Oleh : CAKRAWALA BINTANG
Seperti benih yang ditanam, akan baik bila bibitnya baik. Begitu juga jika bibitnya tidak baik akan menjadikan buah yang tidak baik. Kemudian juga akan menumbuhkan pohon yang mana dimulai dari bibit tersebut. Itu tidak ubahnya seperri perjalanan Negara dan bangsa serta pemerintahan. Jika awal pembuatan pembukaan dan UUD 45, adalah tokoh tokoh nasional yang sangat peduli dengan tanah air dan generasi berikutnya. Itu pada akhirnya akan dibebankan pada generasi berikutnya, untuk mencapai cita-cita daripada pembukaan dan UUD 45 tersebut.
Namun seperti perjalanan hidup ini ada siang dan malam, maka ternyata keinginan itu bisa juga terjadi justru bertentangan dengan keinginan standarnya. Bahwa ternyata pembukaan dan UUD 45 bisa berjalan sesuai dengan kepemimpinan dan kekuasaan,yang memegang tampuk pemerintahan itu sendiri. Apalagi jika partai politik begitu banyak ada di Indonesia ini, maka semakin banyak pula keinginan kekuasaan di dalam memberi warna tujuan Negara dan pemerintahan itu. Inilah yan perlu untuk disadari, jika ternyata cara memahami pembukaan dan UUD 45 itu juga masih berbeda di dalam memahaminya.
Karena kajian itu bagi penulis berhubungan dengan Islam, maka tentunya cara pandang itu melihat dari sudut pemahaman Islam sebagaimana banyak tokoh yang merwarnainya pertama kali pada pembukaan dan UUD 45 itu sendiri. Jika pada awalnya “Piagam Jakarta”, dimana sila pertama itu berhubungan dengan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian entah kenapa, pada selanjutnya berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kalau dilihat sepintas lalu tidak ada masalah, namun karena sudah mengalami, itu ternyata bermasalah, bahkan masih merupakan kesulitan untuk merumuskan “sistim Islam” yang memasuki sistim Negara Republik Indonesia.
Hal ini penting untuk dibicarakan, karena tentu saja cara pandang dan cara pikir, untuk generasi Islam perlu selalu dilihat dan diikuti. Untuk melihat pandangan hidup bangsa di Indonesia ini, ternyata banyak juga ideologi asing yang ingin mempengaruhi cara pikir dan pandang bangsa Indonedia ini. Karena ternyata di dunia ini Negara-negara besar, mereka juga mencari Negara-Negara pendukung dalam meyokong ideologi mereka. Karena itu dalam hal persaingan politik dan partai politik di Indonesia ini, itu akan menjadi “ring pertandingan tinju politik itu”.
Mahasiswa dari perguruan tinggi tentunya sangat mengerti jika mereka adalah menjadi harapan bangsa dan Negara. Karena Negara Indonesia ini bisa menjadi hilang dari permukaan bumi, kemudian menjadi bangsa yang berideologi lain, jika para mahasiswanya tidak peduli kemana perjalanan bangsa ini sendiri. Karena itu jangan sampai kemudian, menjadi penyesalan dikemudian hari, bahwa dalam dunia ini antara satu Negara dengan Negara lainnya, ada yang menjadi Negara sahabat, namun ada juga Negara yang akan merebut keyakinan rakyatnya pada ideologi tertentu.
Karena pada dasarnya adalah, kehidupan itu “adalah jihad dan iman”. Oleh kaena semua yang ada yang namanya Negara itu adalah bungkus-bungkusnya saja. Mereka yang beragama Islam akan melewati semuanya itu sebenarnya juga adalah untuk menguji sejauh mana “jihad dan iman” itu bisa diperjuangkan atau mereka justru akan mati. Inilah hal yang perlu diketahui oleh para mahasiswa.













