Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Membangun Umat Rukun dan Maju Dengan Tradisi Iqra (Refleksi HAB Kemenag RI)

×

Membangun Umat Rukun dan Maju Dengan Tradisi Iqra (Refleksi HAB Kemenag RI)

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin 

Seperti diketahui bersama bahwa pada setiap tanggal 3 Januari merupakan hari yang bersejarah bagi Departemen atau yang sekarang bernama Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), karena pada kabinet awal Indonesia diproklamirkan belum terbentuk Kemenag. Baru pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuk Kemenag melalui Penetapan Pemerintah No I/SD tertanggal 3 Januari 1946 dimana H. M. Rasjidi, BA. terpilih menjadi Menteri Agama pertama di Indonesia.

Baca Koran

Diperingatinya 3 Januari sebagai hari berdirinya Kemenag RI atau disebut juga dengan Hari Amal Bhakti (HAB) yang di tahun 2020 ini memasuki usia ke-74 dengan tema “Umat Rukun, Indonesia Maju’’, menjadi moment yang sangat penting untuk merefleksi hari dibentuknya Kemenag RI sekaligus menjadi monentum refleksi lembaga dalam rangka memperkokoh eksistensi lembaga Ikhlas beramal tersebut.

Menarik ketika kita simak tema yang diangkat dalam HAB Kemenag 2020 ini terkait dengan kerukunan dan kemajuan umat di Indonesia. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dasar kerukunan adalah rukun yang artinya baik dan damai, hubungan persahabatan, bersatu hati, bersepakat, tidak saling berselisih, dan tidak bertengkar. (Depdikbud, 2015: 850).

Kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Kerukunan adalah adanya perasaan bersatu, sependapat, sekepentingan, sepenanggungan, sepertujuan, sevisi, seperjuangan yang dibingkai dalam ikatan persaudaraan, persahabatan, kesetiakawanan, saling menghargai, saling menghormati dan saling menyayangi, mencintai, menyejahterakan, menyelamatkan serta menjauhi permusuhan, menghindari perselisihan, meninggalkan pertengkaran.

Dengan kerukunan antar sesama umat di masyarakat tentunya menjadi kunci utama yang dijadikan untuk menciptakan suasana damai, tenteram, harmonis dalam masyarakat yang dilandasi sikap toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaram agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.

Membangun Tradisi Iqra’

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan dalam mewujudkan umat yang rukun dan maju adalah dengan menjadikan umatnya untuk gemar membaca sebagai sebuah tradisi yang wajib kita lakukan. Iqro’! Bacalah. Demikian salah satu ayat dalam Alqur’an. Kita disuruh membaca. Membaca apa? Membaca alam ini dengan seluruh isinya. Dalam hal ini masyarakat kita (terutama umat Islam) menurut berbagai pengamat, masih sangat rendah kemauannya dalam membaca, padahal membaca adalah salah satu jendela dunia.

Baca Juga :  Tantangan Dakwah

Ceritera tentang kebiasaan membaca di negara-negara maju (Inggeris, Amerika, Jerman, Belanda, Jepang) sudah sering kita dengar. Dimanapun mereka berada sebagian besar memegang buku dan selalu mempergunakan waktu luangnya untuk membaca. Ketika mereka sedang menunggu di halte bus, di stasiun atau sedang menempuh perjalanan sudah tidak asing lagi bagi mereka memanfaatkan waktunya untuk membaca, sehingga kerukunan dan kemajuan umat menjadi luar biasa. Bandingkan keadaan tersebut dengan keadaan di Indonesia. Kita lihat di terminal, di stasiun, bahkan di bandara pemandangan demikian hampir tidak pernah kita jumpai. Ketika orang Indonesia sedang berada di tempat tersebut di atas, mereka jarang sekali pegang buku, kebanyakan menggunakan waktu luangnya untuk bercerita, merokok atau bahkan bengong semata.

Budaya baca masyarakat Indonesia memang masih sangat memprihatinkan. Banyak faktor kenapa keadaan yang memprihatinkan masih terjadi? Alasan pertama adalah budaya yang sudah ada secara turun menurun adalah budaya ceritera bukan budaya baca dan perkembangannya menuju kearah budaya menonton (televisi). Kedua adalah penghasilan kebanyakan masyarakat Indonesia masih rendah sehingga buku masih dianggap barang mahal. Ketiga adalah sistem pendidikan Indonesia belum menunjang tumbuhkembangnya budaya baca karena orientasinya masih membaca untuk lulus bukan membaca untuk pencerahan sepanjang hidup. Keempat adalah keberadaan perpustakaan yang belum memadai. Kesan masyarakat umum tentang perpustakaan masih dianggap sebagai tempat yang serius dan menyebalkan. Tentunya masih banyak alasan yang dapat kita daftar kalau kita ingin bicara tentang penghambat perkembangan budaya baca di Indonesia. Walaupun terkadang alasan tersebut tidak didasarkan pada penelitian yang memadai dan hanya didasarkan pada asumsi.

Sebagai contoh alas
an tentang penghasilan masyarakat Indonesia yang masih rendah. Memang rata-rata pendapatan perkapita orang Indonesia rendah, namun yang perlu diperhatikan adalah tentang bagaimana alokasi pengeluarannya ? Dari pengamatan saya, banyak pengeluaran masyarakat Indonesia dialokasikan untuk hal-hal yang tidak perlu, misalnya, untuk kebutuhan rokok. Banyak orang Indonesia walaupun penghasilannya rendah, tetapi mereka tetap mengkonsumsi rokok yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya dan menghabiskan minimal 1 bungkus rokok per hari. Berapa biaya yang dikeluarkan tiap bulan untuk rokok ? Adakah alokasi anggaran keluarga untuk buku ? Tidak banyak keluarga yang mengalokasikan anggarannya untuk pembelian buku yang jelas-jelas banyak manfaatnya bagi masa depan anak dan bangsa.

Baca Juga :  SALAT LIMA WAKTU

Dimulai Dari Keluarga
Al-bait madrasatul ula, rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Membangun tradisi membaca yang paling pertama harus dimulai dari keluarga (rumah tangga). Penyadaran pada orang tua itu menjadi penting. Jika melihat di negara Jepang, maka telah diberlakukan adanya gerakan “20 Minutes Reading of Mother and Child’’. Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur.

Kemudian tradisi liburan anak-anak untuk dibawa ke toko-toko buku itu menjadi sesuatu yang penting untuk mengurai tradisi liburan akhir pekan yang hanya ke tempat-tempat hiburan. Peluang-peluang yang lebih berharga dari itu bahwa tradisi membaca harus dimulai dari orang tua.

Setelah di keluarga, maka lingkungan berikutnya adalah masyarakat atau dikomunitas-komunitas sosial dan agama, serta di sekolah-sekolah. Selain itu para guru dalam cara mengajar harus dirubah, sejak dari TK sampai perguruan tinggi. Misalnya guru bisa saja mengajar anak pergi ke toko buku dan perpustakaan. Lalu anak disuruh membuat laporan dari buku yang mereka baca. Kemudian dengan gerakan wakaf buku, membangun jaringan perpustakaan, sering diadakan lomba penulisan, serta dari pemerintah dengan proyek paket buku bacaan untuk anak SD. Semua ini secara simultan harus dilakukan.

Selamat HAB Kemenag RI 2020, semoga dengan tradisi iqra’ yang kuat, kerukunan dan kemajuan umat akan menjadikan Indonesia menjadi negara yang maju. Aamiiin.

Iklan
Iklan