Dewan Kalsel, Heran RS Rujukan Tak Punya Dokter Paru

Pelaihari, KP – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Selatan (Kalsel), kaget dan heran di tengah pandemi Covid-19 justru Rumah Sakit (RS) Rujukan Boejasin Pelaihari tak memiliki dokter paru dan kelengkapan APD (Alat Pelindung Diri).

ITu saat monitoring penangan Covid-19 di Kabupaten Tanah Laut, Kamis (17/4).

Kondisi ini sangat ironis karena jangan sampai para medis terpapar karena kurang terampil dalam melakukan penangan.

Namun setelah dijelasakan panjang lebar sejarah hingga menjadi rumah sakit rujukan akhirnya para wakil Rakyat Provinsi Kalsel ini harus cukup puas dengan keberadaan dokter spesialis penyakit dalam.

Kegiatan monitoring, diikuti Gabungan Komisi 1 dan Komisi IV, dikomando Wakil Ketua Hj Mariana dan diikuti gabungan lintas

Ketika di Tanah Laut selain melihat pusat empat posko penanganan Covid di perbatasan gugus depan.

Sebelum ke di Tanah Laut sebagai zona hijau didahului ke wilayah Batola.

Sama, dalam dialog yang para anggota Komisi mereka menyatakan kekhawatiran dengan belum ada ada kelengkapan para medis dan APD yang dibutuhkan.

Bahkan anggota DPRD Kalsel, H Troy Satria dalam dialognya juga menekankan perlu edukasi dalam memutus mata rantai Covid-19 di seluruh desa.

“Memang jarak antara satu desa ke desa lainnya cukup jauh,” tambahnya.

Mengapa edukasi ini penting lanjutnya, demi masyarakatnya ada pemahaman yang tepat.

“Jangan sampai mereka menganggap di desa ngak akan ada virus Covid-19.

Berita Lainnya
1 dari 869
Loading...

Untuk itulah dibutuhan edukasi yang SDM-nya tepat dan sesuai sasaran seperti melibatkan karang Taruna maupun perangkat desa yang tinggal di kawasan tersebut,” ucap politisi Golkar Kalsel ini.

Dikatakan, jika edukasi tepat dan mudah diterima tentu saja masyarakat akan saling menjaga kebersamaan yang sudah ditekankan.

Karena bagaimanapun juga desa sangat rawan jika tak diajak bersama-sama untuk saling menjaga dan membiasakan pola hidup bersih.

Troy juga mengingatkan, dengan kondisi jarak desa yang lokasinya sangat berjaukan harus diberikan pemahaman akan bahaya Covid-19.

“Agar Tanah Laut tetap pada posisi Zona Hijau,” ujarnya lagi.

Tentang dokter paru yang belum dimiliki, Troy yang daerah pemilihanya di Tala bersama teman-teman DPRD akan mengusulkan dan mengawal semua keluhan serta kekurangan untuk membantu Tanah Laut bisa menjaga daerahnya lepas dari ancaman Covid-19.

“Dewan berkepentingan melihat langsung penangan Corona ini, jangan sampai menjadi posisi merah,” katanya.

Kedatangan anggota DPRD Kalsel ke Tanah Laut ini juga disambut Perwakilan Gugus Depan Tanah Laut, M Kusri dan Ketua PMI yang juga Kepala Dinas UKM Tanah Laut, Drs H Syahrian Nurdin, di Gedung PMI.

Sementara M Kusri mengatakan, meskipun Tanah Laut masih zona aman hijau tetapi upaya tanggap darurat sudah dilakukan langkah bertahap hingga memberikan edukasi bahaya Covid sampai ‘ke akar rumput’.

Ketua PMI yang juga Kepala Dinas UKM Tanah Laut Drs H Syahrian Nurdin juga mengatakan, ada empat posko dalam pembatasan wilayah perbatasan.

Sebelumnya, dialog gabungan Komisi 1 dan Komisi IV dalam Penangan Covid-19 di Batola juga terungkap bantuan dana sebesar Rp250 Juta di setiap provinsi Kalsel masih kurang.

Namun penyatuan cluster Gowa yang dilakukan sejak awal warga Tanah Laut hingga sekarang memberikan sumbangsih untuk meminimalisasi peningkatkan ODP di Tanah Laut. (vin/K-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya