Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Olahraga

Barito Putera Bagaikan Bertarung Melawan Tim Liga 1 di Wilayah Timur, Ini Profil Calon Lawannya

×

Barito Putera Bagaikan Bertarung Melawan Tim Liga 1 di Wilayah Timur, Ini Profil Calon Lawannya

Sebarkan artikel ini
IMG 20250820 WA0024 e1755678105687

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Genderang ‘perang’ Liga 2 atau Championship 2025/2026 akan ditabuh mulai 12 September 2025 mendatang. Walau pun kompetisi belum digulir, ‘aroma’ persaingan pun sudah terasa dimana tim-tim peserta Liga 2 melakukan perburuan pemain baru dan melakukan serangkaian uji coba.

Begitu juga klub kebanggaan Urang Banjar, Barito Putera mempersiapkan diri sedini mungkin dengan jor-joran dalam memburu pemain baru agar bisa memenuhi target, kembali bisa promosi ke Liga 1 atau Super League musim depan.

Kalimantan Post

Beberapa rekrutan pemain anyar dilakukan manajemen tim Seribu Sungai
diantaranya menggaet mantan pemain Persib Bandung Gian Zola Nasrollah Nugraha, Wildan Ramadhani dan mantan pemain PSIS Semarang Muhammad Hargianto, memulangkan kembali sang mantan Frendi Saputra dan merekrut pemain muda Pramoedya Putra Suhardi.

Di gelandang serang, setelah Lucas Morelatto ‘ngacir’ ke klub Suriah, manajemen Barito Putera langsung bergerak cepat mencari pemain pengganti yang lebih berkualitas yakni
Alexandro Ferreira yang merupakan top skor Liga 2 bersama PSBS Biak 2023/2024.

Sebelumnya, Barito Putera juga telah merekrut center back gaek Fabiano Da Rosa Beltrame pada 13 Juli 2025 lalu. Center back berusia 42 tahun ini selain sama-sama berasal dari Brazil ini di musim lalu satu klub bersama Alexandro Ferreira di PSBS Biak.

Selain pemain anyar, Tim Seribu Sungai masih diperkuat beberapa pemain muka lama seperti Bayu Pradana, Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa, Buyung Ismu, Renan Alves, Jaime Moreno, Nor Halid, Satria Tama, Rizky Pora, Iqbal Gwijangge, Yuswanto Aditya, Alexandro Kamuru, Ferdiansyah.

Lalu ada nama, Natanael Siringoringo, Muhammad Ridho, Aditiya Daffa, Murilo Mendes, Abdul Aziz, Aimar Iskandar, Gale Trisna, Beri Santoso, Haudi Abdillah dan Bima Reksa.

Melihat materi pemain tim Laskar Antasari sudah tak perlu diragukan lagi kualitasnya, karena rata-rata sudah berpengalaman tampil di Liga 1 Indonesia.

Ditambah pelatih yang menangani klub kebanggaan Urang Banjar, Stefano Cugurra Teco bukan kaleng-kaleng pernah membawa Persija Jakarta dan Bali United meraih juara Liga 1.

Persiapan Barito Putera pun cukup panjang dan telah melakukan serangkaian uji coba dengan tim Liga 1 atau Super League dengan mengalahkan PSIM Yogyakarta 1-0 dan menahan imbang PSBS Biak 2-2.

Namun, dipertandingan terakhir menghadapi sesama klub Liga 2 Persiraja Banda Aceh kalah 0-1 di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh pada Sabtu (16/8/2025) malam.

Mampu mengalahkan tim Super League PSIM Yogyakarta dan menahan imbang PSBS jangan membuat pemain Barito Putera besar kepala, karena ini hanya merupakan uji coba dimana setiap tim mencoba pemain, terutama lapis kedua. Buktinya, PSIM Yogyakarta menunjukkan kualitasnya di partai pembuka Super League dengan mengalahkan tim tangguh Persebaya Surabaya dan bermain imbang 1-1 lawan Arema FC.

