BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Persiapan dan penelitian terus dilakukan Muhammad Sandi dan dua rekannya untuk membikin pembungkus makanan dengan bahan dasar biji alfukat.
“Saat ini kami terus melakukan penilitian mengolah biji alfukat menjadi pembungkus makanan tapi bisa dimakan,” ujar mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Teknik Kimia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini yang ditemui usai acara penyerahan simbolis dana pendamping Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Program Penguatan Kelembagaan Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) ULM di ruang LT Mini SAC 4 General Building ULM Banjarmasin, Jumat (18/7/2025).
Pihaknya mengangkat biji alpukat dalam penelitian, karena penggunaan itu masih jarang dan masih belum yang meneliti.
“Sekarang ini sudah tahap pertama penelitiannya dan persiapan bahan sudah mereka lakukan. Kami juga sudah runningkan untuk penelitiannya dan sudah sampai pemanasan bahan. Saat ini kami dinginkan apa yang kami teliti itu,” ujarnya
Namun, kata Sandi, ini baru awal yang mereka teliti itu, tentang pembungkus yang bisa dimakan yang bahannya dari biji Alpukat.
“Semoga penelitian kami ini nantinya bisa masuk tahap Pimnas,” harapnya.
Ketua Pokja Talenta dan Prestasi Mahasiswa ULM Dr Muhammad Abdan Shadiqi, SPsi, Msi, mengatakan untuk pendanaan PKM itu ULM dapat dua bidang saja yaitu riset eksakta dan sosial humaniora dari 8 bidang pendanaan.
“Tahun ini, di PKM dan Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa organisasi terdapat 13 kelompok PKM dan 4 kelompok PPK Ormawa dapat pendanaan,” tandasnya.
Dijelaskan dosen Psikologi ULM ini, PKM itu ada empat klaseter yaitu klaster 1, 2, 3 dan 4. ULM itu masuk paling tinggi, klasternya 1 dan dapat 13 kelompok.
“Tahun lalu di PKM kita masuk 6 besar nasional karena 67 proposal PKM, sedangkan PPKO kita lebih besar dari tahun ini yakni 12 subproposal mendapat pendanaan,” ucapnya.
Ditambahkannya, jumlah yang menyusut karena adanya efisiensi anggaran di kementerian sekaligus persaingan yang semakin ketat. Dari 13 PKM itu kegiatan mereka melakukan riset. Ada yang di lab berarti dia eksakta melakukan eksperimental di bidang Teknik, Fisika, Kimia dan Biologi, serta ada juga penelitian sosial ke masyarakat.
Abdan menambahkan, PKM yang menarik itu harus berkaitan dengan unsur budaya, kalau di Kalsel itu Budaya Banjar yang bisa dijual untuk ke nasional. Pasalnya, di nasional itu orang berlomba-lomba memajukan budayanya masing-masing.
“Kita juga berusaha penguatan ke budaya Banjar,” tegasnya.
Kalau PPKO itu harus lebih ke masyarakat desa dan komunitas untuk membantu masyarakat.
Ditambahkan Abdan, tahun lalu tim mereka meraih meraih perunggu tentang PKM riset sosial judi online dan satunya meraih gelar favorit yang mengangkat tentang mahasiswa Papua merantau ke sini.
Terpisah, Koordinator (PIC) Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa ULM, Muhammad Irwan Setiawan, SGz, MGz mengatakan untuk tahun ini ada efesiensi dari pusat sehingga berdampak pada pengurangan kuota dari 20 menjadi 10 subproposal saja yg boleh diunggah Perguruan Tinggi. Alhamdulillah untuk ULM tahun ini mendapatkan empat subproposal yang lolos dan didanai.
“Di PPK Ormawa ada proposal yang diusulkan di perguruan tinggi dan sub proposal yang diusulkan oleh organisasi Mahasiswa. Jadi empat subproposal itu temanya: Desa Wisata dari BEM FKIK , Desa Maritim dari TENSI FKIK, ada Ormawa IAAS-LC Faperta mengambil Desa Sanggar Tani, kemudian Sekolah perempuan diusulkan oleh DPM FKIK,” tandasnya.
Ditambahkan Irwan, dari keempat itu akan melakukan kegiatan bersama masyarakat, bina suasana advokasi, pengabdian dan pemberdayaan sesuai dengan program yang diusulkan.
“Nanti akan dilakukan monitoring tim dari PPK Ormawa pusat sampai ditentukan dari empat ini apakah layak untuk mendapat penghargaan abdi daya ormawa di Malang,” tandasnya.
“Tahun lalu di Bali dan kita meraih juara ketiga dari HIMA Fisika FMIPA, mengangkat teknologi IOT dalam filter air dan mitibasi banjir di Gambut,” tegas dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM ini.
Hanya saja, kata Irwan, satu yang belum didapatkan yaitu nominasi dosen pendamping.
“Kemarin itu kami sadari pas penilaian dosen itu harus full secara aktif untuk melakukan pembinaan, pembimbingan, menyusun instrumen, dan menghasilkan luaran yang berdampak. Kita sadari itu yang masih menjadi keterbatasan kita, dan mudah-mudahan tahun ini bisa maksimalkan supaya bisa dapat nominasi dosen pendamping di Abdi Daya 2025,” ujarnya.
Semoga tahun ini, lanjut dia, dapat nominasi dosen pendamping. (ful/KPO-3)