Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mamajuakan Banua

×

Mamajuakan Banua

Sebarkan artikel ini
ade hermawan 3
ADE HERMAWAN

Oleh: Ade Hermawan
Dosen FISIP Uniska MAB Banjarmasin

PERINGATAN Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2026 bukan sekadar seremoni tahunan penanda bertambahnya usia administratif. Lebih dari itu, momenum ini menjadi panggung refleksi kritis sekaligus pijakan strategis bagi masa depan Banua. Di tengah dinamika pembangunan nasional yang kian terakselerasi, pemikiran dan semangat yang terangkum dalam tema “Mamajuakan Banua” menuntut pembuktian nyata dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.

Kalimantan Post

Frasa “Mamajuakan Banua” berasal dari bahasa Banjar yang memiliki arti Memajukan dan mendorong perkembangan Kampung halaman (Provinsi Kalimantan Selatan beserta masyarakat dan kebudayaannya) secara multidimensional.

Memajukan Banua dari Dimensi Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan berarti Memajukan daerah dari keterbelakangan dan ketergantungan. Ini berarti mentransformasi struktur ekonomi daerah dari yang tadinya bergantung pada sektor ekstraktif (seperti tambang batu bara) menuju ekonomi yang berkelanjutan, kreatif, dan berbasis nilai tambah (pertanian, UMKM, pariwisata, dan industri olahan). Kesejahteraan harus dirasakan merata oleh seluruh lapisan warga Banua, bukan hanya dinikmati segelintir pihak.

Memajukan Banua dari Dimensi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) berarti Banua bukan sekadar wilayah geografis, melainkan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mamajuakan Banua berarti mencetak generasi muda Banjar yang berpendidikan tinggi, menguasai teknologi, berdaya saing global, namun tetap memiliki pondasi karakter yang kuat, jujur, dan berintegritas.

Memajukan Banua dari Dimensi Pelestarian Budaya dan Identitas lokal berarti Kemajuan yang diharapkan bukanlah kemajuan yang merusak akar budaya. Mamajuakan Banua berarti membawa Kalsel bergerak modern tanpa meninggalkan nilai-nilai religiusitas, kearifan lokal, Bahasa Banjar, serta tradisi luhur seperti gotong royong dan kesantunan yang menjadi identitas masyarakat Banjar.

Memajukan Banua dari Dimensi Kepemimpinan dan Tata Kelola berarti Secara tata kelola pemerintahan, frasa ini memuat amanat bagi para pemimpin dan aparatur negara untuk menjalankan pemerintahan yang bersih (clean governance), transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik. Memajukan Banua menuntut komitmen untuk mengelola aset dan anggaran daerah secara bertanggung jawab demi kemaslahatan bersama.

Memajukan Banua dari Dimensi Tanggung Jawab Ekologis berarti Kalimantan Selatan kaya akan ekosistem lahan basah dan Pegunungan Meratus. Memajukan Banua juga mencakup menjaga kelestarian lingkungan agar pembangunan hari ini tidak mengorbankan ruang hidup dan keselamatan generasi Banua di masa depan dari ancaman bencana ekologis.

Mamajuakan Banua adalah sebuah panggilan kesadaran dan gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat Kalimantan Selatan untuk bersama-sama membangun, memperindang, dan mengangkat harkat martabat daerahnya agar mampu berdiri sejajar bahkan menjadi pelopor di tingkat nasional maupun internasional.

Pentingnya Mamajuakan Banua bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan sebuah kebutuhan strategis dan imperatif moral bagi seluruh elemen masyarakat Kalimantan Selatan. Ada beberapa alasan krusial mengapa agenda memajukan daerah ini menjadi sangat mendesak dan penting untuk diwujudkan.

Baca Juga :  TAHUN-TAHUN STRES

Selama puluhan tahun, perekonomian Kalimantan Selatan sangat bergantung pada komoditas ekstraktif yang tidak dapat diperbarui, khususnya batu bara. Ketergantungan ini memiliki batas waktu dan sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Mamajuakan Banua berarti mempersiapkan fondasi ekonomi baru yang berkelanjutan (seperti pertanian, perkebunan terintegrasi, UMKM, dan pariwisata) sebelum cadangan sumber daya alam habis, sehingga daerah tidak mengalami krisis ekonomi di masa depan.

Kepindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke Kalimantan Timur menempatkan Kalimantan Selatan pada posisi geopolitik dan ekonomi yang sangat krusial sebagai pintu gerbang dan wilayah penyangga utama. Jika Banua tidak dimajukan, baik dari segi infrastruktur, logistik, maupun kualitas SDM, Kalimantan Selatan hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. Memajukan Banua memastikan Kalsel menjadi pemain utama, pemasok kebutuhan pangan, serta pusat pertumbuhan ekonomi pendukung IKN.

Pembangunan yang belum merata berpotensi menciptakan ketimpangan antara kawasan perkotaan dengan wilayah perdesaan, pesisir, serta Hulu Sungai. Mamajuakan Banua secara inklusif memastikan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, air bersih, dan infrastruktur jalan dirasakan oleh seluruh warga Banua tanpa terkecuali, sehingga dapat mengentaskan kemiskinan secara sistematis.

