BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Sesuai janjinya, pencipta lagu asal Banjarmasin, Khairiadi Asa melaunching dua lagunya yang berjudul Pantun Urang Banjar dan Nasi Kuning Banjar di Gedung Batas Kota Pal 6 Banjarmasin, Sabtu (10/1/2026).
“Lagu Pantun Urang Banjar sudah ada di kanal YouTube saya, sedangkan lagu Nasi Kuning Banjar masih editing video clipnya,” ujar Khairadi, Minggu (11/1).
Dijelaskannya, tujuan menciptakan kedua lagu itu untuk mengangkat kembali tema-tema budaya Banjar, sendiri di tengah derasnya pengaruh budaya pop dari luar saat ini yang disertai kecanggihan teknologi AI (kecerdasan buatan) dalam membuat sebuah lagu.
“Saya juga sudah menciptakan 76 lagu dan saat ini sebanyak 22 lagu yang dirilis secara utuh dengan aransemen musiknya,” ungkapnya.
Saat peluncuran lagu tersebut juga dibarengi dengan diskusi tentang lagu Banjar ciptaan Khairiadi Asa.
Dikata prolog disampaikan lagu Banjar saat ini dirasakan belum mampu bersaing atau kalah popularitasnya dibanding lagu daerah lainnya. Namun secara kualitas lagu Banjar yang dibuat para musisi di Banua sendiri tidak kalah, bahkan sering menjuarai even lomba lagu pop daerah di tingkat nasional.
Menanggapi hal itu, musisi yang juga jurnalis Puja Mandela, salah satu langkah untuk memopulerkan lagu Banjar antara lain soal distribusinya ke pasaran.
“Disamping kualitas lagu, soal distribusinya juga perlu diperhatikan. Seberapa viral sebuah lagu itu juga ditentukan sejauh mana distribusi lagu itu disebarkan. Banyak sarana yang bisa dilakukan melalui platform media sosial misalnya,” ujar Puja Mandela yang sering mengamati perkembangan trend para musisi di tanah air melalui media sosial, youtube, spotify dan lainnya.
Puja juga menyarankan perlunya membentuk ekosistem bermusik yang mendukung lagu-lagu Banjar yang dicipta menjadi populer. Tanpa ekosistem yang memadai, sulit bagi lagu Banjar menjadi tuan di rumahnya sendiri, apalagi hingga populer pada tingkat nasional.
Dalam diskusi launching lagu Banjar karya Khairiadi Asa juga dihadiri pemantik lainnya Dr Sumasno Hadi. Doktor bidang musik ini menyampaikan dukungan serta motivasi kepada semua pencipta lagu Banjar di Banua.
“Apa yang dilakukan Pak Khairiadi Asa yang telah melahirkan banyak karya lagu Banjar ini perlu mendapat perhatian kita semua. Terutama pemerintah daerah harus mengapresiasi karena tema-tema yang beliau angkat tidak lepas dari persoalan budaya Banjar itu sendiri,” ujar Sumasno Hadi sambil memotivasi kepada Khairiadi Asa untuk terus berkarya sepanjang masih ada ide-ide yang dimunculkan.
Menurut Sumasno buatlah lagu itu tanpa ada beban ini dan itu. Ciptakan saja lagu-lagu Banjar sebanyak mungkin, dan serahkan kepada pasar untuk menilainya.
“Tidak semua lagu yang disangka laku diterima pasar. Banyak lagu yang dianggap tidak bagus, ternyata justru diterima dan disambut antusias oleh pasar. Harus dipahami, pasar punya logikanya sendiri dan sering kali sulit dibaca,” ujarnya menambahkan.
Dalam diskusi tersebut disamping menampilkan pembicara Khairiadi Asa (pencipta lagu), Sumasno Hadi dan Puja Mandela (pemantik), Noorhalis Majid (moderator), hadir beberapa wartawan, aktivis, dan akademisi. Semua peserta memberikan tanggapannya perlunya lagu Banjar diangkat dan terus dikembangkan, agar bisa lebih menasional bahkan mendunia. (ful/KPO-3)














