Lonjakan Kasus Tak Sejalan dengan Tracing

Ini jadi peringatan dini untuk masyarakat di Banjarmasin, karena yang terpapar Covid-19 sangat tinggi

BANJARMASIN, KP – Warga Kota Banjarmasin saat ini harus benar-benar waspada terkait penularan Covid-19. Pasalnya dalam beberapa hari ini, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Banjarmasin benar-benar melonjak tajam atau signifikan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin yang dirilis melalui akun instagram resminya, dalam kurun waktu tiga hari kebelakang, tercatat ada sebanyak 37 kasus baru ditemukan.

Disana terlihat ada Selasa (6/7/2021) yang lalu tercatat jumlah kasus Covid-19 aktif sebanyak 113 kasus. Kemudian para Rabu (7/7/2021) jumlah kasus aktif berjumlah 133 kasus.

Sedangkan per hari Kamis (8/7/2021) kasus aktif kembali mengalami penambahan, hal itu membuat jumlah warga Banjarmasin yang terkonfirmasi positif Covid-19 ini melonjak menjadi 150 kasus.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinkes Banjarmasin, Machli Riyadi pun membenarkan bahwa kasus Covid-19 di Banjarmasin kembali meningkat tajam.

“Memang ada peningkatan dan kita tidak memungkiri itu. Ada lonjakan yang sangat signifikan,” ucapnya saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon, Jumat (9/7) siang.

Pria dengan sapaan Machli itu menerangkan kondisi ini seyogyanya menjadi ‘alarm’ bagi warga Banjarmasin, tentang bahayanya penularan Covid-19.

“Ini jadi peringatan dini untuk masyarakat di Banjarmasin. Karena yang terpapar Covid-19 sangat tinggi,” jelasnya.

Meskipun terjadi lonjakan kasus Covid-19, namun Machli tidak menampik bahwa hal itu juga diiringi dengan adanya kesembuhan.

“Tapi jumlah yang sembuh ini, jumlahnya kalah dengan jumlah tambahan kasus baru,” tandasnya.

Untuk itu Machli lagi-lagi mengimbau agar warga Banjarmasin bisa lebih disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Kemudian, sebagai langkah konkret penanganan pandemi. Pihaknya juga tengah gencar mengadakan vaksinasi. Machli menyebut, dalam sehari sebanyak 26 Puskesmas di Kota Banjarmasin setidaknya ditargetkan memvaksin sebanyak 3.200 orang.

“Itu upaya kami agar terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok di masyarakat,” tambahnya.

Di sisi lain. Tingginya angka kasus terkonfirmasi positif umumnya juga disebabkan lantaran gencarnya testing yang dilakukan.

Terkait hal itu, Machli menjelaskan bahwa testing memang digencarkan melalui rapid test antigen maupun swab. Dalam sehari saja, pihaknya bisa melakukan testing sebanyak 50 sampai 100 orang perhari.

Bahkan mantan Wadir Administrasi RSJ Sambang Lihum itu mengklaim bahwa testing yang dilakukan pihaknya sudah melebihi standar yang ditetapkan “Testing kita melebihi standar WHO,” klaimnya.

Namun, upaya testing yang dilakukan Satgas Covid-19 Kota Banjarmasin, menjadi catatan Anggota Tim Pakar Covid-19 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Hidayatullah Muttaqin.

Ia menilai, meski jumlah testing di Kota Banjarmasin sudah memenuhi standar WHO yakni minimal tes 1/1.000 penduduk per pekannya. Namun, dari hasil tes yang dilakukan juga menunjukkan masih tingginya tingkat penularan yang terjadi.

Berita Lainnya
1 dari 3.257

Sebagai gambaran, ia menjelaskan, data jumlah tes per pekannya di Kota Banjarmasin, pada tanggal 7 Juli mencapai 2.121 kali. Hanya saja tingkat angka positivitasnya juga bertambah yakni sebanyak 25,7 persen.