Di era digital dan otomasi, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi penentu utama kemajuan suatu daerah. Memajukan SDM Banua melalui pendidikan formal, pelatihan vokasi, dan literasi digital adalah investasi jangka panjang. Hal ini penting agar generasi muda Kalsel mampu bersaing memperebutkan lapangan kerja berkualitas dan memimpin inovasi di tingkat nasional maupun internasional.

Kalimantan Selatan memiliki ekosistem yang khas dan rentan, seperti lahan basah, daerah aliran sungai (DAS), dan kawasan pegunungan Meratus. Pembangunan yang tidak berorientasi pada kemajuan yang berkelanjutan akan memperbesar risiko bencana ekologis (seperti banjir dan kekeringan). Mamajuakan Banua mencakup komitmen menjaga kelestarian alam agar ruang hidup generasi mendatang tetap aman dan layak huni.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang cepat, ada risiko pengikis nilai-nilai budaya lokal. Memajukan Banua berarti membangun daerah dengan tetap berpijak pada akar budaya, religiusitas, dan kearifan lokal. Kemajuan material yang diimbangi dengan kekuatan karakter budaya akan mengangkat harkat dan martabat Banua di mata dunia.

Mamajuakan Banua bermuara pada satu tujuan utama, yaitu menciptakan Kalimantan Selatan yang mandiri, sejahtera, berdaya saing, dan berkelanjutan, sehingga masyarakatnya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga tumbuh dan bermartabat di tanah airnya sendiri.

Sebagai provinsi yang secara geografis dan geopolitik memegang peran vital sebagai gerbang penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Selatan berada di persimpangan sejarah yang amat menentukan. Mamajuakan Banua tidak lagi cukup diartikan sebagai pertumbuhan angka statistik belaka, melainkan transformasi menyeluruh yang menyentuh kesejahteraan rakyat secara inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Energi Milik Umat, Mengapa Pelayanan Belum Optimal?

Selama berdekade-dekade, struktur ekonomi Kalimantan Selatan bergantung kuat pada sektor ekstraktif, khususnya pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Namun, menyongsong usia ke-76 tahun, disrupsi ekonomi global dan isu perubahan iklim menegaskan bahwa ketergantungan ini harus segera diakhiri melalui percepatan diversifikasi ekonomi, yaitu dengan melakukan Hilirisasi Pertanian dan Perkebunan (Mengubah fokus dari sekadar mengekspor bahan mentah menjadi industri olahan bernilai tambah tinggi di dalam daerah), Penguatan UMKM dan Ekonomi Kreatif (Mendorong pelaku usaha lokal agar mampu menembus pasar nasional dan internasional dengan memanfaatkan digitalisasi), dan Memposisikan Kalsel sebagai lumbung pangan utama yang siap menyuplai kebutuhan pangan kawasan ibu kota baru secara konsisten.

Kemajuan fisik berupa jalan, jembatan, dan pelabuhan akan hampa tanpa diimbangi oleh peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). “Mamajuakan Banua” berakar pada upaya mencetak generasi Banua yang berdaya saing, inovatif, dan berakhlak melalui Upaya Pemerataan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan (Menutup jurang disparitas kualitas layanan dasar antara kawasan perkotaan (Banjarbakula) dengan wilayah pelosok, pesisir, dan Hulu Sungai), Memastikan efisiensi jalur distribusi agar hasil bumi masyarakat desa dapat menjangkau pusat-pusat ekonomi dengan biaya rendah, dan Menyiapkan tenaga kerja lokal yang adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan dan teknologi modern.

Kemajuan teknologi dan pembangunan fisik tidak boleh menggerus akar kebudayaan serta kelestarian alam Kalimantan Selatan. Nilai-nilai kearifan lokal Banjar seperti gotong royong, religiusitas, dan ketangguhan merupakan modal sosial terpenting dalam mengawal pembangunan.

Pembangunan berkelanjutan harus menempatkan perlindungan kawasan pegunungan Meratus, daerah aliran sungai (DAS), dan ekosistem lahan basah sebagai prioritas utama. Mengabaikan aspek lingkungan dalam proses memajukan daerah hanya akan merogoh kocek lebih mahal di masa depan akibat bencana ekologis.

Melalui kombinasi strategi pembangunan ekonomi, investasi SDM, ketahanan lingkungan, dan kepemimpinan yang berintegritas, upaya Mamajuakan Banua dapat terwujud secara nyata, membawa Kalimantan Selatan menjadi daerah yang mandiri, sejahtera, dan bermartabat.

Usia 76 tahun adalah penanda kematangan. Semangat Mamajuakan Banua harus menjadi gerakan kolektif seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Selatan, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga generasi muda. Dengan menyatukan langkah, memperkuat sinergi, dan menjaga integritas, Kalimantan Selatan tidak hanya akan menjadi penonton dalam babak baru sejarah Indonesia, melainkan aktor utama yang maju, mandiri, dan sejahtera.

Iklan
Iklan