Oleh : Hikmah, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Generasi
Pemerintah mengambil langkah tegas dalam menangani krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama delapan pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. Jakarta (06/03)
“Hari ini kita telah menandatangani dan menyepakati SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak. Ini adalah momen penting karena isu tekait kesehatan jiwa anak tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja. Sembilan K/L ini telah berbagi peran untuk memperkuat penanganan kesehatan jiwa anak secara bersama,” ujar Menteri PPPA, di Jakarta, Kamis (05/03).
Menteri PPPA menjelaskan pihaknya telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, yang salah satu poin utamanya menyoroti masalah kesehatan jiwa. Berdasarkan survei tersebut, ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 62,19 persen diantaranya juga mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual, dalam 12 bulan terakhir. (www.kemenpppa.go.id, 06/03/2026)
Kemenkes: data healing119.id dan KPAI, ada 4 faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup (konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen).
Krisis kesehatan jiwa anak semakin meningkat, ini adalah dampak dari diterapkannya sistem kehidupan sekuler liberal. Sistem yang dibuat oleh manusia yang notabene tidak sempurna serba terbatas, sehingga wajar pada realitanya tidak dapat mengatur kehidupan secara baik dan benar.
Bertubi-tubi permasalahan yang terjadi di negeri ini tidak ada yang selesai tuntas, solusi yang ada saat ini hanya try and error karena tidak mendasar hanya menyentuh permukaan. Tentu ini harus dicari akar masalahnya agar mendapatkan solusi yang dapat menyelesaikannya secara tuntas dan tidak menimbulkan masalah baru lagi. Sehingga terlebih dahulu harus dipahami secara mendalam terhadap fakta-faktanya.
Paradigma dan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat semakin hari semakin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal dengan hegemoni media kapitalisme global. Para remaja dan anak dari dalam rumah sudah teracuni budaya yang tidak sesuai dengan adat ketimuran dan bertentangan dengan ajaran Islam seperti budaya hedon, pakaian dan pergaulan yang serba bebas, pikiran yang menganggap kebahagiaan itu ada ketika memiliki banyak harta.
Pendidikan di keluarga, di sekolah dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam. Parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi belaka. Ini yang membuat anak dan remaja menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, membuat mereka cepat stress, depresi bahkan gila kalau keinginannya tidak tercapai.
Dari fakta dan analisa di atas dapat disimpulkan bahwa akar dari permasalahan yang terjadi saat ini adalah sistem sekuler liberal kapitalistik, dimana sistem sekuler tersebut harus menjadi musuh bersama umat. Perjuangan dakwah harus diarahkan untuk mengganti sistem sekuler tersebut menjadi sistem Islam.
Negara menjalankan tanggung jawabnya sebagai ra’in dan junnah (pengurus dan penjaga/perisai) dalam melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai sekuler, liberal kapitalistik.
Paradigma politik dalam sistem pendidikan, sistem kesehatan dan sistem ekonomi harus terintegrasi diatur berdasarkan syariat Islam. Sejarah telah membuktikan bagaimana ketika sistem Islam diterapkan dalam kehidupan umat manusia sejahtera, tercukupi segala kebutuhannya baik pokok maupun pelengkapnya, sehingga jauh dari sakit mental. Kejahatanpun minimalis dapat dihitung dengan jari. Ini hanya akan terwujud dengan pertolongan Allah SWT dan perjuangan umat.
Kita tidak harus menunggu penderitaan rakyat lebih parah lagi baru bisa sadar bahwa saat ini perubahan tidak hanya pada pemimpin saja, tapi juga harus perubahan sistem, karena sistem itulah akar masalahnya.
Bagaimana memperjuangkan sistem Islam agar tegak kembali dan cara menerapkannya agar Islam kembali menjadi rahmat bagi seluruh alam, tentunya harus mencontoh perjuangan Rasulullah dan para sahabat Rasul. Wallahu a’lam.












