Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Keluarga Sebagai Basis Buku

×

Keluarga Sebagai Basis Buku

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Menulis Beberapa Buku Sejarah dan Budaya Banjar

Upaya menjadikan bangsa Indonesia melek ilmu dan informasi melalui keaktifan membaca selalu dilakukan, termasuk melalui keluarga. Pameran buku Ikapi di arena Pekan Raya Jakarta 26 Juli sampai 4 Agustus 1991, lebih 30 tahun mengambil tema “Buku untuk Keluarga”. Tema ini dirasa penting, tepat dan masih relevan hingga sekarang. Pasalnya, keluarga merupakan lingkungan utama dan pertama dikenal anak begitu ia lahir ke dunia. Ada ungkapan: al-Umm madrasatul ’ula (ibu/keluarga adalah sekolah pertama). Karenanya untuk memasyarakatkan buku harus dimulai dari keluarga. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal haruslah dijadikan sebagai basis penumbuhan kegemaran membaca di kalangan anak-anak.

Masalah paling mendasar sekarang, upaya pemasyarakatan buku dari lingkungan keluarga masih terasa amat kurang. Dan perhatian para orangtua pun masih jauh dari memadai. Yang namanya buku identik dengan sekolah, sehingga banyak keluarga cenderung tidak menganggap penting penyediaan buku-buku untuk bacaan di rumah. Rumah bukan sekolah, begitu kira-kira anggapan mereka.

Pameran dengan tema di atas berupaya untuk menghapus kesan tersebut. “Tema tersebut dapat menggugah masyarakat bahwa buku tidak hanya diperlukan di jalur pendidikan sekolah saja, tetapi buku juga diperlukan keluarga sebagai salah satu pusat dalam proses pendidikan”, begitu ditekankan Mendikbud (1988-1993) Fuad Hassan (alm) ketika membuka pameran tersebut. (Banjarmasin Post, 28 Juli 1991).

Dikatakannya, buku hendaknya diperkenalkan dan digunakan anak sedini mungkin. Karena melalui buku anak dapat mengenal dan memahami dunia di luar dirinya, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta mendorong untuk mengumpulkan dan memperkaya perbendaharaan pengetahuan yang berguna dalam pembentukan pribadinya. Jika kebiasaan ini dapat diawali dari pendidikan dalam keluarga, maka membaca atau belajar dari buku tidak akan dianggap sebagai beban, melainkan kenikmatan, lanjutnya.

Peran orang tua

Menyadari pentingnya penumbuham minat baca pada anak sejak dini, maka tinggal kesadaran dan kemauan setiap keluarga untuk mengusahakannya. Memang selama ini belum ada cara baku sebagai kiat yang tepat untuk merangsang minat pada anak. Budayawan Mochtar Lubis (alm) mengaku bukan ahli merangsang dan menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini. Namun ketika memberikan ceramah tentang “Membangun Perpustakaan Keluarga untuk Merangsang dan Menumbuhkan Minat Baca pada Anak Sejak Dini” pada pameran buku Ikapi 29 Juli, ia juga berkenan mengemukakan sedikit pengalamannya.

“Mungkin saya tertarik membaca buku sejak kecil, karena ibu. Baru kemudian karena ayah. Ibu saya punya banyak cerita dan dongeng dan suka mendongeng pada anak-anaknya”. Dari kesukaan mendengar dongeng, berkembanglah minat bacanya. Kebetulan minat ini mendapat dukungan dari ayahnya yang punya perpustakaan di rumah. Keberadaan sebuah perpustakaan di tengah keluarga sangat penting bagi perkembangan minat baca anak. Dengan membaca, anak-anak jadi punya kekuatan imajinasi dan kreativitasnya berkembang. Selain itu, anak jadi berpikir dan menyerap berbagai informasi.

Baca Juga:  Ayo Disiplin Protokol Kesehatan Patuhi 5M

Anak itu selalu punya rasa ingin tahu (curiosity) yang besar. Mereka tak pernah lelah bertanya. Ini apa? Kenapa begitu? Mengapa begini? Adalah tugas orangtua membimbing dan mempertinggi rasa ingin tahu anaknya, ujar sastrawan kawakan yang pernah menerima hadiah Ramon Magsaysay ini. (Nova, No. 180/IV Agustus 1991).

