Para prajurit tersebut sengaja diturunkan sebagai Satgas TMMD ke 144 guna membantu proses pembangunan infrastruktur yang berfokus Sungai Gampa
BANJARMASIN, KP – Siang itu, disaat kebanyakan warga kampung tengah beristirahat, tiba-tiba terdengar sayup suara ketukan yang berasal dari hutan rawa di tengah perkampungan Sungai Gampa, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara.
Sekilas, suara itu muncul dengan ritme yang hampir sama di setiap jedanya. Sesekali malah menghilang selama beberapa menit akibat tertelan nyaringnya suara mesin perahu warga yang melintas di sungai.
Namun setelah perahu mulai jauh, suara ketukan itu kembali muncul.Karena penasaran, penulis yang saat itu sedang asyik menikmati seduhan kopi panas plus ditemani roti tawar di salah satu rumah warga memilih untuk mencari tahu dengan bertanya pada warga.
“Itu bunyi tentara lagi memasang pondasi kayu galam untuk jalan di sini,” ucap seorang pria yang waktu itu kebetulan melintas di depan rumah tempat penulis bersantai.
Ya, benar saja, Kampung Sungai Gampa sendiri memang merupakan titik pelaksanaan program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-114 oleh Kodim 1007/Banjarmasin.
Program yang dimulai dengan upacara pembukaan di halaman Kota Cinema Mall (KCM), pada sejak Selasa (26/07/2022) yang lalu itu, merupakan hasil jejak pendapat dan masukkan dari masyarakat.
Sehingga, tak heran jika dalam beberapa waktu terakhir, kawasan pemukiman terujung di Kelurahan Sungai Jingah itu diramaikan dengan aktivitas pria berbaju loreng hijau-hitam yang ikut berbaur dengan masyarakat setempat.
Para prajurit tersebut sengaja diturunkan sebagai Satgas TMMD ke 144 guna membantu proses pembangunan infrastruktur yang berfokus Sungai Gampa.
Kembali ke suara ketukan misterius dari dalam hutan. Jawaban warga itu masih belum membuat penulis percaya. Karena saat itu waktu menunjukkan sudah pukul 12.54 WITA.
Yang artinya, sudah waktunya para prajurit TNI AD di sana untuk beristirahat dan menikmati hidangan makan siang khas prajurit di masing-masing posko.
Karena penasaran, penulis memutuskan untuk mencari tahu sendiri ke dalam hutan yang diduga menjadi titik sumber suara dengan berpatokan pada pohon besar dan rimbun di tepi sungai.
Sebelum beranjak, Serka Rifai, salah satu prajurit yang saat itu juga asyik menikmati kopi di depan teras, sempat memberitahu jika suara itu memang berasal dari pemasangan kayu galam untuk pondasi jalan. Namun akses atau jalan untuk menuju ke sana, belum tersambung.”Yakin mau ke sana? Belum ada jalannya lo,” ucapnya.
Namun, karena sudah dipenuhi rasa penasaran, penulis tetap melanjutkan langkahnya menuju sumber suara.
Dan ternyata benar apa yang dikatakan prajurit tadi. Akses atau jalan di kampung tersebut memang masih terputus dan hanya ada hamparan sawah hijau yang dipisahkan oleh anak sungai kecil.
Sama sekali tak ada jalan yang layak untuk dilewati. Kalaupun ada, itu hanya berupa jalan setapak dari gundukan lumpur yang dibuat sebagai pembatas antara sawah dan sungai. Atau batas petakan sawah satu dengan yang lain.
Tapi di tepi sawah terlihat dua utas tali plastik rafia berwarna biru membentang mengarah ke dalam hutan, yang menandakan bahwa di sana memang akan dibangunkan jalan.
Dengan modal PD, penulis nekat mengikuti arah tali rafia itu membentang. Dan hasilnya zonk.Sejak langkah pertama, kaki sudah terbenam lumpur sampai lutut dan berusaha mencari pijakan yang lebih keras demi sampai ke pohon besar yang jadi patokan.
Sekitar 10 meter jarak dari kubangan lumpur tadi, rintangan lainnya berupa beberapa anak sungai sedalam hampir dua meter pun sudah menunggu untuk diseberangi.
Singkat cerita, setelah berusaha keras melewati rintangan, akhirnya penulis sampai di bawah pohon besar yang jadi patokan. Dan ternyata benar, ketukan aneh itu memang berasal dari aktivitas pembangunan jalan dalam program TMMD di kampung tersebut.
