Oleh : Tita Rosy
Fungsional Statistisi ahli madya BPS Kalsel
Pertengahan tahun lalu penulis diberikan amanah menjadi ketua panitia seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk salah satu perguruan tinggi kedinasan di Indonesia. Jumlah peserta yang terdaftar waktu itu ada 307 peserta, dan seleksi tahap pertama harus selesai dalam waktu dua hari. Bukan menjadi masalah untuk teknik penyeleksiannya karena soal-soal dikerjakan secara online (paperless) dan hasil olah dari jawaban peserta juga dapat dipantau secara riil time. Peserta maupun keluarga peserta tidak perlu mencari informasi tentang hasil ujian lewat “papan pengumuman”. Pengumuman dapat diakses dengan ponsel pintar menggunakan link yang dibagikan oleh penyelenggara.
Hal yang menarik sekaligus juga menjadi tantangan dari proses seleksi ini adalah teknik untuk memasukkan semua peserta tersebut ke dalam ruangan ujian. Di tengah situasi pandemi corona virus desease-19 yang belum berakhir, protokol kesehatan sangat perlu dijaga dan dipatuhi demi kenyamanan bersama. Di samping juga verifikasi terhadap kemungkinan adanya “joki” yang menghadirkan proses kecurangan dalam seleksi ini. Antrian adalah protokol fundamental yang harus dilakukan sebelum peserta memasuki tiap pos pemeriksaan. Mau ukur suhu badan, antri dulu. Mau cuci tangan, antri dulu. Mau menitipkan barang ke dalam loker, antri dulu. Mau memasuki pos verifikasi untuk memastikan peserta yang ikut tes adalah peserta yang sebenarnya sesuai database pendaftaran alias bukan joki, antri dulu. Mau memasuki pos body checking dengan metal detector, antri dulu. Terakhir, beberapa langkah sebelum masuk ruang ujian, antri dulu. Bahkan, setelah peserta menyelesaikan ujiannya dan mau keluar dari ruangan mengambil barang-barang di loker, lagi-lagi…antri dulu.
Penulis jadi teringat dengan sebuah lagu yang dirilis sekitar tahun 1996 karya Padhyangan Project yang berjudul “antrilah di loket”. Alur cerita atau pesan yang ingin disampaikan dalam lagu ini adalah bahwa untuk mencapai tujuan tertentu dimana banyak orang juga menginginkan tujuan yang sama (dalam lagu ini adalah untuk mendapatkan tiket kereta api) tiap orang harus antri dulu agar disiplin dan tujuan dapat tercapai dengan baik.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah penduduk yang lahir tahun 1997-2012 atau generasi Z yang sekarang berusia antara 8-23 tahun merupakan 27,94 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Terdapat juga generasi milenial yang sekarang diperkirakan mencapai usia 24-39 tahun. Kelompok generasi milenial ini mengambil porsi 25,87 persen dari penduduk Indonesia. Kedua generasi ini merupakan kelompok penduduk yang berpotensi sebagai penikmat hiburan berupa lagu-lagu. Secara ringkas, propaganda suatu pesan atau materi yang disampaikan melalui sebuah lagu dapat secara efektif mempengaruhi lebih dari separuh penduduk Indonesia.
Berbicara tentang lagu, dalam satu dekade terakhir dunia menyaksikan pengaruh budaya Korea yang luar biasa di berbagai negara termasuk di Indonesia. Lewat k pop, seolah negeri Ginseng dapat menyihir anak negeri yang tergolong pada generasi Z dan milenial. Bahkan tahun lalu salah satu restoran cepat saji di Indonesia berkolaborasi dengan salah satu grup musik negeri Korea yang sedang naik daun dengan menyajikan salah satu paket makanan dengan kemasan yang khas ala grup musik tersebut. Bagaimana sambutan para milenial? Tak disangka, bahkan fans di negeri asalnya sendiri kaget melihat antusiasme penggemar di Indonesia yang rela “berjuang” antri ber jam-jam untuk mendapatkan paket makanan tersebut. Bukan saja konsumen yang membeli langsung, namun para pejuang nafkah yang mencari rezeki dengan menawarkan jasa kurir juga kecipratan penantian panjang alias antrian mengular yang terbentuk pada waktu itu.
Kembali pada ujian masuk yang penulis ceritakan sebelumnya, hasilnya sudah dapat dilihat hari itu juga. Dari ratusan anak yang rela mengantri dari pagi tersebut, terjaring yang melewati passing grade sekitar 80 persen. Persaingan menjadi tidak mudah, ada proses seleksi lanjutan sehingga mereka masuk ke dalam daftar tunggu untuk eligible pada proses seleksi tahap selanjutnya. Antrian yang mereka pilih tentunya sangat rasional berdasarkan pertimbangan yang matang untuk mengukur kapasitas diri, serta lebih jauh adalah untuk masa depan dirinya sendiri, keluarga, serta masa depan bangsa. Berdasarkan fenomena ini pemerintah diharapkan lebih memperbanyak fasilitas pendidikan yang semakin berkualitas agar dapat menampung generasi muda bangsa untuk mengenyam pendidikan.
Berkaca pada ratusan anak yang mengantri untuk seleksi penerimaan sekolah di atas tersirat harapan bahwa puluhan tahun ke depan bangsa ini masih memprioritaskan pendidikan untuk pembangunan sumber daya manusianya. Pada gilirannya nanti yang terseleksi adalah benar-benar manusia yang berkualitas terutama dari sisi pendidikan untuk dapat membangkitkan ekonomi bangsa. Melihat antrian jenis kedua yaitu di restoran cepat saji terkait produk paket makanan khas artis korea, ironis memang tapi setidaknya dapat memberikan sudut pandang tersendiri bahwa konsumsi yang pada kuartal I 2021 dinyatakan masih tumbuh negatif atau turun 2,23 persen dibanding tahun sebelumnya seperti mendapat sinyal bahwa ada golongan masyarakat yang rela melakukan konsumsi dengan pengorbanan. Jadi, kedua analog ini mungkin bisa ditanyakan ke generasi muda bahwa seandainya mereka diminta memilih dari keduanya, antrian mana yang mereka pilih?