Mengacu kepada pendapat Mochtar Lubis di atas, jelas menuntut kearifan orangtua. Mereka harus aktif merangsang rasa ingin tahu anak secara positif dengan menyediakan buku-buku bermutu, majalah atau koran yang sesuai dengan perkembangan anak. Dan orangtua sendiri pun tentu saja harus menjadi teladan yang baik. Dalam arti orangtua harus pula punya kegemaran membaca, sehingga anak-anak mau menirunya.

Sebagai konsekuensinya, tentu saja orangtua harus menyisakan sedikit anggaran keluarganya untuk membeli bahan-bahan bacaan. Di sinilah bagi orangtua yang kurang berpendidikan atau tak menyadari artinya bacaan, akan merasa berat. Ada uang pun belum tentu mereka mau membeli. Membeli pulsa, kuota dan jajan mereka tak keberatan, giliran membeli buku enggan. Kebiasaan membeli buku/bacaan memang belum menjadi tradisi masyarakat kita. Jangankan membeli sendiri, meminjam di perpustakaan dan membaca kepunyaan orang pun bukan main malasnya (Penulis, Mutiara, 1 Juli 1991).

Dasar Filosofis

Seiring dengan penanaman minat baca dengan mengadakan buku-buku bermutu dalam keluarga, orangtua pun perlu menanamkan dasar-dasar filosofis akan pentingnya buku. Contoh-contoh orang besar yang sukses dalam hidupnya karena jasa buku perlu sekali disebut dan dikenalkan kepada anak. Anak yang sedang tumbuh dan gandrung mencari idola tentu akan mengagumi tokoh-tokoh tersebut.

Kenyataan memang secara mutlak membenarkan, tak seorang pun yang sukses tanpa buku. Apakah ia sebagai ulama, ilmuwan, politikus, ekonom, pengusaha, sastrawan/budayawan, pengarang, penulis, wartawan dan sebagainya. Sepanjang alur sejarah teramat banyak jika kita sebut mereka satu persatu. Abraham Lincoln, Johan Sebastian Bach, George Stephenson, Thomas Alfa Edison, Al-Ghazali, Bung Karno, Bung Hatta, Hamka, dan lain-lain, hanyalah segelintir dari sejumlah orang yang berhasil karena buku.

Tidak mengherankan jika Herbert N Casson melalui bukunya “Rahasia Kesuksesan” memberikan beberapa nasihat, di antaranya bacalah buku-buku yang bermutu, di mana di dalamnya anda akan mendapatkan jalan untuk langkah kemajuan. Bacalah buku-buku bermutu dalam waktu senggang. Anda dapat membeli 8 atau 10 buku bermutu baik setiap tahun, jika anda dapat menabung beberapa puluh rupiah setiap minggu. Kemudian anda akan mempunyai perpustakaan sendiri dalam 10 tahun. Semua perpustakaan milik sendiri melukiskan kebijaksanaan untuk tidak bergantung kepada buku-buku pinjaman.

Baca Juga:  HUKUM RIMBA

Kekuasaan buku lebih daripada politik. Buku menciptakan pendapat umum, yang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pemerintahan umum. Tingkat kebudayaan dapat dinilai dengan buku-buku. Tidak ada seorang pria pun dari 100 pria yang dapat mengharap sukses besar dalam hidupnya, jika dia mengabaikan buku-buku (Tjiwie Sjamsuddin, Banjarmasin Post, 1 Maret 1988).

Memang cukup banyak ungkapan filosofis berkenaan dengan manfaat buku. Buku adalah teman hidup ke arah sukses, buku sebagai gudang ilmu, buku sebagai media untuk membelah dan membuka dunia, dan sebagainya. Pujangga besar Inggris Thomas Carlyle bahkan menyatakan, buku adalah universitas yang sesungguhnya. Peribahasa senada mengungkapkan, the book is an extension of the eye, buku merupakan perpanjangan pandangan mata. Dengan buku kita akan melihat dan tahu banyak. Info, ilmu dan teknologi sebagian besar ditransfer dari buku (M. Anthoni, Dinamika Berita, 22 Juli 1991).

Ajaran agama pun tidak ketinggalan juga berbicara soal ini. Sejumlah agama besar di dunia selalu menekankan supaya umatnya gemar membaca. Agama Islam misanya, sejak turunnya Al-Qur’an ayat pertama sudah menekankan keharusan membaca ini. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia melalui kalam (tulis baca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS al-Alaq: 1-5).

