Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

HAJI DAN TAHUN BARU ISLAM

×

HAJI DAN TAHUN BARU ISLAM

Sebarkan artikel ini

Oleh : ANDI NURDIN LAMUDIN

Dua hal yang merupakan kemenangan kamu muslimin pada setiap tahunnya. Hari raya fitrah dan hari raya korban. Hari raya fitrah, dimana puasa adalah kewajiban yang merupakan jalan menuju ketakwaan. Banyak melakukan shalat pada bulan Ramadhan dan zakat fitrah sebagai penyempurna dari makna puasa Ramadhan. Karena itu, jika melihat surat Al-Kautsar ayat kedua, yang artinya karena itu tegakkan shalat dan berkorbanlah. Jika makna shalat dan berkorbanlah itu, maka shalat adalah makna dari Idul Fitri, kemudian berkorbanlah adalah makna dari Hari Raya Haji atau hari raya korban. Dua makna yang menyimbolkan hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan sesama umat manusia.

Maka banyak juga kaum muslimin memberikan makna pada tahun baru Islam. Padahal sudah jelas dalam hitungan bulan dalam setahun itu. Bulan haji adalah bulan keduabelas, kemudian bulan tahun baru Islam pada bulan berikutnya, atau bulan pertama, yaitu Muharram. Jika melihat ibadah dalam islam dengan tanda tanda puasa di dalamnya, ketika itu puasa Arafah. Maka pada bulan Muharram juga dianjurkan puasa, terutama pada 10 Muharramnya. Apa makna di balik semua itu? Peristiwa haji itu juga berhubungan dengan 10 Muharram. Jika makna itu terhubungan, maka ditengahnya ada yang disebut dengan tahun baru Islam. Dari sana dapat dilihat, jika tahun baru Islam itu terhubung dengannya haji dan peristiwa 10 Muharram. Maka haji dan jihad serta shahid, adalah merupakan makna dalam ibadah Islam mdrupakan hal yang utama dalam pandangan Ali Shariati, sosiologi Islam.

Hal itu bukan sebuah yang kebetulan. Memang sangat sistimatis serta sempurnanya hubungan ibadah dalam Islam dalam hitungan bulan dalam satu tahun itu. Pada peristiwa itu ketika pertikaian ummat Islam yang berhubungan dengan negara Islam dalam sejarah. Bahwa pada peristiwa itu Imam Husin, jelas pada waktu waktu berhaji di dalam lautan kaum muslimin juga, membelokkan dirinya untuk menyelesaikan persoalan kaum muslimin untuk menuju Kuffah, yang mana apa dan bagaimana semestinya negara muslim itu dibentuk dan terbentuk? Peristiwa itu sangat legendaris dan sangat menentukan niat para mereka yang memang untuk menyelesaikan amanat dari Allah SWT. Ternyata justru keluarga beliau dihalau kepada padang Karbala. Mereka rela syahid demi untuk tetap berlangsungnya syariah dan negara yang semestinya dapat melindungi makna aqidah dan syariah itu sendiri.

Baca Juga:  Mengulik Anggaran Penanganan Wabah Corona

Kamu muslimin semestinya tidak boleh menutup mata, dalam melakukan kajian makna ada peristiwa haji dan jihad seta syahid. Dilakukan oleh mereka yang memang mempunyai derajatnya sendiri, di dalam tingkatan iman dan ibadah, bahkan menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Memang hidup adalah pilihan, bahkan ibadah sendiripun merupakan pilihan-pilihan, yang mana menyesuaikan dengan kemampuan pada setiap orang itu sendiri. Karena situasi dan keadaan yang berbeda. Hal itu dapat dicontohkan jika dalam keadaan seseorang itu pada negara sekuler, yang memisahkan Islam dan Negara. Maka cerita itu tentu saja hanyalah merupakan refrensi saja. Namun ketika negara mulai terjadi ketidak adilan,di mana penindasan oleh para penguasa, dimana hukum agama mulai diremehkan dan ditinggalkan. Maka nampaknya cerita itu menjadi mungkin dan muncul ke permukaan, seperti solusi yang harus terjadi. Serta dapat merasakan situasi itu, dimana mereka tetap menjaga iman dan ketakwaan dalam situasi apapun. Karena itu dalam menyelesaikan solusi dalam berbagai macam situasi. Selalu saja ada contohnya.

Iklan
Iklan