PPKM Mikro Ada Tapi Tiada, Ibukota Jadi Epicentrum Pertumbuhan Covid-19 Kalsel

Banjarmasin, KP – Sejak dilaksanakannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada pertengahan Januari 2021 yang kemudian dilanjutkan dengan PPKM berskala Mikro masih belum menunjukkan taringnya sebagai kebijakan pencegah penularan Covid-19 di masyarakat.

Pasalnya, berdasarkan data yang diperoleh Anggota Tim Pakar Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin, perkembangan pandemi Covid-19 di wilayah Kalimantan Selatan justru semakin melonjak tajam ke atas

Ia menilai, bahwa kondisi tersebut menggambarkan ketidakefektifan kebijakan PPKM dan PPKM Mikro yang dijalankan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) seakan tak ada efeknya.

“PPKM berskala mikro ini seakan ada tapi tiada,” ucapnya saat dihubungi awak media melalui sambungan pesan singkat, Minggu (18/04) pagi.

Ia membeberkan, rentetan ledakan kasus Covid-19 yang terjadi di Kalimantan Selatan pada Januari, Februari, Maret dan April mendorong jumlah kasus kumulatif berlipat dua. Dari 15.300 kasus pada 31 Desember 2020 menjadi 31.098 kasus pada 15 April 2021.

Dari tambahan 15.798 kasus sepanjang awal tahun hingga 15 April, Banjarmasin adalah daerah yang paling besar ledakannya. Yaitu 4.312 kasus atau 27 persen dari jumlah kasus provinsi.

Bahkan Pada 1 sampai dengan 15 April, jumlah kasus baru yang disumbang Banjarmasin merupakan yang paling besar dengan proporsi 31% dari kasus provinsi.

“Daerah yang berdekatan dengan Banjarmasin juga mengalami pertumbuhan kasus yang tinggi,” sambungnya.

Berita Lainnya
1 dari 3.189

Ia menambahkan, sepanjang 15 hari pertama bulan April, penduduk Kalimantan Selatan yang dikonfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 3.214 orang.

“Jumlah ini lebih besar 541 kasus dibandingkan dengan situasi pada 1 hingga 15 Maret,” ujarnya.

Lebih luas, ia menambahkan, saat ini Kalimantan Selatan telah mengalami situasi paling berat pada bulan Maret lalu sepanjang pandemi. Namun kondisi pada bulan April berpotensi lebih buruk dari Maret.

Pertama laju pertumbuhan kasus 15 hari pertama April adalah paling tinggi. Ada 3.214 kasus positif di bulan April.

Kedua pengabaian masyarakat terhadap protokol kesehatan dalam menjalankan kegiatan ibadah di bulan Ramadhan dapat memicu penularan secara massif.

Kemudian, dalam periode yang sama, tercatat ada 3.171 penduduk yang dinyatakan sembuh dan 55 orang meninggal dunia.

Sedangkan penduduk yang masih dirawat di RS, karantina khusus atau pun isolasi mandiri pada 15 April ada sebanyak 2.862 orang.

Sehingga, ia menilai, situasi pandemi Covid-19 pada paruh pertama bulan April tidak menunjukkan penurunan penularan.

Bahkan kecepatan penularan semakin kencang dengan 210 kasus positif per hari, lebih tinggi dibandingkan kecepatan bulan Maret dengan laju 195 kasus per hari.

“Di tengah situasi pandemi yang “liwar banar”, penerapan protokol kesehatan adalah wajib untuk melindungi diri, keluarga dan lingkungan kita dari bahaya Covid-19,” tandasnya. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya