Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Maminandui Urang Banjar

×

Maminandui Urang Banjar

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ahmad Barjie B
Penulis beberapa buku sejarah dan budaya Banjar

Lebih 10 tahun lalu Lembaga Budaya Banjar (LBB) mengadakan seminar budaya bertema “Maminandui Ciri Khas Urang Banjar”, di Taman Budaya Kayu Tangi Banjarmasin. Menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya Prof Dr Djantera Kawi (alm), Drs H Syamsiar Seman (alm), Dr H Zulkifli Musaba MPd (alm), Drs H Syarifuddin R (alm), Dr H Karlie Hanafi Kalianda, Drs Zainal Arifin Anis MHum, Drs H Noor Aidi, Drs H Bihman Muliansyah, dan lain-lain. Diantara tokoh Banjar yang hadir adalah Prof Melkianus Paul Lambut, Prof H Kustan Basri (alm), H Ahmad Makkie (alm), Suriansyah Ideham (alm), Jhon Tralala (alm), Taufik Arbain, Tajuddin Noor Ganie, Gusti Marhusin dan lainnya.

Sultan Banjar H Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pangeran Ahmad Nooryakin Mugeni (alm) menyambut baik kegiatan ini sebagai salah satu usaha untuk menghidupkan ghirah dan semangat kebanjaran, sambil meminta agar penggalian sejarah dan budaya Banjar semakin diintensifkan lagi di masa-masa datang.

Di antara yang menarik dari seminar yang dipandu budayawan Adjim Arijadi (alm) ini adalah semua narasumber dan peserta dimintakan untuk berbicara dalam bahasa daerah Banjar, terserah mau Banjar hulu, batang banyu atau kuala. Karena itu ada nuansa khas dalam acara ini, mengingat penggunaan bahasa Banjar dalam acara-acara resmi selama ini masih jarang terdengar.

Saya sendiri kebagian tugas memimpin pembacaan doa, yang juga diminta berbahasa Banjar. Saya menyanggupi, namun ketika berada di podium saya berubah pikiran. Di akhir acara pembukaan, Adjim Arijadi mendekati saya dan bertanya mengapa doa yang saya bacakan menggunakan bahasa Arab dan Indonesia, bukan dengan bahasa Banjar. Saya jawab, rasanya agak janggal jika doa dipanjatkan dengan bahasa Banjar. Apalagi saya berasal dari Banjar Hulu, tepatnya Kelua-Tabalong, yang bahasa Banjarnya tentu lebih khas. Tak mustahil hadirin akan tertawa. Padahal dalam berdoa kita diperintahkan untuk khidmat dan khusyuk. Selama ini saja, dalam berdoa bersama kita sering berbicara, ngobrol antar teman bahkan tertawa, dan ini salah satu kekurangan umat Islam dibanding dengan umat lain yang lebih khusyuk dalam berdoa.

Baca Juga:  Upaya Dibalik Pelarangan Pernikahan Usia Anak

Sebenarnya, tidak ada yang salah jika kita berdoa memakai bahasa daerah. Kalau dibandingkan dengan masyarakat Jawa, Sunda dan Madura, di sana banyak ceramah agama, khutbah dan doa, berita media massa, bahkan juga sambutan pejabat menggunakan bahasa daerah masing-masing. Kita urang Banjar memang belum terbiasa.

Dalam soal berbahasa, kalau tak berbahasa Indonesia kita cenderung jadi orang Jakarta, bahkan banyak yang sudah mencampuradukkannya dengan bahasa Inggris. Apakah ini suatu kemajuan atau kemunduran, apakah mereka minder menggunakan bahasa Banjar, perlu dikaji lebih lanjut. Yang jelas fenomena itu berdampak pada makin pudarnya bahasa dan budaya Banjar.

Semakin Sulit

Kembali ke topik, usaha merumuskan apa dan siapa urang Banjar sekarang ini semakin sulit dilakukan. Jika dilihat dari fisiknya, urang Banjar tidak memiliki ciri fisik yang jelas, tidak seperti urang Batak, Dayak, Madura, Bugis, Papua atau kawasan Indonesia Timur lainnya yang lebih mudah dikenali. Urang Banjar ada yang kulitnya putih, sawo matang dan hitam, ada yang hidungnya mancung dan pesek, ada yang rambutnya keriting, lurus dan berombak, jadi semuanya tidak jelas.

Cuma kebanyakan urang Banjar tidak memiliki postur tubuh yang besar, seperti orang Sumatera. Artinya rata-rata berfisik kecil dan sedang. Tetapi mereka punya nyali besar, terutama dalam urusan merantau ke daerah atau negeri orang di seberang pulau. Urang Banjar juga memiliki gengsi yang tinggi, suka pilih-pilih pekerjaan, tidak bermental jongos atau babu (sulit untuk jadi orang suruhan atau bawahan, inginnya jadi atasan walau posisinya di bawah), enggan sekolah tinggi, suka berbelanja alias bergaya hidup konsumerisme, kurang produktif, suka mengikuti tren mode dalam urusan pakaian, perhiasan, kendaraan, alat komunikasi dan tampilan fisik lainnya. Juga memiliki semangat tinggi melakukan ibadah haji dan umrah. Kemiskinan masih besar disebabkan kurangnya kesalehan sosial, namun jumlah calon jamaah haji selalu membengkak dan untuk urusan ini waiting list urang Banjar tertinggi di Indonesia sesudah Makassar.

