Oleh : Haniffah Sri Rinjani
Mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Universitas Sari Mulia
Pernah mendengar Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan? Teknologi ini sering kali dianggap akan menggantikan pekerjaan manusia. Padahal Artifical Intelligence memberi banyak manfaat bagi manusia. Teknologi ini menjadi penting di era Revolusi Industri 4.0. Hal pertama yang dipikirkan oleh orang saat mendengar istilah AI adalah robot. Perkembangan teknologi informasi diera modern dan serba digital, mempengaruhi setiap sendi-sendi kehidupan sehingga dalam hal ini perlu dipahami dalam kehidupan, kita tidak perlu menentang perkembangan teknologi khususnya dalam bentuk komunikasi.
Tetapi kita harus berpikir bagaimana untuk bisa memanfaatkan teknologi komunikasi secara cerdas. Berkembangnya teknologi ialah bukti daripada hasil perkembangan pemikiran manusia. Artificial Intelligence (AI), merupakan kecerdasan buatan dari pola pikir manusia yang memanfaatkan teknologi untuk mensimulasikan kecerdasan manusia sehingga komputer atau mesin dapat memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih cerdas dan manusiawi.
Kecerdasan buatan (AI) membuat mesin untuk belajar dari bermacam pengalaman, serta menyesuaikan input-input baru dan melaksanakan tugas seperti manusia. Contoh AI yang mungkin belum anda ketahui ini seperti, komputer yang bermain catur, hingga mobil yang mengendarai sendiri. Dalam kecerdasan buatan ini sangat mengandalkan pembelajaran mendalam dan pemrosesan bahasa alamiah. Seperti yang diketahui fenomena banjir yang sering dilihat memberi dampak buruk pada kehidupan ini. Bahkan bencana alam banjir merupakan salah satu masalah yang bisa menelan korban jiwa.
Di era digitalisasi bisa berpikir dengan memanfaatkan suatu kecerdasan buatan (AI) sebagai bentuk pemecahan masalah atau solusi dalam menanggapi fenomena alam ini. Untuk beberapa kasus, pemanfaatan kecerdasan buatan bisa mengurangi jumlah korban jiwa. Banjir adalah salah satu bencana alam yang cukup serius, Kecerdasan buatan bukan untuk melawan alam, tetapi lebih mengurangi korban jiwa (Senior Software Engineer Google Sella Nevo).
Program kecerdasan buatan (AI) dalam memberi solusi pada bencana banjir ini berdasarkan hasil google yang memulai proyek di India lewat program Google Flood Forecasting Initiative. Program ini menggunakan alat pengukur kedalaman air di sungai dan simulasi 3D, yang mampu menampilkan proyeksi aliran sungai. Senior Software Engineer Google Sella Nevo menyebutnya sebagai model simulasi Hydraulic.
Simulasi ini menampilkan prediksi aliran sungai saat akan meluap. Maka dari sini akan terlihat daerah mana saja yang akan terdampak, sekaligus mencari tempat evakuasi yang paling aman untuk masyarakat. Kecerdasan buatan di sini berperan sebagai sistem yang mampu memprediksi banjir, semacam ramalan banjir. Sebenarnya, sudah ada beberapa teknologi yang bisa mengurangi korban jiwa akibat banjir, tanpa kecerdasan buatan. Namun akan banyak tantangan tanpa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Tantangan utama jika kita tidak memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), resolusi gambar yang rendah, sehingga sulit mengetahui lokasi sunga i yang akan meluap. Tantangan berikutnya adalah topografi wilayah yang terus berubah. Citra satelit juga punya peran, tetapi harganya cukup mahal. Hasil daripada program yang Google kerjakan yaitu menciptakan peta elevasi, dengan data berasal dari Google Earth. Dengan begitu, topografi wilayah bisa tergambar secara detail dalam simulasi, dari tanah sampai bangunan.
Hasil prediksi tersebut bisa langsung disampaikan ke publik dengan menggandeng pemerintahan setempat lewat SMS atau akun media sosial lainnya. Simulasi ini bisa memprediksi banjir yang berasal dari sungai atau pinggir pantai. Sementara ini, Google tengah fokus mengembangkan AI untuk prediksi banjir yang berasal dari sungai.
Google Sella Nevo menyebutkan Indonesia masuk dalam daftar prioritas, Dalam perkembangan program pembentukan AI dalam antisipasi mengurangi korban bencana banjir, harus didukung agar dari pihak pembuat sistem lebih semangat dan menghasilkan produk kecerdasan buatan yang berinovasi tinggi. Sistem dengan kecerdasan buatan (AI) cenderung bekerja lebih cepat, akurat dan minim kesalahan yang diakibatkan oleh kelelahan atau juga kecerobohan. Sehingga kecerdasan buatan (AI) yang dihasilkan akan memiliki banyak dampak baik seperti meningkatkan efektivitas kerja.
Berdasarkan hasil studi Microsoft dan IDC Asia/Pasifik tentang adopsi AI di negara Kawasan Asia Pasifik (APAC), Future Ready Business: Assessing Asia Pacific’s Growth Potential Through AI, ada tiga keterampilan untuk masa depan yang dibutuhkan oleh para pemimpin bisnis di Indonesia, yaitu: keterampilan analitis, kewirausahaan dan keterampilan mengambil inisiatif, dan keahlian dan pemrograman di bidang Teknologi Informatika. Saat ini, permintaan akan keterampilan tersebut lebih tinggi daripada suplai yang ada.
Namun terlepas dari dampak positif kecerdasan buatan (AI) pasti ada juga dampak negatifnya yaitu dimana banyak pekerjaan akan dilakukan oleh mesin dengan kecerdasan buatan, dan dikhawatirkan akan menggeserkan tenaga kerja manusia yang nantinya menyebabkan tingkatnya pengangguran. Keberadaan mesin dengan kecerdasan buatan (AI) dapat memperbesar kesenjangan sosial. Dimana para investor juga perusahaan artificial intelligence akan meraup banyak keuntungan, sedangkan masyarakat yang digantikan kerjanya oleh mesin akan mengalami kerugian dan kemiskinan.
Menurut laporan dari IDC, adopsi Artifical Intelligence di Indonesia sudah mencapai 24,6 persen yang dimanfaatkan oleh sejumlah industri. Artificial intelligent yang dapat beradaptasi, dinilai menakutkan karna bisa saja sampai pada tahap mereka tidak memerlukan manusia lagi sebagai master mereka. Dengan kata lain, mesin dengan kecerdasan bisa saja mengabaikan perintah maupun kontrol yang diberikan manusia dan berjalan sesuai kehendaknya sendiri (Silmi Nurul Utami & Serafica Gischa). Namun terlepas dari itu, kita selalu mengharapkan sesuatu akan lebih baik jika berimbang, dimana kita dapat memanfaatkan dan menggunakan suatu teknologi dengan baik dan teknologi memberikan suatu hal yang baik pula.














