Gagal Panen Ikan, Jadi Perhatian Dinas DKP Kalsel

Martapura, KP –  Taufikurrahman nampak murung saat berada di atas keramba jala apung miliknya di Sungai Martapura,  Desa Sungai Alang,  Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar,  atau tidak jauh dari Bendungan Karang Intan,  Minggu (20/10).

Kemurungan pria yang akrab disapa Eyong ini karena dari 6 jala miliknya tidak satupun yang tersisa.

Semua ikan yang berada di jalan tersebut mati. 

Eyong mengaku mengisi enam jala apung tersebut ia membutuhkan biaya Rp60 juta.

“Ikan yang saya pelihara usianya 4 bulan dan sudah menghabiskan 2.000 pakan ikan dengan harga per sak Rp470 ribu.

Jujur saya baru memulai usaha ini,  belum sekali pun memanen,” ujar Eyong.

Ia menyebut, ikan di kawasan Awang Bangkal masih aman dan hampir tidak ada yang mati. 

Mengapa demikian, karena air di sana meskipun surut tapi masih mengalir.  Sedangkan air di Desa Sungai Asam,  Sungai Alang, Sungai Landas, Karang Intan, Mali-mali dan Sungai Arpad tidak mengalir.

“Air tidak mengalir makanya ikan tidak bisa bernapas lagi. 

Sekarang setelah pintu bendungan Karang Intan dibuka air mulai mengalir, tapi sudah terlambat ikan sudah banyak yang mati. 

Ke depan kami berharap di musim kemarau pintu air bendungan tidak ditutup lagi, “harapnya.

Terkait mati massal ikan di jala apung di kawasan Kecamatan Karang Intan menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalsel. 

Meski tidak berwenang secara langsung menangani perikanan, DKP Kalsel mengambil langkah memberikan himbauan kepada dinas terkait di Kabupaten Banjar.

Selain itu, DKP Kalsel dalam waktu dekat juga akan melakukan uji laboratorium.  “Uji laboratorium akan kami laksanakan untuk air di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin.  Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah ada hasilnya,” kata Kepala DKP Kalsel, Syaiful Azhari.

Dijelaskan Syaiful Azhari, pihaknya hanya bisa menghimbau kepada seluruh petani pembudidaya ikan di Kabupaten banjar dan Banjarmasin agar melakukan pengurangan kepadatan penebaran ikan. Selain itu pola pemberikan pakan ikan dikurangi karena pakan yang berlebihan menjadi racun di air.

“Kondisi kemarau seperti saat ini air sungai mulai surut dan menyebabkan kadar oksigen semakin sedikit, sehingga ikan sulit bernapas,” urainya.(mns/K-2)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...