negeri. Di samping itu, perlu dipastikan perihal gaji atau upah, sebab akan percuma jika mereka mendapatkan cuti tanpa digaji. Menurut Mirah, pemerintah cenderung memperlakukan ASN sebagai anak emas bukan kali ini saja. Baru-baru ini, pemerintah menaikkan gaji ASN sebesar 8 persen, sedangkan buruh rata-rata hanya 3 persen.

Hak cuti bagi ayah sebenarnya bukanlah kebijakan yang baru terdengar, di beberapa negara besar di Eropa dan Amerika hal ini sudah sangat lumrah ditemukan. Oeh karena itulah Indonesia berusaha meniru kebijakan yang ada di negara-negara tersebut dengan harapan bisa memperbaiki dan menciptakan generasi terbaik dan maju.

Baca Juga :  Dampak Minimnya Hidden Manner terhadap Harmoni Sosial

Namun yang jadi pertanyaan, apakah adanya kebijakan cuti bagi ayah ini benar-benar seberpengaruh itu untuk memperbaiki kualitas generasi? Tentu ini adalah kesimpulan yang sangat pragmatis dan tidak menyentuh pada akar permasalahan.

Jika kita bicara tentang kebangkitan sebuah peradaban, maka kita tidak boleh langsung bicara soal perkara-perkara cabang dan teknis seperti cuti ayah, tetapi haruslah melihat dari banyak faktor, terutama faktor-faktor mendasar dari sebuah kebangkitan.

Hal yang termasuk pada faktor mendasar kebangkitan generasi adalah sistem kehidupan yang menjadi pembentuk dari generasi itu sendiri, sebab dengan sistem kehidupan inilah manusia menjalani kehidupannya dan tumbuh berkembang di bawah sistem kehidupan tersebut. Contohnya adalah ketika sebuah generasi hidup di dalam sistem kehidupan yang berorientasi pada materi dan manfaat seperti Kapitalisme, maka generasi yang lahir adalah generasi yang seluruh tujuan hidupnya mengarah hanya pada capaian materi dan keuntungan semata, tanpa memerdulikan lagi adanya nilai moral, adab, bahkan agama. Maka tidak heran juga generasi yang dihasilkan pun adalah generasi yang minus akhlak dan agamanya serta jauh dari sifat tanggung jawab, dan berbuat hanya berdasar hawa nafsu semata, sebab yang menjadi tujuan hanyalah kebermanfaatan materi semata. Oleh karenanya, jika sistem kehidupan yang seperti ini diterapkan dan tetap dipertahankan, maka solusi seperti adanya cuti bagi ayah ataupun ibu terasa seperti solusi yang tambal sulam bahkan hampir-hampir tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Seperti itu lah yang terjadi pada generasi yang ada di negara-negara barat hari ini. Generasi yang lahir terlihat cerdas dan luar biasa di luarnya, tapi di dalamnya menjadi generasi yang sangat rapuh dan rusak, hal itu tercermin dengan budaya kebebasan yang makin menguat namun juga dibarengi dengan mental generasinya yang makin hancur. Bahkan kita tidak asing lagi dengan data yang menyebutkan negara-negara barat ini juga menjadi negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi dan tingkat Depresi yang parah.

Hilangnya peran ayah dan utamanya kedua orang tua memang juga menjadi hal mendasar dalam pembentukan karakter anak. Tapi hal ini tidak serta merta terjadi begitu saja melainkan hilangnya peran ini juga tersebab sistem kehidupan yang rusak tadi. Peran ayah di dalam sistem kapitalisme misalnya, hanya sebatas pada pencari nafkah semata dan dituntut untuk memenuhi keuntungan dari sistem kapitalis, bukan lagi sebagai pemimpin dan pengurus di dalam rumah tangga. Sehingga keluarga kehilangan peran yang sangat penting untuk pembentuk karakter, anak laki-laki kehilangan sosok yang bisa dijadikan panutan dalam kepemimpinan dan tanggung jawab, dan anak perempuan kehilangan sosok penjaganya. Hilangnya peran ini lantas diisi oleh pihak lain atau bahkan dibiarkan kosong saja. Oleh karenanya, sistem Kapitalisme telah mengamputasi banyak peran penting dalam keluarga, padahal adanya peran di keluarga ini lah yang berperan paling awal untuk membentuk pribadi dan karakter manusia.

Baca Juga :  SALAT LIMA WAKTU

Kembali kita bicara tentang cuti ayah, apakah sebenarnya perlu? Tentu saja tetap diperlukan, hanya saja dampaknya tentu tidak akan sebesar yang diharapkan oleh pemerintah sebab ada banyak faktor yang mendasari bangkitnya generasi. Maka disini peran negara harusnya lebih serius dan besar lagi dari pada hanya sekedar menambah cuti.

Bicara soal peran ayah, sebenarnya memang benar bahwa peran seorang ayah dalam kelaurga adalah sesuatu yang sangat penting. Di dalam Islam sebuah keluarga dikatakan mempunyai ketahanan tatkala seorang ayah yang merupakan kepala dan penanggung jawab utama keluarga mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya mulai dari kebutuhan naluri, fisik, dan akal serta bisa memaksimalkan perannya tersebut. Allah SWT berfirman, “Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya…” (QS. An-Nisa: 34)

Islam sebagai sistem kehidupan yang rahmatan lil ‘alamin berperan penuh dalam rangka melejitkan peran para ayah. Islam memfasilitasi dan menyiapkan setiap individu laki-laki agar siap menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai ayah dengan sukses, peran yang dimaksud ialah sebagai pemimpin, yang mengayomi, melindungi, menafkahi, dan mendidik keluarganya. Dan tentu saja beberapa fungsi dan pemenuhan kebutuhan keluarga haruslah ditopang melalui peran negara. Sebab negara lah yang berperan utama dalam terjalankannya aturan kehidupan yang menopang institusi keluarga. Rasulullah SAW bersabda, “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya”. (HR. Muslim dan Ahmad).

Dengan terjalankannya peran negara dan masyarakat yang support terhadap peran orang tua di dalam keluarga inilah yang pada akhirnya akan melahirkan generasi-generasi terbaik. Dan dengan penerapan Islam, generasi yang dilahirkan tidak hanya generasi yang maju secara lahiriyahnya saja tapi insyallah juga melahirkan individu-individu yang beriman dan bertakwa serta siap menjadi pemimpin, sehingga akan terjaga keteraturan di dalam sistem kehidupan yang berlangsung. Wallahu’alam Bishawab.

Iklan
Iklan