Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Gizi, Literasi, dan Masa Depan Generasi Digital

×

Gizi, Literasi, dan Masa Depan Generasi Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Peringatan Hari Gizi Nasional 2026 datang pada sebuah persimpangan penting pembangunan bangsa. Isu gizi kini tidak lagi dipahami sebatas urusan kesehatan, melainkan fondasi utama bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperlihatkan keseriusan negara menempatkan pemenuhan gizi sebagai investasi jangka panjang. Namun, di tengah perubahan sosial yang dipacu oleh teknologi digital, persoalan gizi tidak dapat dilepaskan dari persoalan literasi.

Kalimantan Post

Gizi, literasi, dan masa depan generasi digital merupakan satu rangkaian yang saling terkait dan menentukan arah Indonesia ke depan. Generasi yang saat ini menjadi sasaran utama MBG adalah generasi digital native. Mereka tumbuh di tengah gawai, media sosial, dan algoritma yang membentuk cara berpikir, belajar, dan berinteraksi. Di satu sisi, mereka memiliki akses informasi yang luas dan cepat. Di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan serius berupa banjir informasi, distraksi digital, dan rendahnya kemampuan memilah pengetahuan yang valid.

Dalam konteks ini, gizi yang baik menjadi syarat dasar agar potensi kognitif generasi digital dapat berkembang secara optimal, sementara literasi menjadi bekal agar potensi tersebut dapat diarahkan secara benar. Berbagai riset menunjukkan bahwa kecukupan gizi berpengaruh langsung terhadap kemampuan belajar, konsentrasi, dan daya ingat anak. Kekurangan zat gizi tertentu dapat berdampak pada perkembangan otak dan prestasi akademik.

Oleh karena itu, MBG memiliki peran strategis untuk memastikan anak-anak Indonesia tidak tertinggal sejak awal. Namun, gizi yang baik tidak akan menghasilkan dampak maksimal jika tidak disertai dengan lingkungan literasi yang sehat. Anak yang gizinya tercukupi tetapi tumbuh dalam ekosistem informasi yang miskin atau menyesatkan tetap berisiko kehilangan arah dalam memanfaatkan potensi dirinya.

Baca Juga :  IBADAH

Di era digital, literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta mengambil keputusan berbasis pengetahuan. Literasi gizi menjadi bagian penting dari literasi informasi itu sendiri. Anak dan keluarga perlu memahami makna makanan sehat, pola konsumsi seimbang, serta dampak jangka panjang dari pilihan pangan. Tanpa literasi gizi, intervensi pangan berisiko dipersepsikan secara sempit sebagai bantuan sesaat, bukan sebagai pintu masuk perubahan perilaku.

Tantangan semakin kompleks ketika ruang digital dipenuhi berbagai narasi tentang makanan dan kesehatan. Media sosial menyajikan tren kuliner, iklan makanan instan, hingga klaim kesehatan yang sering kali tidak berbasis sains. Generasi muda menjadi konsumen sekaligus produsen informasi yang belum tentu akurat. Di titik ini, literasi menjadi benteng penting agar mereka tidak terjebak pada pola konsumsi yang keliru. Literasi gizi membantu generasi digital memahami bahwa makanan bukan sekadar soal selera dan tren, tetapi berkaitan erat dengan kesehatan, kemampuan belajar, dan masa depan mereka sendiri.

Hubungan antara gizi dan literasi pada akhirnya bermuara pada kualitas generasi penerus bangsa. Generasi digital yang sehat secara fisik dan cerdas secara literasi akan memiliki daya saing yang lebih kuat. Mereka tidak hanya mampu menyerap pengetahuan, tetapi juga mengolahnya secara kritis dan kreatif. Inilah prasyarat penting untuk menghadapi tantangan ekonomi berbasis pengetahuan, inovasi, dan teknologi. Dengan kata lain, investasi pada gizi dan literasi adalah investasi pada masa depan Indonesia di tengah persaingan global. Peran ekosistem pendidikan dan literasi menjadi sangat penting dalam konteks ini.

Sekolah, keluarga, dan ruang publik perlu menjadi lingkungan yang mendukung pemahaman gizi dan literasi secara bersamaan. Perpustakaan, sebagai salah satu pilar literasi, memiliki posisi strategis untuk menjembatani keduanya. Melalui penyediaan informasi yang akurat dan edukatif tentang gizi, perpustakaan dapat membantu generasi digital dan orang tua memahami isu kesehatan secara lebih komprehensif. Di era digital, fungsi ini dapat diperluas melalui koleksi digital, konten edukasi daring, dan program literasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  BALA

Hari Gizi Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa pembangunan manusia tidak bisa dilakukan secara parsial. Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah penting, tetapi dampaknya akan jauh lebih kuat jika disertai dengan penguatan literasi. Gizi membangun tubuh dan otak, sementara literasi membentuk cara berpikir dan bertindak. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Mengabaikan salah satunya berarti mengurangi efektivitas yang lain.

Dalam jangka panjang, tantangan terbesar bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi hari ini, tetapi juga memastikan mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kesehatan dan pengetahuannya sendiri di masa depan. Generasi digital perlu dibekali kesadaran bahwa pilihan pangan adalah bagian dari tanggung jawab personal dan sosial. Literasi gizi membantu mereka memahami konsekuensi jangka panjang dari setiap pilihan, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan di era informasi.

Akhirnya, masa depan generasi digital Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan hari ini. Ketika negara berinvestasi pada gizi melalui MBG, saat yang sama perlu ada kesadaran kolektif untuk memperkuat literasi sebagai fondasi kecerdasan bangsa. Gizi dan literasi bukan dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua pilar yang menopang masa depan bersama. Di tengah derasnya arus digitalisasi, memastikan keduanya berjalan seiring adalah ikhtiar strategis agar generasi digital Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak dan pikiran jernih.

Iklan
Iklan