Ibnu Berharap Temukan Puncak Kurva Covid-19

Banjarmasin, KP – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melakukan pengambilan sampel cairan melalui swab secara massal terhadap warga yang sebelumnya menjalani rapid test dan dinyatakan reaktif di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes)l pada Sabtu (13/06/2020).

Pengambilan sampel swab ini merupakan yang terbesar dari yang sebelumnya dilakukan. Pasalnya, tercatat ada 750 orang yang menjalani proses swab. Selain itu, swab masal ini juga merupakan terakhir kalinya, sebab selanjutnya bakal dialihkan ke puskesmas.

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina mengakui, pengambilan swab yang dibantu oleh Biddokkes Polda Kalimantan Selatan kali ini merupakan yang terbesar. Sebab, swab sebelumnya belum pernah sebanyak itu.

Penelusuran kasus yang dilakukan tersebut tak lain sebagai upaya memutus mata rantai penularan CoVID-19 di Kota Seribu Sungai, dikana hingga Sabtu (13/06/2020) lalu, jumlah pasien positif sudah mencapai 843 kasus.

Dengan adanya upaya penelusuran secara masif ini tentu bakal lebih banyak kasus yang ditemukan. Kendati demikian, disisi lain diharapkan upaya ini bisa menjadi penemu puncak kurva, yang kemudian bisa menurunkan penularan.

“Semoga ketemu puncak kurvanya, dan setelah ini kita bisa berharap proses penyebaran CoVID-19 ini bisa kita turunkan,” kata Ibnu saat memantau proses uji swab.

Berita Lainnya
1 dari 1.418
Loading...

Ibnu mengakui bahwa, hukum sebab akibat ini tentu akan terjadi. Seperti dari hasil rapid test massal yang dilakukan di sejumlah titik di Kota Banjarmasin beberapa waktu lalu, otomatis orang-orang yang dinyatakan reaktif juga meningkat.

Dan jika dilanjutkan dengan pengambilan sampel melalui swab, maka akan mudah menemukan orang-orang yang dinyatakan positif CoVID-19, kendati tidak memiliki gejala.

“Tetapi tidak mengapa. Justru yang selama ini berkeliaran di luar dan dapat ditemukan, otomatis bisa tuntas penanganannya. Sehingga tidak memunculkan klaster-klaster baru,” ucapnya yang juga menjabat Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan CoVID-19.

Ibnu berkata, jika ditemukan ada yang positif, maka tim medis akan mudah menetapkan diagnosis. Dan bagi yang memiliki gejala langsung ditangani dan dibawa ke rumah sakit rujukan.

Kemudian bagi yang tak memiliki gejala atau dalam istilah orang tanpa gejala (OTG) namun positif disarankan untuk menjalani karantina mandiri. Hal ini justru diklaim Ibnu lebih baik daripada orang-orang yang terpapar CoVID-19 ini masih berkeliaran di luar rumah.

“Kami juga sudah memaksimalkan upaya dengan camat, lurah, RT/RW dan posko-posko PSBK (pembatasan sosial berskala kecil) untuk membatasi masyarakat dan melaporkan semuanya. Saya ingatkan bahwa CoVID-19 ini bukan aib,” pungkasnya. (sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya