PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran meletakan batu pertama di mulainya pembangunan “Huma Betang” yang di klaim sebagai rumah adat terbesar di dunia, di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya, Kamis (23/7/2026).
Gubernur memaparkan makna Huma Betang sebagai simbol adanya kebersamaan, kesetaraan yang ditandai hadirnya tokoh agama, tokoh adat dan elemen masyarakat di acara tersebut.
“Kita harus kompak agar tidak mudah dijajah, hidup satu rumah sesuai falsafah Pancasila, Bhineka Tunggal ilIka, mengokohkan kebersamaan dan kesetaraan,” ujarnya.
Ditambahkan, bila Huma Betang telah selesai, akan menjadi rumah adat terbesar di dunia.
“Dibangunkan Huma Betang tersebut, kita harus merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan, kita jangan hanya jadi penonton, potensi daerah sangat besar,” ucapnya.
“Mari membangun bersama menuju Indonesia Emas tahun 2045,” ujarnya.
Dikemukakannya, Huma Betang bukan hanya tempat tinggal, tapi simbol identitas dan tonggak sejarah budaya dayak, untuk mempersatukan, bergotong royong, kerjasama, pusat pelestarian dan pengembangan budaya Dayak. Dan untuk satukan generasi, ikon budaya, pusat pembelajaran.
Diingatkannya juga, semua untuk tidak lupa sejarah. “Ini untuk penyemangat bagi generasi penerus, seperti di negara maju mereka tetap mengembangkan budayanya,” tambahnya.
Kepala Dinas PUPR Kalteng Joni Gultom menjelaskan bangunan yang berdiri di eks lahan Kantor Dinas Kehutanan itu luasnya lebih dari 4.000 meter persegi.
Sumber dana murni APBD Kalteng 2026 dan 2027, atau dibangun selama dua tahun, dengan total anggaran Rp132 miliar. (drt/KPO-3)















