BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Selatan menilai status baru Bank Kalsel sebagai bank devisa merupakan pencapaian penting yang patut diapresiasi. Kehadiran bank devisa dinilai tidak hanya memperkuat posisi Bank Kalsel, tetapi juga membuka peluang keuntungan yang lebih besar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pengurus Kadin Kalsel Koordinator Bidang Perbankan dan Investasi, H Tajuddin Noor, mengatakan keberadaan bank devisa memang sudah lama dibutuhkan di Banua, terutama untuk mendukung pelaku usaha yang bergerak di sektor ekspor dan impor.
“Dari BPD menjadi Bank Kalsel, dan sekarang berstatus bank devisa. Saya mengikuti perkembangan bank ini sejak awal berdiri, dari kantor yang sederhana hingga kini memiliki gedung yang monumental dan mampu bersaing dengan bank BUMN maupun swasta. Sekarang yang ditunggu masyarakat akhirnya tercapai, yaitu Bank Kalsel menjadi bank devisa,” ujarnya.
Tajuddin mengaku bersyukur karena selama ini Bank Kalsel dinilai terbuka terhadap masukan, saran, dan kritik konstruktif dari kalangan dunia usaha, termasuk Kadin Kalsel. Menurut dia, sinergi antara perbankan dan pelaku usaha harus terus diperkuat agar manfaat bank devisa bisa dirasakan lebih luas.
Ia menuturkan, anggota Kadin Kalsel telah lama menjalin kerja sama dengan Bank Kalsel. Ke depan, ia juga berharap Bank Kalsel dapat membuka peluang penjualan saham kepada masyarakat maupun kalangan pengusaha.
“Sebagai gambaran, anggota Kadin Kalsel ada sekitar 1.000 orang. Kalau nanti ada peluang penjualan saham, tentu ini bisa menjadi potensi profit yang besar bagi Bank Kalsel,” katanya.
Lebih lanjut, Tajuddin menilai status bank devisa akan sangat membantu pelaku usaha ekspor-impor di Kalimantan Selatan, mulai dari sektor batu bara, emas, kayu, rotan, hingga perikanan. Salah satu layanan yang paling dibutuhkan, kata dia, adalah kemampuan Bank Kalsel dalam menerbitkan letter of credit (LC).
“Dengan adanya layanan LC, pelaku usaha akan lebih mudah bertransaksi. Di sisi lain, bank juga mendapatkan profit dari layanan tersebut. Dampaknya juga akan terasa pada pemasukan pajak dan perputaran uang di daerah,” jelas pengusaha senior itu.
Selain sektor ekspor-impor, Tajuddin juga melihat peluang lain yang dapat digarap Bank Kalsel, salah satunya layanan keuangan bagi jamaah haji. Menurut dia, dengan kuota haji Kalimantan Selatan yang mencapai sekitar 5.000 orang, Bank Kalsel memiliki potensi besar untuk mengembangkan layanan perbankan di sektor tersebut.
Meski demikian, Tajuddin mengingatkan bahwa status bank devisa harus diikuti dengan perubahan pola pikir, peningkatan kualitas pelayanan, administrasi, serta kemampuan sumber daya manusia. Ia berharap Bank Kalsel ke depan dipimpin oleh figur yang benar-benar memiliki latar belakang perbankan.
“Dunia usaha berharap nahkoda Bank Kalsel berasal dari kalangan banker, bukan politisi atau birokrat. Banker punya analisa dan insting bisnis. Semua personel di Bank Kalsel juga harus memahami dunia ekonomi dan meninggalkan pola pikir yang terlalu konservatif,” tegasnya.
Menurut Tajuddin, status bank devisa adalah momentum penting bagi Bank Kalsel untuk naik kelas. Namun, keberhasilan ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen dalam menangkap peluang bisnis, memperkuat layanan, dan membangun kepercayaan dunia usaha.(ADV/KPO-1)