Di segi penamaan, urang Banjar sekarang juga tidak jelas lagi. Kalau orang Madura, Sunda, Jawa, Batak, Bugis, Dayak, nama-nama orangnya mudah dikenali, baik di segi nama dan tulisannya, maupun marganya. Dulunya, nama-nama urang Banjar agak mudah diketahui. Menurut Syamsiar Seman, dulu ada nama Tuganal, Tuhalus, Tukacil, Tulamak, dan lain-lain. Ada yang Abdulnya disingkat menjadi Durahman, Dumanaf, Durasid, Durajak, dan lain-lain. Kemudian ada nama yang ujungnya “syah”, misalnya Suriansyah, Abidinsyah, Chairansyah, Chairiansyah, Irhamsyah, Ibramsyah, Mubransyah, Gholamsyah, Hormansyah, Hermansyah, Darmansyah, Fitriansyah, Utuhansyah, Robensyah, Syukeriansyah, Hatmansyah, dan lainnya.

Baca Juga:  Mengawal Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan

Belakangan nama urang Banjar yang ujungnya “syah” ini makin langka, terutama di kalangan anak-anak kecil dan baru lahir. Selanjutnya, banyak urang Banjar yang ujungnya bernama “din”. Misalnya Bahruddin, Zainuddin, Fakhruddin, Abidin, Nurdin, Nuruddin, Hasanuddin, Ahmad, Muhammad, dan lain-lain. Ini adopsi dari bahasa Arab dan ini positif. Tetapi sayangnya penyebutan dalam panggilan sehari-hari cenderung disingkat, menjadi Udin, Amat, dan lainnya, sehingga kurang berpahala. Berbeda dengan bangsa Arab, mereka memanggil nama orang dengan lengkap, bahkan bersama bin/bintinya.

Dalam seminar tidak terungkap nama-nama Effendi, yang dulu juga banyak digunakan urang Banjar, misalnya Rustam Effendi, Rusdi Effendi, Bachtiar Effendi, Muhammad Effendi, Yusran Effendi, dll. Nama Effendi juga banyak digunakan di kalangan masyarakat Batak Sumatra Utara. Jika dikaji, Effendi diadopsi dari istilah bahasa Turki, artinya tokoh, orang terpandang. Mengapa urang Banjar sempat menggunakan nama itu, mungkin perlu dicari benang merahnya dengan Kesultanan Turki Ottoman dulu. Belakangan nama Effendi juga makin jarang digunakan untuk anak-anak.

Karena sulitnya mengidentifikasi, maka yang lebih tepat barangkali adalah rumusan umum saja, bahwa urang Banjar itu adalah urang yang beragama Islam, yang dulu nenek moyang mereka tinggal di wilayah Kesultanan Banjar Islam (1526-1905), mencakup seluruh Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah, Timur dan Barat. Kemudian umumnya berbahasa Banjar.

Apakah sekarang mereka masih tinggal di wilayah tersebut atau luar daerah, apakah masih berbahasa Banjar atau bukan tidak jadi masalah. Bahkan jika diperlebar, mereka yang punya istri atau suami, mertua, lahir, besar dan tinggal lama di Banjar pun dapat kita kategorikan sebagai urang Banjar. Asas yos suli (tempat lahir) maupun yus sanguinis (keturunan) dapat kita jadikan dasar membanjarkan penduduk. Kita tidak perlu ekslusif.

Baca Juga:  Mampukah, UIN Antasari Mendirikan Fakultas Kedokteran ?(Momentum Dies Natalis ke-58)

Mengerahkan Potensi

Di tengah makin sulitnya mengidentifikasi dan terjadi pelunturan budaya Banjar, kita memang perlu bangkit. Maangkat batang tarandam, sebagaimana misi Kesultanan Banjar (KB) saat ini merupakan hal positif. Tetapi KB selain menoleh ke belakang juga berobsesi untuk menjangkau zaman ke depan.

Oleh karena itu akan lebih produktif dan prospektif jika kita juga berorientasi pada penggalian dan pengerahan potensi untuk mencapai kemajuan. Untuk itu urang Banjar hendaknya makin rajin sekolah, kuliah setinggi mungkin, agar mampu menjadi tuan di daerahnya sendiri. Dengan kepintaran, penguasaan ilmu dan teknologi, maka kekayaan SDA dapat digali dan dikembangkan oleh urang Banjar sendiri untuk kesejahteraan banua. Tidak ada sejarahnya suatu daerah bahkan negara bisa maju dan sejahtera hanya dengan mengandalkan investor dari luar.

Politisi dan tokoh Banjar juga harus lebih vokal menuntut haknya kepada pusat, tidak jadi anak manis saja. Dan kalau ada urang Banjar yang ingin naik, mengorbit pada posisi yang lebih tinggi, baik di daerah maupun di pusat hendaknya didukung bersama-sama, sebagaimana filosofi urang Banjar naik pinang. Ahmad Makkie mengingatkan agar tendensi bacakut papadaan yang selama ini masih kental di kalangan urang Banjar, segera dihilangkan.

Namun di tengah kemajuan yang diraih, urang Banjar tidak boleh melupakan akar budaya leluhurnya. Ini penting sebab, seperti pendapat Prof Dr Helius Syamsuddin dalam seminar Milad Kesultanan Banjar, budaya Banjar adalah budaya yang bercorak Melayu Islam. Jadi banyak nilai keislaman yang sudah diadopsi, melarut dan menyatu dalam budaya Banjar.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai iptek, tetapi budaya adiluhungnya masih melekat kuat. Kurang apa majunya bangsa Jepang, Cina, Inggris, dan lain-lain, tetapi mereka masih kuat memegang budaya. Sementara kita, maju juga tidak tetapi sudah seperti ingin melupakan budaya sendiri. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan