Oleh : Fatimah
Aktivis Muslimah
Panic buying bahan bakar minyak (BBM) dampak dari peperangan antara Iran melawan Amerika Serikat kini terjadi di banyak negara. Indonesia tidak ketinggalan antrean Panjang terlihat menghiasi SPBU di berbagai daerah. Setelah ditelusuri, warga mengaku khawatir terjadi kelangkaan lagi akibat perang yang terjadi di Timur Tengah. Menteri ESDM Indonesia, Bahlil Lahadalia menyikapi fenomena ini dengan meminta masyarakat agar tetap tenang dan menegaskan bahwa stok BBM Indonesia masih dalam keadaan yang aman.
Akibat fenomena ini, di tengah masyarakat kini muncul pertanyaan mengapa setiap gejolak global terjadi, dampaknya secara langsung berimbas pada ketersediaan energi dalam negeri?
Sebagai komoditas strategis, ketersediaan BBM terutama di Indonesia menjadi sangat penting. Bisa dilihat dari penggunaannya semakin tinggi disertai dengan banyaknya alat transportasi berbahan bakar minyak ini. Sehingga statusnya sangatlah sensitive, kelangkaannya sedikit saja, dapat menimbulkan gejolak ekonomi, sosial, bahkan politik.
Ditambah dengan konflik geopolitik Timur Tengah yang menimbulkan efek domino terhadap pasokan energi dunia. Hal ini dikarenakan kawasan Timur Tengah menjadi jalur distribusi utama dari pusat produksi minyak terbesar yaitu sekitar Uni Emirat Arab (UAE). Ketegangan Iran dan AS serta ancaman Iran untuk menutup selat Hormuz yang merupakan jalur lewatnya minyak dunia memusingkan negeri lainnya yang juga membutuhkan minyak-minyak tersebut.
Bisa dibayangkan, bahwa sekitar 20% konsumsi minyak dunia akan melintas melewati jalur ini. Maka dengan langkanya BBM, akan memicu inflasi, gangguan distribusi, bahkan hingga konflik sosial. Lama-kelamaan, krisis energi dapat melemahkan daya tahan negara dan meningkatkan ketergantungan terhadap pihak luar. Inilah yang menjadikan kedaulatan energi sebagai isu krusial.
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme global, energi adalah produk komoditas ekonomi semata. Ia tidak dijaga dan hanya dikeruk untungnya. Negara-negara yang kaya akan sumber energi, akan menjadi pemasok bahan mentah tanpa kontrol ke negara-negara maju yang dianggap lebih menguasai pengelolaan bahan mentah (energi) tersebut. Sehingga terciptalah ketergantungan pada negara lain, yang mengakibatkan ketimpangan ekonomi. Secara tidak sadar, kita juga telah membuka celah penjajahan baru, di mana kontrol atas energi menjadi alat dominasi pada politik dan ekonomi.
Dalam perspektif Islam, energi termasuk dalam kategori Kepemilikan Umum (milkiyyah’ammah) yaitu bahan yang tidak boleh dikuasai individua tau korporasi. Bahan ini dikelola oleh negara dengan penuh tanggung jawab, dan memastikan sumber daya tersebut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Sebagaimana maksud dari makna ‘api’ yang disebutkan dalam hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Prinsip ini menekankan bahwa negara dalam sistem islam tidak akan menyerahkan profit dari pengelolaan energi kepada pihak asing atau swasta yang hanya berorientasi pada keuntungan semata. Untuk menjaga ketahanan energi dapat terjaga stabil tanpa bergantung pada kondisi dinamika pasar global. Maka seluruh keuntungan dari hasil pengelolaan sumber daya ini, akan sepenuhnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk seperti harga energi yang terjangkau, infrastruktur yang memadai dan jaminan distribusi yang merataa.
Fonomena panic buying sebenarnya tak hanya tentang ketersediaan sumber daya, tetapi pada sistem pengelolaannya. Karena dalam sistem kapitalisme global hari ini, kekayaan alam dikuasai korporasi besar dan negara kuat, sementara negeri-negeri muslim hanya menjadi pemason bahan mentah tersebut. Ketergantungan inilah yang menciptakan bentuk penjajahan ekonomi modern, di mana kontrol atas energi digunakan untuk mempengaruhi kebijakan dan stabilitas negara lain.
Jika dikelola dengan benar berdasarkan syariat Islam, yang bukan buatan manusia tapi memanglah panduan dari Sang Pengatur. Maka kekayaan alam seharusnya mampu menjamin kesejahteraan umat hari ini. Selama sistem kapitalisme masih mendominasi, eksploitasi akan terus terjadi. Sudah saatnya umat Islam menyadari potensi besar yang dimiliki dan mendorong penerapan sistem yang menjadikan kekayaan alam sebagai alat kesejahteraan, bukan alat penjajah.