Sebaliknya, tim Laskar Antasari mendapat peringatan ‘lampu kuning’ saat dikalahkan sesama tim Championsip, Persiraja 0-1. Berarti masih banyak yang perlu dibenahi menghadapi kompetisi Liga 2 yang akan digulir mulai 12 September 2025 mendatang.

Apalagi Barito Putera yang masuk Wilayah Timur menghadapi lawan-lawan tangguh dan merupakan tim-tim yang pernah berkiprah di Liga 1 atau Divisi Utama di musim lalu.

Baca Juga :  Persemar Putra Plaosan Menang Lewat Adu Penalti

Hanya satu klub dari 10 tim Wilayah Timur yang belum merasakan atmosfir kompetisi tertinggi di Liga Indonesia yakni Kendal Tornado FC.

Selebihnya yaitu PSIS Semarang, PSS Sleman, Persiku Kudus, Persela Lamongan, Deltras FC, Persiba Balikpapan, Persipal Palu, dan Persipura Jayapura dulunya merupakan klub yang malang melintang di Perserikatan, Divisi Utama, Ligina hingga Liga 1 yang turun ke liga 2.

Persiku Kudus diera tahun 1990-an pernah cukup disegani dan berkiprah di Liga Dunhill tahun 1994-1995. Turun kastanya Persiku Kudus yang waktu itu dimotori Bambang Harsoyo sebelum pindah ke Barito Putera, bukan karena terdegradasi, melainkan mengundurkan diri disebabkan di sponsori rokok merek lain.

Begitu juga nama Persipal Palu juga tak begitu asing di era tahun 1990-an dan pernah melahirkan pemain handal Yusuf Mardani yang pernah membela Barito Putera.

Namun, nama Persipal Palu kemudian menghilang setelah terdegradasi di Ligina. Barulah nama Persipal kembali mencuat mengikuti kompetisi Liga 2, setelah mengakusisi klub Liga 2, Muba Babel United pada pertengahan tahun 2022.

Bagaimana dengan peserta lainnya Deltras FC Sidoarjo. Buat pecinta sepakbola, sudah pasti mengenal nama klub tersebut. Di era Galatama klub ini sempat berkibar di tahun 1990 tapi masih bernama Gelora Dewata Bali karena markasnya pindah ke Bali mulai tahun 1989 – 2001.

Prestasi GDB di pentas sepakbola Indonesia cukup bagus. Ini tak lepas peran dua pemain asingnya, khususnya dua pemain asal Angola, yaitu Vata Matanu Garcia dan Abel Campos sempat bertahun-tahun membawa GDB jadi runner up Galatama (1993/1994).

Bersamaan waktu, di tahun 2001Gelora Dewata Bali kembali balik ke Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur dan berubah nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) hingga tahun 2011.

Mulai tahun 2011, namanya kembali berganti menjadi Delta Putra Sidoarjo atau akrab disingkat Deltras hingga sekarang.

Prestasi Deltras sendiri mengalami pasang surut dan sempat terdegradasi ke Liga 2
tahun 2011-2012. Bahkan tim ini sempat terpuruk ke Liga 3 dari 2016-2022.

Setelah melalui perjuangan panjang, Deltras akhir promosi ke Liga 2 tahun 2022/2023 setelah menembus 8 besar Liga 3 Zona Nasional.

Sayangnya di dua musim Liga 2 yaitu 2023/2024 dan 2024/2025 hanya sampai babak 8 besar. Dua kegagalan itu sudah pasti menjadi pemicu agar Deltras tampil lebih baik lagi di musim kompetisi 2025/2026 hingga menembus Super League.

Bagaimana dengan Persipura Jayapura. Klub asal Papua ini
merupakan tim sepak bola paling sukses di liga Indonesia, dengan meraih empat kali gelar juara masing-masing pada tahun 2005, 2008-09, 2010-11 dan 2013 dan tiga kali menempati peringkat kedua sejak unifikasi kompetisi Galatama dan Perserikatan pada 1994. Persipura juga menjadi satu-satunya tim dari Indonesia yang pernah masuk ke babak semifinal Piala AFC tahun 2014.