Padahal dua pekan sebelumnya, atau 24 Juni lalu tingkat positivitas di Kota Banjarmasin masih berada di titik 14,35 persen.

Sementara bila mengambil patokan kriteria WHO, tingkat penularan bisa dikatakan rendah jika dalam dua pekan berturut-turut angka positivitasnya 5 persen ke bawah.

“Maka di tengah penularan yang sedang masif ini jumlah testing harus digenjot sebanyak-banyaknya dan tidak dibatasi oleh standar minimal 1/1000 penduduk per minggu,” sarannya.

Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan. Ia menilai, tes sebanyak-banyaknya diperlukan untuk memastikan seorang warga telah terinfeksi Covid-19 atau tidak.

“Sehingga jika ada yang positif maka segera dilakukan tindakan isolasi untuk mencegah warga tersebut menjadi pembawa virus ke warga lainnya,” ucapnya.

Kemudian, yang juga perlu menjadi catatan yang tak kalah penting lainnya, yakni perihal keberhasilan testing yang sangat tergantung pada upaya tracing atau pelacakan terhadap orang-orang yang pernah dekat dengan orang yang diduga menderita penyakit menular.

Artinya, jika pelacakan masih rendah, maka penduduk yang berpotensi telah tertular dari orang yang sudah dinyatakan positif, sangat mungkin menjadi pembawa bibit virus di masyarakat.”Terulang begitu seterusnya sehingga pertumbuhan kasus pun bersifat eksponensial,” bebernya.

Muttaqin pun lantas mengutip data asesmen situasi Covid-19 Kemenkes RI untuk Kota Banjarmasin, per 7 Juli. Di situ, diketahui, bahwa bahwa hasil penelusuran kontak erat per pekannya sangat minim. Hanya mencapai 0,14 orang.

Artinya, hampir bisa dikatakan tak ada penelusuran. Atau lebih sederhana, kasus positif, menurutnya hanya didapat dari adanya orang yang melapor atau yang memeriksakan diri lantaran bergejala.

“Padahal, tracing baru bisa dikatakan memadai jika rasio kontak erat mencapai 15 orang ke atas,” jelasnya.

Lebih lanjut. Muttaqin pun berpesan agar pemerintah tidak alergi dengan banyaknya melakukan pelacakan. Bahkan, dengan melonjaknya kasus terkonfirmasi positif.

“Itu prestasi bagus. Dengan begitu potensi penularan yang lebih besar dapat dicegah, karena yang terinfeksi cepat terdeteksi sehingga bisa segera diisolasi,” sarannya.

Menanggapi persoalan pelacakan yang masih kurang, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Banjarmasin, Machli Riyadi tak menampiknya.

Pihaknya mengaku tengah menghadapi kendala lantaran ada perubahan kewenangan pelacakan. Bila sebelumnya tracking dan tracing dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) kini sudah tidak ada lagi.

“Dari kemenkes, yang menangani tracking dan tracing itu diserahkan kepada pihak Babinsa atau Bhabinkamtibmas,” ucapnya.

Ia pun menjelaskan, perubahan kewenangan juga membuat pihaknya tak lagi bisa merekrut orang-orang untuk melakukan tracing.

“Dulu kami umumnya merekrut tenaga kesehatan (nakes) dan pendanaannya bersumber pada APBN. Tapi di tahun 2021, hal itu tak lagi dilakukan. Ada perubahan peraturan. Jadi sebaiknya, pertanyaan itu ditanyakan ke Babinsa atau Babinkamtibmas saja,” sarannya.

Namun terlepas dari adanya perubahan kewenangan itu, dari hasil analisa yang dilakukan pihaknya, lantaran kasus yang terkonfirmasi sedikit, maka kontak erat yang ditemukan dari hasil tracing pun memang sangat sedikit.

“Artinya, memang kasus kita yang tidak banyak,” klaimnya lagi. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya