Oleh : AstiaPutriana, SE, MSA
Pegiat Pena Banua, Aktivis Dakwah, Akademisi
Apakah uang tiga ribu rupiah masih sanggup untuk membeli sebungkus tempe? Hanya ada dua kemungkinan jawaban. Pertama tidak lagi, kedua masih mampu tapi ukuran tempenya semakin kecila? Dan percayakah bahwa dikatakan adanya kondisi El Nina di Kawasan Amerika Selatan menjadi salah satu bagian dari penyebabnya? Where is the correlation?
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi angkat bicara mengenai soalan naiknya harga kedelai di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya ada tiga alasan, yakni kondisi El Nina di Amerika Selatan yang menyebabkan curah hujan tinggi, sehingga produksi kedelai terganggu, diborongnya kedelai oleh importir China yang digunakan sebagai pakan babi, hingga sulitnya mencukupi kebutuhan kedelai dari pasokan domestik.
Tentu para pengrajin tahu amat resah dengan kondisi ini, tak terkecuali di rumah produksi tahu Gang Surga di Teluk Dalam Banjarmasin. Biasanya rumah produksi ini mampu membeli kedelai dengan harga Rp9.500 per kilogram, kini sudah menyentuh angka Rp12.000. Suatu lonjakan yang ekstrem dengan selisih kenaikan hampir sepertiga harga. Tentu para pengrajin dilemma, apakah harus terus menyesuaikan harga atau justru menyesuaikan ukuran. Penyesuaian harga atau ukurannya akan mendatangkan protes dari para pembelinya.
Di berbagai kota besar lainnya semisal di Depok, para pedagang menggelar aksi mogok produksi selama tiga hari dengan menggelar aksi unjuk rasa dalam bentuk aksi teatrikal. Mereka menumpuk drum yang biasa digunakan untuk merebus kedelai dan menggelar kerei yang biasa digunakan untuk menyusun tempe sebagai bentuk protes. Kekecewaan mereka sangat memuncak karena merasa pemerintah abai, bahkan tutup mata dalam memperhatikan nasib mereka.
Menyikapi soalan ini setidaknya terdapat kesimpulan awal yakni Indonesia sangat bergantung pada kedelai impor. Dua alasan pertama yang telah dipaparkan setidaknya sudah memberi petunjuk jawaban atas hipotesa sederhana ini. Selama ini pengrajin tahu memang mengandalkan dua macam jenis kedelai, yakni lokal dan impor. Selamaitu pula jika ada kenaikan harga kedelai local tidak terlalu signifikan karena hanya factor menunggu panen. Namun jika sudah menyangkut kedelai impor kenaikan harga bisa jauh melambung bahkan tanpa bisa diketahui pasti penyebabnya.
Inilah ironi negeri agraris, ketika sebagian besar bahan pokok semisal kedelai justru diimpor dari luar negeri. Rupanya, alihfungsi lahan yang semakin masif menyebabkan minimnya produksi kedelai. Belum lagi minimnya subsidi pupuk dan bibit bagi para pengrajin melahirkan rasa enggan bagi petani untuk produksi kedelai secara mandiri. Karena jika dijual harganya pun kalah telak bersaing dengan kedelai impor yang memiliki kualitas tinggi karena diproduksi secara canggih berteknologi mutahir.
Sebuah persoalan lama memang terkait dengan harga kedelai ini, dan sayangnya masih tak kunjung selesai hingga bertahun-tahun. Pemerintah dengan segudang data yang dimiliki semestinya sudah mengetahui bahwa tahu tempe sebagai pengganti sumber protein hewani -yang relatif mahal- adalah sudah menjadi pilihan utama dapur keluarga demi memenuhi gizi dan ketahanan ekonomi rumah tangga. Bahkan pemerintah sudah seharusnya menganalisis terkait solusi yang mampu mengatasi persoalan ini.
Beginilah konsekuensi ketika hidup di bawah sistem kapitalisme yang menjebak penguasa untuk bekerja demi kepentingan golongan tertentu. Bukannya memilih solusi fundamental sistem namun pemerintah lebih senang menggunakan solusi praktis dengan membuka keran impor kedelai. Sudah menjadi rahasia umum banyak importir yang diuntungkan sehingga menjadi aral rintang dihentikannya impor. Maka mandiri secara ekonomi atau paling minimal independent dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sepertinya masih jauh dari harapan.
Persoalan sistemik maka haruslah disolusikan dengan solusi sistemik dengan ide dasar yang sistemik pula. Islam merupakan mabda (ideologi) yang memancarkan darinya seperangkat aturan, tak terkecuali tata kelola pemerintahan dan ekonomi. Islam melarang dengan keras adanya ketergantungan terutama pada negara kafir yang secara terang-terangan memusuhi Islam dan menjegal kejayaan Islam. Karena ketergantungan merupakan awal kehancuran diakibatkan tingginya intervensi asing. Khalifah haruslah hadir sebagai pelindung umat, penjamin ketahanan pangan dan pengatur kebutuhan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (khalifah) raa’in (pengurus hajat hidu prakyat) dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya”. (HR Muslim dan Ahmad)
Solusi fundamental yang akhirnya muncul adalah kewajiban untuk berlepas diri dari ketergantungan asing terhadap hajat hidup masyarakat, karena Indonesia sejatinya memiliki lahan yang sangat besar dan subur. Lahan ini haruslah dihidupkan dengan intensifikasi produktivitas lahan yang ada dan ekstensifikasilahan yang belum diolah untuk dihidupkan, tentu ini sangat berpeluang membuka lapangan pekerjaan pula. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian juga tak kalah penting agar tak muncul lagi alasan impor karena tak mampu secara teknologi dalam negeri. Melihat intensnya berbagai perguruan tinggi membuka berbagai program studi teknologi pertanian dan meluluskan banyak intelektual serta ilmuan muda yang cerdas, tentu hanya perlu stimulus besar dan modal pemerintah untuk mampu merealisasi hal ini.
Terakhir solusi pamungkas Islam adalah dengan menjaga secara adil dan merata distribusi pangan agar tidak terdapat mafia penimbun barang sehingga menyebabkan kekacauan harga di pasar. Transformasi fundamental ini tentu saja perlu melibatkan penyangga dari sistem ekonomi dan politik yang kuat melalui sebuah negara yang menjadikan akidah Islam sebagai asas bernegara yakni khilafah sesuai dengan jalan yang dicontohkan Nabi. Wallahua’lam bis shawab














