Ngaku Dibentak Aparat, Anggota Dewan Kalsel Protes ke Wakapolresta

Banjarmasin, KP – Sempat terjadi ketegangan antar pengguna jalan dengan aparat yang bertugas dalam sosialisasi pemberlakuan jam malam di pintu masuk utama Kota Banjarmasin, Rabu (5/5) malam.

Usut punya usut, pengguna jalan tersebut ternyata adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bernama Gusti Miftahul Chotimah, dari fraksi Partai Nasdem.

Ketegangan tersebut terjadi lantaran adanya intimidasi dari petugas yang berjaga di lokasi pengalihan arus lalu lintas arah ke luar kota, tepatnya di Jalan A Yani, Kilometer 5 depan kantor TVRI Kalsel.

Ia mengaku, saat di lokasi pengalihan arus tersebut dirinya mendapat intimidasi dari petugas yang berjaga.

“Sudah saya jelaskan kalau saya tadi pulang dari reses di Kabupaten Tanah Laut, makan sebentar lalu mau pulang ke rumah di Komplek Bunyamin II. Saya kasih lihat surat tugas dan kartu anggota. Tapi malah dibentak dan di suruh lewat jalan lain,” ungkap Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem itu pada awak media.

Merasa kartu dan ‘surat sakti’ miliknya tidak berguna untuk bisa masuk ke komplek tempat tinggalnya, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti arahan petugas. Yakni lewat Jalan Pramuka yang kemudian memutar balik ke arah masuk kota Banjarmasin.

Namun setibanya di pos pengalihan arus yang ada di pertigaan Kilometer Enam, dirinya kembali disuruh petugas mengambil jalan lain untuk bisa masuk ke komplek kediamannya.

Untuk diketahui, lokasi pintu masuk Komplek Bunyamin II tempat tinggal dari anggota DPRD Kalsel tersebut berada di tengah pengalihan arus lalu lintas oleh petugas gabungan.

“Kalau disini (pertigaan Km 6) juga tidak bisa lewat dan surat tugas juga tidak berlaku, harus pakai apa lagi supaya kami bisa pulang,” cetusnya.

Ia menjelaskan bahwa reses yang yang ia lakukan masih harus dijalankan sampai hari Minggu, sehingga pulangnya pun pasti di malam hari.

“Karena lokasi reses kami masih banyak, dan pulangnya bisa saja malam,” ujarnya.

Saat ditanya petugas mana yang membentaknya saat berada di penyekatan jalan depan gedung TVRI, Chotimah tidak membeberkannya secara jelas petugas mana yang dimaksudnya tersebut.

“Kayanya dari polisi deh, tapi saya tidak melihat jelas tadi,” bebernya.

Berita Lainnya

Mukhyar Apresiasi Keeksisan MB GPP

1 dari 2.972

Tak lama kemudian, datang salah satu anggota polisi yang menjelaskan bahwa wanita yang duduk di Dapil 7 (Kabupaten Tanah Laut dan Kota Banjarbaru) itu bisa melewati barier yang dipasang petugas untuk mengalihkan arus lalu lintas.

“Tapi kalau di sana ditutup lagi bagaimana?, soalnya disana itu yang bentak saya, saya merasa gak enak aja kalau seperti itu,” ucapnya pada anggota polisi tersebut sambil menunjuk ke arah penyekatan arus lalu lintas di depan gedung TVRI Kalsel.

Mendengar adanya warga yang mengeluh, Wakapolresta Banjarmasin. AKBP Sabana Atmojo langsung menjelaskan kepada anggota dewan kalau bisa saja masuk.

“Ini bukan ditutup, kalau mau masuk kota silahkan, tidak masalah,” kata Wakapolresta.

Namun, penjelasan orang nomor dua di wilayah hukum Kota Banjarmasin itu langsung dimanfaatkan Chotimah untuk mengadukan apa yang dialaminya.

“Saya cuma nggak suka dibentak di sana pak padahal sudah dijelaskan kalau saja baru pulang dari reses, saya ngerti dan taat aturan. Saya juga tidak akan menggunakan jabatan saya dengan semena-mena,” timpalnya.

Tak ingin adu argumen, Sabana pun akhirnya memutuskan menyudahi keributan dan meminta maaf kepada anggota dewan tersebut.

“Mohon maaf ya bu, mungkin ada sedikit kesalahpahaman saja,” imbuh Wakapolres.

Menanggapi kejadian itu, Sabana mengakui jika kondisi ketegangan terhadap pengguna jalan seperti halnya yang dialami pada anggota DPRD Kalsel tadi tidak bisa terhindarkan.

“Tapi kita tidak bisa menilai ini hanya dari satu sisi. Kalau memang ada salah dalam menjalankan tugas, kami mohon maaf. Yang namanya bertugas, kita tidak boleh marah,” tuturnya.

Menurutnya, jika kembali terjadi hal serupa, maka tugas aparat adalah untuk mengedukasi masyarakat dengan cara yang humanis dan bijaksana.

“Ajak bicara baik-baik, agar bisa dimengerti dan mau mengikuti arahan petugas. Saya yakin petugas tidak ada yang arogan,” bebernya.

Pasalnya, ia menambahkan, pihaknya sudah memberi pengarahan kepada seluruh petugas yang berjaga di penutupan agar bisa memberi penjelasan yang bisa diterima masyarakat.

“Mereka sudah diberi wejangan bagaimana cara berbicara dengan warga, termasuk siapa saja yang boleh lewat. Kita harus menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Tidak boleh arogan, harus humanis,” tutup Wakapolresta. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya