BANJARMASIN, Kalimantanpostt.com – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya memunculkan keluhan masyarakat, tetapi juga memantik diskusi serius dari berbagai kalangan. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Interaktif bertajuk “Listrik Tak Boleh Mati Lagi” yang digelar di Gedung Kalimantan Post pada Rabu (16/7/2026).
Forum tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari unsur Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, DPRD Kalsel, PLN, Kadin Kalsel hingga Pemerintah Kota Banjarmasin untuk mencari solusi bersama atas persoalan yang belakangan menjadi perhatian publik.
Menariknya, diskusi tersebut dipandu oleh politikus senior Kalimantan Selatan sekaligus mantan anggota DPRD Kota Banjarmasin, Sukhrowardi, yang berupaya menjaga jalannya dialog tetap fokus pada solusi dan kepentingan masyarakat.
Sejak awal diskusi, Sukhrowardi menegaskan bahwa persoalan listrik tidak bisa dipandang sebagai persoalan teknis semata. Baginya, listrik saat ini telah menjadi kebutuhan dasar yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
“Listrik hari ini bukan lagi sekadar soal lampu menyala atau tidak, aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik hingga kehidupan rumah tangga semuanya sangat bergantung pada ketersediaan listrik yang stabil,” ujarnya.
Menurutnya, pemadaman yang terjadi selama beberapa pekan terakhir telah memberikan dampak nyata terhadap masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan menengah yang mengandalkan listrik untuk menjalankan aktivitas produksinya.
Selain menimbulkan kerugian ekonomi, masyarakat juga dihadapkan pada risiko lain seperti kerusakan peralatan elektronik, terganggunya aktivitas belajar anak-anak hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi bahaya kebakaran akibat gangguan kelistrikan.
Sukhrowardi menilai forum diskusi semacam ini penting untuk menghadirkan ruang komunikasi yang sehat antara masyarakat, pemerintah daerah, DPRD dan PLN agar setiap persoalan dapat dibahas secara terbuka dan menghasilkan solusi yang konkret.
“Kita tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana semua pihak bisa duduk bersama dan menemukan jalan keluar terbaik agar kejadian seperti ini tidak terus berulang,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi kepada masyarakat, terutama berkaitan dengan penyebab gangguan maupun jadwal pemadaman apabila memang diperlukan untuk kepentingan pemeliharaan jaringan. Menurutnya, komunikasi yang baik akan membantu masyarakat melakukan antisipasi dan mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Sebagai moderator, Sukhrowardi turut mendorong seluruh narasumber yang hadir untuk tidak berhenti pada penjelasan teknis semata, melainkan menghadirkan langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat dalam waktu dekat maupun jangka panjang.
Di akhir diskusi, ia berharap pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ruang bertukar pandangan, tetapi juga melahirkan komitmen bersama dalam memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Kalimantan Selatan.
“Kita semua memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan listrik yang baik, aman, dan berkelanjutan, karena pada akhirnya, listrik menyangkut hajat hidup orang banyak,” pungkasnya. (nug/KPO-3)