Sayangnya nasib Persipura terdegradasi ke Liga 2 yang mengakhiri masa 29 tahun mereka di level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Mereka menang 3-0 atas Persita Tangerang di laga terakhir pada tanggal 31 Maret 2022, tapi itu tidak cukup dikarenakan Barito Putera, yang unggul 2 poin di klasemen sebelum laga tersebut, bermain imbang 1-1 melawan Persib. Barito berada di atas Persipura lewat keunggulan rekor pertemuan meskipun berpoin sama.

Baca Juga :  Kevin Diks Kembali Bermain, Monchengladbach Ditahan Leverkusen 1-1

Persipura pun berjuang bisa kembali bangkit. Selama dua musim mengarungi Liga 2, tim Mutiara Hitam ini hanya mampu menembus 8 besar pada tahun 2023/2024 dan 2024/2025.

Perubahan manajemen dilakukan di musim 2025/2026 membawa angin segar bagi Persipura. Persiapan lebih bagus dan memiliki talenta pemain berbakat bakal menjadi ancaman bagi Barito Putera serta tim lainnya merebut tiket ke Super League musik depan.

Terakhir saingan Barito Putera meraih tiket ke Super League adalah klub provinsi tetangga Persiba Balikpapan. Tim yang menunjukkan eksistensinya sejak digulirkannya Perserikatan 1984-1985 masih mampu kembali berlaga di kasta tertinggi Liga Indonesia.

Padahal Persiba sempat cukup disegani dimana pada tahun 2006 lolos ke babak delapan besar. Pada Liga Super Indonesia 2009-2010, Persiba menempati posisi 3 di bawah Arema FC dan Persipura Jayapura. Malah lebih baik dari posisi Persib Bandung diperingkat keempat dan Persija Jakarta di posisi kelima.

Sayangnya, Persiba mengalami pasang surut prestasi, turun kasta di Divisi Satu di musim 1998-1999. Lima musim bergelut di level kedua kompetisi sepak bola nasional, Persiba baru bisa kembali ke divisi utama setelah mampu menempati peringkat empat wilayah Timur pada musim kompetisi 2004.

Lagi-lagi di musim 2017, klub kebanggaan Balikpapan ini harus rela kembali turun kasta ke Liga 2 karena menempati diposisi ke-17. Hingga saat ini Persiba Balikpapan masih berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi Indonesia ke Super League.

Bagaimana dengan dua tim lainnya PSIS Semarang, PSS Sleman, pecinta sepakbola di Indonesia sudah mengetahuinya. Kedua tim ini bersama Barito Putera terdegradasi ke Liga 2 pada musim 2024/2025.

Baik PSIS maupun PSS Sleman juga akan berusaha kembali bangkit untuk bisa bertarung di Super League musim depan.

Melihat sejarah perjalanan calon lawan-lawannya, Barito Putera jangan terlalu ‘terlena’ dengan hasil uji coba maupun materi pemain yang rata-rata dihuni mantan pemain Liga 1 serta diperkuat tiga pemain asing, diantaranya Renan Alves, Alexandro Dos Santos, striker Jaime Moreno dan pemain naturalisasi Fabiano Beltrame serta Lassana Doucore,

Tidak menutup kemungkinan tim-tim non unggulan bakal bikin kejutan dan menjadi batu sandungan bila tim kebanggaan Urang Banjar lengah.

Pengalaman pahit turunnya kasta saat masih bernama Divisi Utama turun ke Divisi I Liga Indonesia pada tahun 2003. Bahkan tahun berikutnya terdegradasi ke Divisi II Liga Indonesia pada tahun 2004, menjadi pelajaran sangat berharga.

Setelah berjuang empat tahun, tepatnya pada tahun 2008, Tim Seribu Sungai memenangkan Divisi II Liga Indonesia, dan promosi ke Liga Indonesia Divisi I.

Pada tahun 2010, Barito Putera finis di posisi delapan dan dipromosikan ke Divisi Utama Liga Indonesia dan sekarang berubah menjadi Liga 1.

Kali ini, Rizky Pora diharapkan tak perlu menunggu empat tahun lagi, tapi tahun depan sudah kembali berlaga ke Super League. Semangat (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan