BANJARMASIN, Kalimantanpost.com –
Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus ekonomi keluarga, tim pengabdian dari Universitas Achmad Yani (UVAYA) Banjarmasin melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di lingkungan RT 024 RW 002, Kelurahan Tanjung Pagar, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin.
Program ini dibiayai oleh Kemensaintek melalui Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat Diktisaintek Pemberdayaan Kemitraan Masyakarat (PKM) Tahun Anggaran 2026. Secara khusus, kegiatan ini menyasar kelompok ibu rumah tangga yang selama ini belum produktif secara ekonomi, dengan mengubah pekarangan sempit menjadi lahan produksi sayuran melalui teknologi hidroponik.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama dua tahun, dari 2025 hingga 2026, ini diketuai oleh Nurul Huda Fitriani, MPd, dengan melibatkan dua anggota pelaksana, Nadya Astuti, MPd dan Dr Siti Faridah, SPd, MPd, serta dibantu dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UVAYA, Tina Finisia dan Selly Asriani.
Berdasarkan hasil observasi tim UVAYA Banjarmasin, mayoritas warga di wilayah tersebut berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah dengan penghasilan rata-rata Rp2.500.000 hingga Rp4.000.000 per bulan.
“Tingginya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan sayuran, yang menyerap sekitar 12–18 persen dari total pendapatan, menjadi beban ekonomi tersendiri bagi keluarga,” kata Ketua tim pengabdian dari Universitas Achmad Yani (UVAYA), Nurul Huda Fitriani, MPd.
Di sisi lain, paparnya, hampir 95 persen warga sebenarnya memiliki lahan pekarangan seluas 20 hingga 70 meter persegi yang selama ini dibiarkan kosong atau hanya ditanami tanaman hias.
“Inovasi teknologi tepat guna diperlukan untuk mentransformasi lahan pekarangan menjadi area produksi pangan mandiri yang bernilai ekonomis dan higienis,” paparnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, lanjut dia, tim dosen UVAYA memberikan pelatihan komprehensif sekaligus paket stimulan berupa starter kit instalasi hidroponik.
Dua teknologi diterapkan dalam program ini. Pertama, sistem Nutrient Film Technique (NFT) yang menggunakan pipa PVC dengan sirkulasi air bernutrisi memanfaatkan pompa hemat energi berdaya 15 watt. Kedua, sistem wick atau sumbu, yang mengandalkan prinsip kapilaritas tanpa listrik sehingga lebih ekonomis dan cocok bagi pemula.
“Melalui pendampingan intensif, kelompok mitra yang beranggotakan 10 orang ibu rumah tangga diajarkan cara merakit instalasi, menyemai benih pada media rockwool, mengelola nutrisi AB Mix, hingga mengendalikan hama secara organik,” papar Nurul.
Ditambahkan dosen PGSD Uvaya ini, program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan panen sayuran segar seperti kangkung, pakcoy, dan selada sebanyak 2 hingga 3 kilogram per unit instalasi setiap bulan. Dua dampak ekonomi diharapkan dari capaian tersebut: penghematan belanja dapur hingga Rp150.000 – Rp250.000 per bulan dari konsumsi sayuran keluarga, serta potensi tambahan pendapatan Rp200.000Rp350.000 per bulan dari penjualan sayuran surplus.
“Program pemberdayaan ini tidak berhenti pada aspek produksi. Warga juga dibekali literasi keuangan sederhana serta keterampilan digitalisasi pemasaran. Anggota pelaksana program bertugas memberikan edukasi pemasaran melalui WhatsApp Business dan media sosial, sekaligus mendorong terbentuknya wadah kolektif bernama Kelompok “Hidroponik RT 024” untuk membangun jejaring dengan pedagang sayur dan warung makan lokal,” tandasnya.
Nurul menjelaskan, inisiatif pemberdayaan ini sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada pilar pengentasan kemiskinan dan kelaparan, serta selaras dengan agenda peningkatan ketahanan ekonomi berbasis kemandirian pangan.
“Tim pengabdian UVAYA berharap program percontohan urban farming ini dapat direplikasi oleh 12 RT lainnya di Kelurahan Tanjung Pagar pada tahap pengembangan berikutnya,” pungkasnya. (ful/KPO-3)