Di sana ada enam orang. dua prajurit TNI dibantu empat warga setempat yang terlihat sudah berbagi tugas dalam memasang pondasi kayu galam di sisi kiri dan kanan jalan dengan cara ditumbuk menggunakan balok kayu ulin.
Satu anggota TNI menumbuk galam dengan dibantu salah satu warga untuk menahan posisi kayu galam agar tetap tertancap tegak dan sesuai garis pondasi jalan. Dua warga lainnya terlihat duduk di tepi sungai sambil melancipkan salah satu ujung batang galam dengan ayunan kapak yang digenggamnya.
Sambil meraut galam, salah satu warga yang waktu itu mengaku bernama Amat menceritakan, seluruh warga merasa lega ketika kabar TMMD Kodim 1007/Banjarmasin tahun 2022 diputuskan untuk digelar di kampung kelahirannya.
Hal itu dikarenakan masyarakat Sungai Gampa sudah lama menginginkan adanya pembangunan infrastruktur, terutama jalan yang layak dan nyaman dilewati.
“Makanya banyak warga di sini (Sungai Gampa) turun membantu proses pembangunan jalan dan infrastruktur lain tanpa dibayar,” ungkapnya saat dibincangi Kalimantan Post.
Bahkan pria kelahiran tahun 1982 itu membeberkan, banyak warga yang rela mengurangi waktu bertani di sawah miliknya demi pembangunan TMMD ini bisa cepat selesai dan bermanfaat dalam menunjang aktivitas warga sehari-hari.
“Karena kami sudah sangat lama memimpikan punya jalan seperti di seberang sana yang bisa dilewati sepeda motor. Kalau jalan ini selesai kami bisa lebih mudah menjual hasil tani lewat jalan darat,” imbuhnya.
Ia memperkirakan, jika progres pembuatan jalan tersebut dikerjakan secara bersama-sama, maka tidak menutup kemungkinan akan selesai tidak sampai seminggu.
Benar saja, apa yang diutarakan Amat tersebut senada dengan Siti Khadijah. Ibu dua anak itu mengatakan, sebelum dibangun jalan keras, warga setempat hanya memanfaatkan arus sungai sebagai jalur transportasi dalam beraktivitas.
Sehingga, kelotok atau perahu bermesin jadi moda transportasi utama bagi warga dalam menunjang aktivitas di kesehariannya, seperti mengantar anak sekolah, ke pasar ke sawah, berobat ke puskesmas, ke masjid, maupun aktivitas lainnya.
Tapi itupun hanya sebagian kecil saja. Bagi warga yang tidak mampu membeli mesin, terpaksa harus mengandalkan kekuatan tangan untuk mendayung jukung atau sampan.
“Memang ada jalan setapak yang bisa dilewati, tapi kalau kalau hujan turun jalan itu jadi licin dan becek. Belum lagi kalau air sungai sedang pasang. Jalan setapak tadi ikut tenggelam,” ungkapnya.
“Karena itulah kami warga disini sangat bersyukur adanya program dari para bapak-bapak tentara ini, setelah sekian lama tinggal di Sungai Gampa akhirnya kami bisa merasakan jalan yang nyaman dilewati,” pungkasnya.
Hal tersebut selaras dengan penjelasan Komandan Korem (Danrem) 101/Antasari, Brigjen TNI Rudi Puruwito. Menurutnya TMMD merupakan suatu program unggulan TNI yang kehadirannya selalu ditunggu dan menjadi dambaan masyarakat.
“Karena program TNI Manunggal Membangun Desa sangat membantu pemerintah dalam rangka mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Kemudian, pada pelaksanaan program TMMD ke -114 ini Korem 101/Antasari melaksanakan sasaran fisik berupa pembuatan badan jalan, betonisasi jalan, pasang gorong-gorong, pembuatan jembatan, rehab rumah tidak layak huni dan rehab mushola.
Begitu juga ada sasaran non fisik yang menurutnya tidak kalah penting untuk dilakukan.
Karena dalam TMMD juga bisa membentuk masyarakat Indonesia yang Pancasilais, dengan melakukan penyuluhan dalam bidang wawasan kebangsaan, kamtibmas, narkoba, pertanian, penyuluhan KB/kesehatan, rekrutmen TNI, Posyandu, Posbindu, stunting, karhutla, pertanian, hukum, bahkan sampai terkait dengan bencana dan air bersih, serta bakti sosial.
