Iklan
Iklan
Iklan
HEADLINE

Ini Indikator Perekonomian Kalsel Masih Positif

×

Ini Indikator Perekonomian Kalsel Masih Positif

Sebarkan artikel ini
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, Syafriadi saat memberikan keterangan di acara Press Conference ALCo yang dilaksanakan di Aula Kanwil DJKN Kalselteng Banjarbaru, Selasa (30/4/2024). (Kalimantanpost.com/humas Kanwil DJPb Provinsi Kalsel)

BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Di tengah kondisi perekonomian global yang tidak pasti sebagai dampak ketegangan politik di Timur Tengah berpotensi mengancam kondisi ekonomi domestik. Namun demikian sampai dengan Triwulan I 2024 ini, kondisi perekonomian Kalimantan Selatan masih terjaga, berada di tren positif.

Menurut Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, Syafriadi di acara Press Conference ALCo yang dilaksanakan di Aula Kanwil DJKN Kalselteng Banjarbaru, Selasa (30/4/2024), indikator-indikator yang
menunjukkan keadaan perekonomian Kalimantan Selatan yang positif tersebut antara lain tingkat inflasi Maret 2024 tercatat sebesar 0,62 persen (mtm) atau mengalami inflasi sebesar 2,58 persen (yoy), dibawah rata-rata nasional yang mencapai 3,05 persen.

“Juga surplus perdagangan terus berlanjut di Bulan Maret 2024 sebesar US$ 538,37 juta, tetapi perludiwaspadai adanya tren penurunan dari periode sebelumnya. Ini imbas dari menurunnya volume ekspor sebesar – 37,60 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan harga komoditas andalan Kalsel yang juga turun,” ujarnya.

Indikator lainnya, lanjut Syafriadi, kelompok barang dengan ekspor tertinggi masih didominasi oleh bahan bakar mineral/batubara dengan porsi 94,46 persen.

Dikesempatan itu, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel juga mengungkapkan Kinerja APBN sampai dengan Maret 2024, khususnya di sisi pendapatan telah terealisasi sebesar Rp4,22 triliun atau 18,26 perse. dari target.

“Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2023, pertumbuhannya -23,02 persen. Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan angka
pertumbuhan yang positif yaitu 9,33 persen dengan realisasi sebesar Rp531,37 miliar. Realisasi total belanja
negara sebesar Rp8,26 triliun atau 21,80 perse dari pagu. Capaian ini meningkat 25,30 persen dibandingkan tahun
lalu,” katanya.

Realisasi Belanja untuk periode Triwulan I 2024 ini didominasi oleh realisasi Belanja Pegawai dalam
rangka pembayaran THR pegawai dalam rangka Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga:  Komitmen Perlindungan Anak, Paman Birin Dianugerahi KPAI 2023

Penjelasan lebih rinci untuk pendapatan negara, jelas Syafriadi, realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri mencapai Rp3,64 triliun atau 16,98 persen dari target, terkontraksi sebesar -23,90 persen (yoy).

Kontribusi terbesar
berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp2,25 triliun, kemudian PPN memberikan kontribusi
sebesar Rp1,19 Triliun.

Ada pun tiga sektor yang memberikan kontribusi penerimaan perpajakan terbesar berasal
dari sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi sebesar 35,3 persen, kemudian sektor
pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,9 persen, dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar
11,4 persen.

“Secara kumulatif, sampai dengan Bulan Maret 2024, mayoritas sektor utama masih tumbuh positif,
kecuali Sektor Pertambangan dan Penggalian, Sektor Perdagangan Besar, dan Sektor Pertanian, yang
mengalami kontraksi,” ujarnya.

Selanjutnya, kinerja penerimaan negara yang dipungut oleh Kanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai Kalimantan
Bagian Selatan sampai dengan Maret 2024 sebesar Rp2,27 triliun.

Penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp46,81 miliar dan penerimaan lainnya Rp2,22 triliun. Tantangan yang dihadapi terkait penerimaan
yang dipungut oleh Kanwil DJBC Kalbagsel adalah penurunan harga ekspor komoditas batubara, CPO dan turunannya.

Selanjutnya pada sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), realisasi penerimaannya telah
mencapai Rp531,37 miliar atau 42,81 persen dari target, tumbuh 9,33 persen (yoy).

Capaian ini berasal dari PNBP
BLU (24,77 persen) dan PNBP Lainnya (75,23 persen). PNBP Lainnya antara lain berasal dari PNBP yang dipungut
DJKN yaitu PNBP aset, piutang negara, dan bea lelang.

Realisasi belanja negara sampai dengan 31 Maret 2024 sebesar Rp8,26 triliun, atau sebesar 21,80 persen dari pagu yang terdiri dari Belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp2,09 triliun (23,78 persen dari pagu)
dan Belanja Transfer ke Daerah/TKD sebesar Rp6,17 triliun (21,20 persen dari pagu). Khusus untuk belanja
pegawai, realisasinya meningkat karena dipengaruhi oleh pembayaran THR pegawai dalam rangka Hari
Raya Idul Fitri.

Baca Juga:  Antisipasi Gangguan Kamtibmas, Polsek Murung Patroli Malam

Untuk belanja modal, pemerintah terus mendorong akselerasi belanja modal di awal tahun

  1. Realisasi belanja modal sampai dengan Maret 2024 baru mencapai Rp103,12 miliar (8,73 persen dari
    pagu). Rendahnya serapan belanja modal karena sebagian besar belanja modal khususnya untuk
    pekerjaan konstruksi baru tahap lelang dan baru selesai di periode Semester II 2024.

Untuk kinerja belanja,
terdapat 10 K/L dengan presentase realisasi terbesar di Kalimantan Selatan adalah KPU, Bawaslu,
Bappenas, Kementerian Pertahanan, Mahkamah Agung, BKKBN, BPKP, Kepolisian, BPK, dan Kementerian Agama. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan