Balangan, KP – Inovasi bertajuk Pak Sotarsa (Pelayanan Kesejahteraan Sosial Antar Ke Desa) dari Pemerintah Kecamatan Halong sangat membantu warga Kecamatan Halong yang tinggal di desa terpencil untuk mendapatkan hak kesejahteraan sosial mereka.
Inovasi yang diinisiasi oleh Susiani ini membawa perubahan signifikan dalam tata kelola pelayanan publik di Kecamatan Halong. Karena sistem inovasi tersebut “jemput bola” untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan cepat sampai ke tangan masyarakat.
Diketahui, wilayah kecamatan Halong geografis pegunungan dan sulitnya akses internet.
“Jika sebelumnya penyaluran bantuan sering terkendala jarak dan koordinasi manual yang lambat, inovasi Pak Sotarsa memperkenalkan metode koordinasi langsung yang terintegrasi antara tim kecamatan dan aparat desa,” ujar Susiani, Sabtu kemarin.
“Dengan hadirnya inovasi Pak Sotarsa ini, Pemerintah Kecamatan Halong, fokus pada pelayanan langsung (non-digital) dan menjadi kunci dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil dan marginal,” ujatnya BB lagi.
Menurutnya, salah satu aspek kebaharuan yang menonjol dalam inovasi ini adalah perubahan sistem kerja yang kini melibatkan tim jejaring inovasi untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi langsung di lapangan.
Hal ini menjadi solusi konkret atas tantangan “blank spot” atau sulitnya jaringan internet di wilayah Pegunungan Meratus yang selama ini menghambat penyebaran informasi melalui media sosial.
“Program inovasi Pak Sotarsa yang mulai diimplementasikan secara penuh pada awal 2024 lalu memiliki beberapa tujuan utama, di antaranya memastikan bantuan sosial (asuransi, program perumahan, hingga pangan) sampai langsung ke desa tanpa hambatan geografis,” ujarnya.
Kemudian memastikan setiap warga, terlepas dari lokasi tempat tinggalnya, memiliki akses yang sama terhadap layanan pemerintah, membangun kerjasama yang kuat antara pemerintah kecamatan, desa, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak-hak sosial mereka dan pentingnya partisipasi dalam pembangunan desa.
“Dampak positif dari inovasi ini sudah mulai dirasakan secara luas. Berdasarkan data hasil inovasi, terjadi lonjakan signifikan pada jumlah penerima manfaat, dari yang semula hanya 281 orang menjadi 880 orang,”imbuhnya.
Bahkan, selain perluasan jangkauan, manfaat lain dari inovasi Pak Sotarsa yang dirasakan, masyarakat tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh karena layanan hadir satu pintu di desa masing-masing, integrasi pelayanan memungkinkan penekanan biaya operasional pemerintah, pelayanan menjadi lebih cepat, efektif, dan efisien karena koordinasi lintas sektor yang lebih solid. (jnd/K-6)