“Masyarakat selalu menunggu pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa yang akan datang,” tandasnya.
Sebelumnya, program TMMD ke-114 yang dilaksanakan Kodim 1007/Banjarmasin ini diawali upacara pembukaan di halaman Kota Cinema Mall (KCM), Selasa (26/07) yang lalu. Dan ditargetkan pada Sabtu (27/08) mendatang.
Komandan Kodim (Dandim) 1007/Banjarmasin, Letkol Inf Ilham Yunus menjelaskan, pelaksanaan TMMD tahun ini terpusat di Sungai Gampa, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara.
“Salah satunya pembangunan infrastruktur berupa jalan, gorong-gorong, pembuatan jembatan, rehab rumah tidak layak huni, dan juga masjid,” ungkapnya.
Dipilihnya kawasan Sungai Gampa pada TMMD kali ini menurutnya, berdasarkan permintaan dari masyarakat yang diusulkan pihaknya kepada Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin.
“Kami menjawab permintaan masyarakat Sungai Gampa. Semoga dengan ini kedepannya daerah di Banjarmasin aksesnya bisa terbuka semua, khususnya infrastruktur jalan,” terangnya.
“Dalam TMMD ini kami harapkan bisa manunggal dengan masyarakat, termasuk instansi lain yang terlibat,” harapnya.
Benar saja, hal itu juga diungkapkan Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) dari Markas Besar (Mabes) TNI, pada Rabu (10/08) yang lalu.
Kepala Tim Wasev, Kolonel Infanteri Danny Alkadri yang saat itu hadir untuk meninjau langsung progres TMMD di Sungai Gampa mengatakan, dari paparan Kasdim 1007/ Banjarmasin, lokasi ini sangat sulit dijangkau dengan transportasi jalur darat.
Hal itulah yang jadi landasan utama mengapa lokasi tersebut dipilih sebagai titik fokus pelaksanaan program TMMD ke 114 Kodim 1007/Banjarmasin.
Ia mengaku sudah menyaksikan sendiri bahwa apa yang dipaparkan pihak Kodim 1007/Banjarmasin itu memang betul adanya.
“Akses darat yang sulit juga tentunya yakni kedatangan material dan bahan. Karena sangat sulit masuk ke sini seperti pasir, tanah dan batu,” akunya.
“Apalagi ditambah dengan kondisi cuaca yang belakangan sering turun hujan. Pasti akan sangat mempengaruhi progres pembangunan jalan yang berbahan beton di sini,” tambahnya
Kendati demikian, segala kendala yang ia temui itu rupanya tak berpengaruh terhadap upaya untuk menyelesaikan program tersebut agar bisa dinikmati masyarakat.
“Saat kita lakukan peninjauan, tadi kita lihat pembukaan jalan dan dicor panjang kurang lebih sekitar 1,2 km dengan lebar 2 meter yang menghubungkan antara desa satu ke desa lain,” ujarnya
“Saya juga sempat ngobrol bersama warga setempat, dan mereka sangat berterima kasih dengan adanya pembuatan jalan ini. Karena akses darat sangat penting dan bermanfaat bagi mereka,” tuntasnya.
Selain itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengakui, bahwa program ini sangat membantu pihaknya untuk perkembangan pembangunan.”Ini merupakan bentuk kemanunggalan TNI dan rakyat. Karena TNI dari rakyat untuk rakyat. Pemko merasa terbantu. Kita juga ada kolaborasi antar forkopimda agar program pembangunan di Banjarmasin mengalami percepatan,” jelasnya.
“Sehingga kota ini akan terbangun dan geliat ekonomi masyarakatnya akan segera pulih pasca pandemi,” lanjutnya.
Disampaikannya, sebagai bentuk dukungan, Pemko Banjarmasin menggelontorkan dana mencapai Rp1,8 Miliar untuk mensukseskan TMMD yang ditargetkan 30 hari kedepan.
“Anggaran sudah kita setujui itu Rp1,8 miliar untuk fisik dan bahan material. Dan instansi teknis juga kami minta untuk turun meninjau langsung. Terutama pembangunan fisik konstruksi, itu ditinjau PUPR,” tuntas Ibnu. (Kin/K-3)















