Pemintaan Menurun, Akibatnya Pembelian Bokar tidak Terserap

Banjarmasin, KP – Permintaan produk karet Kalsel/teng menurun tajam adanya pandemi covid-19. Pasalnya produksi mobil menurun, sebab 70 persen karet alam dimanfaatkan untuk membuat ban mobil

“Kondisi ini terasa mulai akhir Januari banyak mengalami tekanan,  yang antara lain meliputi menurunnya harga SIR 20 dari 1,46 USD perkg ke 1,36 USD perkg dan terendah pada tanggal 31 maret menjadi 1.03 USD perkg, yang setelah itu mengalami rally  di bulan April dengan kenaikan mencapai 1.13 USD perkg dan kembali menurun menjadi 1.05 USD perkg setelah harga minyak dunia mengalami penurunan terendah,” kata Ketua GAPKINDO Kalselteng Andreas kepada wartawan, Kamis.

Disebutkan, dengan harga produk  yang terus turun maka harga pembelian bokar juga semakin menurun. Diperparah dengan maraknya penundaan ekspor atas permintaan Pabrikan Dunia, cash flow processor Crumb Rubber tertekan hebat sehingga persediaan uang tunai untuk pembelian bokar semakin berkurang, petani pun kehilangan jalur penjualan produk Bokar nya.

Akibat dari kejadian ini yang dihadapi industry crumb rubber 

Berita Lainnya
1 dari 449
Loading...

dengan tertundanya pengiriman ekspor, maka produksi barang jadi (crumb rubber) ikut terhenti dan ini menyebabkan perusahaan merumahkan sebagian karyawan.

Kemudian, terhadap pembelian bokar mulai dikurangi atau menghentikan pembelian bokar, karena keterbatasan uang yang dimiliki atau tidak tersedianya gudang penampungan bahan baku 

Andreas mengusulkan kepada Pemerintah, terlepas telah diluncurkannya insentif fiscal, perlu kiranya pemerintah juga, mengusahakan industri pengolahan karet (industri-industri crumb rubber) dapat terus beroperasi melalui pemberian bantuan modal kerja dalam bentuk kredit murah yang berjangka fleksibel sehingga industri karet dapat tetap survive untuk bertahan aktif, yang pada gilirannya pembelian bahan olah karet  hasil kebun petani tidak terhenti. 

Hal ini mengingat Pabrikan Crumb Rubber selama ini adalah penyerap seluruh hasil Bokar Rakyat.“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) lebih tepat bila diterapkan kepada hasil olahan hilir atas produk pertanian dan perkebunan, manakala dipasarkan di pasar Indonesia,” tutup Andreas. (hif/K-1) 

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya