BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Satu lagi pohon langka yang ditemukan di kawasan Taman Biodiversitas, Hutan Hujan Tropis, Lembah Bukit Manjai, Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar. Pohon limpasu atau dikenal dengan sebutan ilmiahnya Baccaurea lanceolata, sebelumnya merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di hutan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Peneliti botani dari Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Luthfiana Nurtamara mengatakan sangat gembira menemukan keberadaan pohon limpasu di sekitar kawasan Taman Biodiversitas.
Sebagaimana anggota genus Baccaurea lainnya, pohon limpasu berukuran tinggi antara 3-30 meter dengan diameter batang sekitar 5-50 cm, batangnya berwarna coklat hingga kehijauan.
Tumbuhan ini berhabitus pohon, dengan batang utama sebagai tempat melekatnya buah. Tumbuhan ini masuk dalam famili Phyllanthaceae. Tangkai daun memiliki Panjang 4-6 cm. Susunan daun berseling, bangun daun ovate, dengan tepian daun rata, ujung daun acute sampai attenuate, pangkal daun obtuse. Daun berwarna permukaan atas hijau dan daun permukaan bawah lebih terang. Buah bertipe buah tunggal dengan tipe buni yang bergerombol. Buah berwarna hijau saat belum masak dengan rasa masam.
Menurut hasil penelitian etnobotani, masyarakat adat Dayak dan Banjar telah lama memanfaatkan limpasu sebagai bahan obat tradisional, perawatan kulit, hingga pelengkap berbagai kebutuhan sehari-hari. Pengetahuan lokal tersebut menjadi modal penting dalam program edukasi konservasi yang menggabungkan kearifan tradisional dengan pendekatan ilmiah.
Disisi lain hasil penelitian Sani dan kawan-kawan Dalam Jurnal Pharmacy Vol.15 No. 02 Desember 2018, artikel “Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah, Daun, dan Kulit Batang Limpasu (Baccaurea lanceolata) dari Kalimantan Selatan” menunjukkan, ekstrak etanol buah, daun, dan kulit batang limpasu memilik kandungan kimia golongan alkaloid, fenol, flavonoid, tanin, dan saponin.
Sementara itu menurut Dr. Amalia Rezeki, founder Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia, pengelola Taman Biodiversitas, keberadaan pohon limpasu di kawasan Taman Biodiversitas ini, menambah koleksi keragaman hayati, terutama pohon buah langka yang memiliki banyak khasiat dibidang medis tersebut.
Walaupun populasinya masih dianggap melimpah di habitat aslinya, dan status konservasinya secara nasional belum dikategorikan sebagai spesies yang dilindungi, namun sekarang semakin jarang ditemukan di alam.
Lebih lanjut dikatakannya, akan melakukan upaya konservasi pohon limpasu, dengan aksi penanaman bibit pohon limpasu di kawasan Taman Biodiversitas. Agar tetap lestari dan dapat dijadikan sebagai sarana edukasi serta riset bagi para mahasiswa dan peneliti.
“Disamping itu pohon limpasu juga memiliki peran ekologi yang tinggi, dalam ekosistem hutan hujan tropis dan berfungsi sebagai penyerap karbon dalam rangka mitigasi pemanasan global,” ujar Amel. (ful/KPO-3)















