BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Rumah Kemasan Pemerintah Kota Banjarmasin sudah mulai dipadati oleh para peserta sebelum acara dimulai. Para peserta mulai berdatangan, sebagian membawa tas kecil, sebagian lagi sudah terlihat saling berkenalan di depan meja registrasi.
Ini adalah hari pertama Womenship Bootcamp 2026, program pengembangan diri yang diinisiasi Departemen Pemberdayaan Perempuan BEM FISIP Universitas Lambung Mangkurat, dan semangat yang mengalir di ruangan itu terasa nyata sejak awal.
Womenship Bootcamp hadir dengan tema “Where Creativity Meets Women Empowerment”, sebuah gagasan bahwa perempuan muda bukan hanya punya potensi, tapi juga punya hak untuk mengasahnya secara konkret. Bukan lewat seminar kosong atau ceramah motivasi yang habis begitu selesai, tapi lewat pengalaman langsung yang bisa dibawa pulang. Hari pertama ini dirancang untuk memperkenalkan peserta pada salah satu warisan budaya Kalsel yang paling kaya nilai yaitu kain sasirangan.
Acara dibuka Dekan FISIP ULM, didahului sambutan dari Ketua Pelaksana Womenship Bootcamp dan Ketua Umum BEM FISIP ULM Periode 2026. Sebelum masuk ke sesi utama, peserta mengerjakan pre-test singkat sebagai tolok ukur awal pemahaman mereka tentang kreativitas, potensi usaha, dan pemberdayaan perempuan. Hasilnya akan dibandingkan nanti dengan post-test di akhir sesi untuk melihat sejauh mana kegiatan ini benar-benar memberi dampak.
Narasumber dihari pertama adalah Muhammad Redho, seorang pelaku UMKM lokal yang sudah bertahun-tahun menekuni dunia sasirangan. Ia bukan tipe pembicara yang berdiri di podium dan berbicara dari slide presentasi. Ia langsung terjun bersama peserta, menjelaskan proses, makna di balik motif, dan bagaimana kain tradisional ini bisa menjadi peluang usaha yang nyata di era sekarang.
Yang menarik adalah bagaimana sesi ini memadukan teori dan praktik dalam satu napas. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan tentang cara membuat sasirangan, mereka langsung mencobanya. Tangan-tangan yang mungkin belum pernah menyentuh kain tenun pun perlahan mulai mengikuti alur, membuat simpul, mencelup, dan melihat hasilnya sendiri.
Di sela-sela praktik, diskusi kecil pun terbentuk secara alami. Beberapa peserta mulai bertanya soal harga jual kain, potensi pasar, dan bagaimana cara memulai usaha berbasis budaya lokal. Ini bukan pertanyaan yang diinstruksikan panitia, ini muncul begitu saja dari rasa ingin tahu yang sudah terpantik. Dan Redho menjawab semuanya dengan lugas, dari pengalaman nyata.
Setelah sesi berakhir, peserta mengerjakan post-test. Kemudian ada momen pembagian hadiah bagi peserta pilihan dan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya. Foto bersama menutup rangkaian hari pertama dengan hangat tapi yang tersisa bukan sekadar kenangan di kamera, melainkan kesan bahwa hari itu ada sesuatu yang benar-benar dipelajari.
Target peserta kegiatan ini adalah mahasiswi FISIP ULM dan perempuan umum yang ingin mengembangkan kreativitas serta jiwa kewirausahaan mereka. Dan dari apa yang terlihat di hari pertama, targetnya bukan sekadar terpenuhi secara kuantitas. Kualitas keterlibatan peserta bicara sendiri secara aktif, antusias, dan tidak mau melewatkan satu detik pun dari yang narasumber sampaikan.
Womenship Bootcamp membuktikan satu hal sederhana tapi sering terlupakan yaitu perempuan muda tidak butuh diberitahu bahwa mereka mampu. Mereka hanya butuh ruang untuk membuktikannya sendiri. Dan hari pertama ini, ruang itu benar-benar ada dalam bentuk kain, pewarna, dan tangan-tangan yang mulai berani berkarya. (nug/KPO-4)