Meski begitu, minat baca umat Islam tetap rendah. Motivasi agama yang dengan tegas menyuruh mereka rajin membaca seperti kurang berbekas. Yang sering terlihat, di samping malas membaca kitab sucinya, buku-buku agamanyanya, buku/bacaan umum pun malas. Atau kalau pun ada kegemaran membaca, justru terhadap berita kriminalitas, bacaan kurang bermutu, tidak mendidik, dll. (Panjimas, No. 665/1990).

Keprihatian serupa agaknya juga dirasakan umat Kristen. Pastor H Lampe, SJ dalam satu Seminar Konsultasi Teologi Komunikasi pernah mengatakan, bacaan Kristen hanya mencapai golongan kecil, sebagian dari kaum terpelajar, tetapi rakyat besar belum menemukan Sabda Tuhan. ”We are barely scratching the surface”. Kita baru sampai pada permukaan. Bagian terbesar belum terjangkau, tegasnya (Hidup, No. 20, 20 Mei 1990).

Dominasi Televisi

Baca Juga:  Pemberdayaan Perempuan Wirausaha melalui Bisnis Inklusif  

Kuatnya acuan dasar keharusan membaca, maka peranan orangtualah yang lebih dahulu diharapkan menumbuhkannya di kalangan anak-anaknya atau anggota keluarganya. Untuk itu etos cinta buku harus lebih dahulu ditanamkan, diiringi pengadaan buku dalam keluarga dan pendisiplinan anak untuk mau dan gemar membaca.

Sejalan dengan itu kendala-kendala harus disingkirkan dan ditekan seminimal mungkin. Salah satu kendala tersebut adalah dominasi televisi (sekarang juga internet), yang begitu menguasai atensi anak. Dampak televisi ini nyaris tidak terhindarkan, mengingat sebagian besar keluarga sekarang sudah memiliki pesawat televisi. Beberapa di antaranya bahkan menggunakan antena dan alat serupa yang dapat menangkap aneka siaran dalam negeri dan mancanegara secara full-time.

Peneliti W. Schramm J Lyla dan EB Parker, dalam buku “Television in the Living of Our Children” (1961) dan “The People Look at Educational Television” (1963), menekankan bahwa TV sangat besar pengaruhnya terhadap anak-anak pada saat waktu luang mereka, terlebih lagi dalam mencari hiburan. Pengaruh itu timbul karena pengaruh TV dapat memuaskan kebutuhan psikologis anak. Anak-anak butuh fantasi dan pengalaman-pengalaman realitas.

Memang ada beberapa manfaat TV bagi anak dan anggota keluarga. Ia akan menambah perbendaharaan pengetahuan dan bahasa anak-anak, sehingga mereka akan lebih betah di rumah, tidak mencari hiburan lain di luar rumah, tidak mencari hiburan lain di luar rumah. Namun jika waktunya tak terkendali, dan yang mereka tonton cuma hiburan dan adegan kekerasan saja, jelas akan merusak anak. Selain mereka tak sempat lagi membaca buku, bukan mustahil mereka juga jadi agresif, nakal dan bertingkah aneh-aneh, seperti yang mereka saksikan pada acara TV.

Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut, tentu kontrol orangtua amat penting. Menonton TV bagi anak tidak mesti dan tidak boleh sepanjang waktu. Waktu mereka harus disisakan secara memadai untuk membaca buku/bacaan lain yang bermutu. Para orangtua harus menyadari betul bahwa buku amat penting dan modal utama untuk kecerdasan anak. “Anak yang cerdas dan pintar merupakan aset penting bagi pembangunan dan masa depan”, ujar Yaumil Agoes Achir (almh), yang mengikuti Konerensi Dunia IX tentang Anak Pintar dan Berbakat di Denhaag 29 Juli sampai 2 Agustus 1991 (Dinamika Berita, 10 Agustus 1991).

Semoga para orangtua menyadari pentingnya buku dan menjadikannya sebagai kebutuhan pokok keluarga. Tak hanya makan- minum, pakaian, tempat tinggal, buku juga kebutuhan penting bagi anak yang ingin pintar. Anak pintar adalah aset yang amat berharga bagi keluarga.

Iklan
Iklan