BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Berbeda dari hari pertama yang menyibukkan tangan dengan kain dan celupan warna, hari kedua Womenship Bootcamp membawa suasana yang lebih lembut tapi tidak kalah bertenaga.
Ruang Aula Gedung Lama FISIP ULM dipenuhi aroma bunga segar. Di setiap meja sudah tersedia bahan-bahan yang siap diolah, dan para peserta yang hadir tampak tidak sabar untuk segera memulai.
Hari kedua ini berfokus pada kelas flower arranging, seni merangkai bunga yang mungkin terdengar ringan di permukaan tapi menyimpan kedalaman tersendiri. Narasumber yang didatangkan adalah Joy Gallery, sebuah nama yang sudah cukup dikenal di dunia dekorasi dan desain bunga.
Tidak seperti yang mungkin dibayangkan sebagian orang bahwa merangkai bunga hanyalah soal estetika, Joy Gallery membuka perspektif baru yaitu bahwa keterampilan ini adalah pintu masuk ke industri kreatif yang nyata, dengan pasar yang terus tumbuh dan kebutuhan yang tidak pernah habis.
Sesi dimulai dengan pre-test, lalu dilanjutkan perkenalan narasumber sebelum akhirnya masuk ke inti kegiatan. Selama 60 menit, Joy Gallery membagikan materi sekaligus memandu peserta untuk langsung mempraktikkan teknik merangkai bunga segar. Setiap peserta mendapat giliran menyentuh, memilih, dan menyusun bunga-bunga itu sesuai komposisi yang diajarkan. Hasilnya tidak harus sempurna, tapi prosesnya justru yang paling berharga.
Yang membuat sesi ini lebih dari sekadar kelas keterampilan adalah pendekatan yang digunakan narasumber. Joy Gallery tidak hanya mengajarkan teknik, tapi juga berbagi cerita tentang bagaimana flower arranging bisa menjadi sumber penghasilan yang serius. Dari bisnis dekorasi pernikahan, event organizer, hingga penjualan rangkaian bunga harian secara online semuanya dipaparkan dengan jujur, termasuk tantangan yang ada di lapangan.
Diskusi yang muncul selama sesi pun tidak kalah hidup dari hari pertama. Beberapa peserta aktif bertanya soal modal awal, cara membangun portofolio, dan bagaimana memasarkan karya di media sosial. Ada yang mengaku sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa hobi merangkai bunga bisa dijadikan bisnis.
Setelah sesi praktik selesai, post-test kembali dilakukan untuk mengukur perubahan pemahaman peserta. Hasilnya, seperti yang bisa diduga, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibanding pre-test. Bukan karena soalnya mudah, tapi karena pengalaman langsung memang jauh lebih efektif dari sekadar membaca atau mendengar. Itulah filosofi yang sudah tertanam dalam desain Womenship Bootcamp sejak awal.
Rangkaian hari kedua ditutup dengan pembagian hadiah bagi peserta terpilih, penyerahan sertifikat kepada narasumber, dan foto bersama yang menjadi momen penutup dari dua hari penuh kegiatan. Ketua Umum BEM FISIP ULM Periode 2026 turut hadir dalam seremoni penutupan ini, memberikan kesan bahwa kegiatan ini bukan sekadar program divisi, tapi bagian dari komitmen organisasi terhadap isu pemberdayaan perempuan yang sesungguhnya.
Womenship Bootcamp 2026 resmi berakhir, tapi dampaknya jelas tidak berhenti di situ. Para peserta pulang bukan dengan tangan kosong. Mereka membawa kain sasirangan buatan sendiri, rangkaian bunga yang mereka susun, dan yang lebih penting cara pandang baru tentang apa yang bisa mereka lakukan dengan tangan dan kreativitas mereka. Dua hari, dua keterampilan, satu pesan yang konsisten setiap perempuan punya potensi, dan potensi itu perlu diberi ruang untuk tumbuh.
BEM FISIP ULM melalui Departemen Pemberdayaan Perempuan berhasil menunjukkan bahwa program mahasiswa tidak harus berakhir sebagai formalitas. Womenship Bootcamp adalah bukti bahwa ketika niat baik diterjemahkan ke dalam aksi yang konkret, hasilnya bisa lebih besar dari yang direncanakan. (nug/KPO-4)















